Archive for August 23rd, 2007


Published August 23rd, 2007

BELAJAR ROMANTIC INTELIGENCE DARI SEORANG SAHABAT

JUDUL BUKU        : Diary Pengantin Baru – Romantic Intelligence

PENULIS                : Deni Nurhayati, SH

PENERBIT             : Read! Publishing House

KET BUKU              : Sampul Hardcover, 180 halaman, 19.5 cm 

Waktu pertama kali melihat buku ini diantara jajaran rak buku di Gramedia, saya merasa langsung jatuh cinta (bc : berniat membeli tanpa memeriksa harganya terlebih dulu… hehehehe). Alasannya sederhana, saya suka warna biru sampulnya dan judul buku ini membuat saya penasaran. (more…)

Published August 23rd, 2007

DIA hadirkan lagi “seseorang yang istimewa” kepada kami

Masih ingatkah kejadian menghebohkan beberapa tahun lalu?. Ketika seorang bapak menggendong anak perempuannya yang sudah meninggal di dalam KRL tujuan Bogor?. Karena si Bapak yang seorang pemulung itu tak mampu membayar uang sewa mobil ambulance, maka beliau memilih untuk membawa anaknya dengan cara digendong.
Banyak pihak yang menyayangkan pihak rumah sakit yang tidak mau menolong si Bapak. Banyak pula yang lalu bersimpati kepada Bapak pemulung dan keluarganya, bahkan akhirnya ada orang yang mau memberi rumah dan pekerjaan kepada pemulung itu. Syukurlah kalau happy ending. (more…)

Published August 23rd, 2007

CERPEN : BERANTEM (3)

isi sms dari Nisa : (more…)

Published August 23rd, 2007

Serbahuta

Merbau;kota kecil yang terletak di kabupaten Labuhan Batu Sumatra Utara  .  Di kota yang pantas disebut desa inilah Mala dan Gulmat mulai mengenyam pendidikan SD di pagi hari hingga siang dan sore harinya sekolah Arab (sebutan sekolah Madrasah).

Merbau dilewati oleh sungai Asahan yang besar dan dalam. Di sungai ini  banyak terdapat  ikan baung besar, ikan kaloi besar dan ikan pahitan yang banyak durinya.  Mala dan Gulmat  suka memancing ke sungai kalau sekolah Arab libur hari Jumat sore. Mereka  memancing dengan pancing buatan sendiri dari  ranting pohon  bambu   dan umpannya cacing tanah.

Membuat pancing dan memasang umpan dipelajari dari bang Musyiran seorang pekerja  di kilang padi milik Pak Abduh: ayah mereka. Bang Musyiran mengajari memilih batang bambu yang cocok untuk  mancing, ia juga mengajari Mala agar jangan takut dengan cacing.

Kilang padi  terletak diluar kota Merbau,  di jalan menuju kota Simpang Empat dan arah ke Brusel tempat  produksi minyak kelapa sawit dan kebun sawit.  Di sekeliling kilang banyak pohon durian, sirsak, kelapa, ubi, papaya, tebu, kangkung  dan pohon cengkeh Zanzibar.

Suatu hari disaat usia Mala  9 tahun dan Gulmat adiknya 8 tahun,  mereka  hendak pergi memancing ke sungai yang terletak di belakang kilang padi,  sebelum pergi keduanya diingatkan oleh orang tuanya;  jangan main sampai jauh-jauh. Bang Musyiran dan teman-temannya juga memperingatkan agar mereka jangan pergi jauh dari daerah  kilang. Tentu saja kedua anak tersebut  mengiyakan semua perintah mereka, supaya diijinkan mancing berdua saja tanpa harus ditemani bang Musyiran.

Sesampainya  di sungai, langsung mereka  memilih tempat memancing di bawah pohon rindang yang menjorok ke tepi sungai, dari bawah pohon itu Mala dan Gulmat  memancing.  Lama menunggu pancingan belum ada ikan yangkut,  padahal mereka berdua sudah berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun, sunyi senyap dan hanya terdengar riak saluran air sungai di sore hari itu.

Bosan menunggu pancingan dan  tidak dapat seekorpun, akhirnya Mala dan Gulmat sepakat  memutuskan pergi keluar daerah kilang. Mereka  pulang ke rumah meletakkan alat pancing, rumah  terletak di sebelah kilang. Dengan jalan mengendap-endap  kedua anak kecil itu  pergi ke jalan besar, kami berjalan menuju hutan ke arah Simpang Empat.

Rumah Mbah Siti tetangga Pak Abduh  sudah dilewati, rumah Wak Uteh juga dilewati,  tibalah mereka  di hutan rimbun yang banyak ditumbuhi oleh pohon karet, dan pohon-pohon besar lainnya, diatas pohon besar itu ada banyak lilitan rotan,  pohon durian hanya ada 2 pohon besar, selainnya pohon pakis kecil yang bisa dimakan dan pakis hutan serta jenis pohon yang tidak  kenal  namanya.

Tiba-tiba Gulmat melihat di dalam hutan tersebut ada pohon rukam yang ranum buahnya, di sebelahnya juga ada pohon buah  langsat dan kaget juga Mala  menemukan ada pohon buah manggis.

“ Ayo kita ambil buah rukam yang hitam-hitam itu” kata Gulmat, “ inikan pohon di hutan mana ada yang punya, nanti kita makan di jalan jadi ayah dan mamak tidak tahu kita masuk ke hutan”.  Mala agak takut masuk jalan terus menuju ke pohon rukam yang rindang besar dan tinggi,  karena adik laki-lakinya sudah maju duluan ia terpaksa mengikuti dari belakang.

“ Hey, hei kalian mau apa kemari?” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita mengejutkan  dari arah  depan dekat pohon rimbun besar sekali ,  jaraknya hanya beberapa meter dari pohon rukam.  Gulmat  menjawab dengan tenang” Kak, kami kemari cuma mau ambek sikit buah rukam itu nyoh,  kami capek mancing tadi tak dapat ikan, rukamnya banyak dan kami mau ambek sikit buat makan di jalan pulang ke rumah”.

Mala  hanya mendengar percakapan adiknya dengan suara wanita yang tak tampak batang hidungnya,   memang ia tidak melihat tubuh wanita yang berbicara itu. 

“ Kalau begitu kalian mau ikut aku?” kata suara wanita itu selanjutnya.

“ Aah kakak sudah sore kali ini sudah mau maghrib pula, nanti kami dicari ayah, lain kalilah kami ikut kakak ya” balas Gulmat atas ajakan wanita itu.

Tiba-tiba Mala menarik tangan adiknya dan berujar “ ayo kita  cepat  pulang”,   berdua membalik badan dan balik arah keluar dari hutan tersebut dan keduanya berlari sekencang-kencangnya. Mereka  lari menuju jalan aspal. 

Terengah-engah akhirnya mereka  sampai kembali di jalan aspal,  berhenti sebentar lalu  lari lagi pulang menuju arah rumah. 

Di depan kilang  padi  sudah nampak Pak Abduh  berdiri menunggu anak-anak itu , ada juga bang  Musyiran, Bu Abduh  dan adik mereka  yang masih kecil.  “ Dari mana saja kalian berdua,  mamak mencari kalian supaya makan durian dan pulut (ketan)” kata Pak Abduh  nampak bingung.

“ Ayah, kami tadi masuk ke hutan Serbahuta,   disana kami masuk ke dalam-dalam,  kami tengok ada banyak pohon buah-buahan;  ada rukam, langsat dan manggis” kata Mala  pada ayahnya .  “ lalu ada suara perempuan yang nanya kami mau apa disana, dan dia juga mengajak kami ikut dia yah” lanjutnya memberi laporan pada semuanya. 

“ Tapi, karena ingat cerita Wak Uteh dulu,  jadi kutarik tangan  adek supaya lari pulang cepat keluar hutan” kata Mala lagi.

“ MasyaAllah !  jadi kalian jumpa sama orang bunian di Serbahuta itu” kata Bu Abduh dengan mata terbelalak. “ Untung saja kalian enggak ditangkapnya dan dibawa  masuk ke dunianya, kalau kalian mau ikut … entah apa jadinya”.

Wak Uteh tetangga mereka pernah cerita pada keduanya,  di hutan Serbahuta banyak berdiam orang bunian,  suara-suara orang bunian sering terdengar, seperti ada suara anak menangis, suara orang menumbuk padi dan suara-suara lainnya. Wak Uteh menerangkan kalau jumpa wanita yang bibirnya rata  tidak ada garis belahan dibawah hidung,  maka jangan dekat-dekat, wanita itu  orang bunian penghuni  Serbahuta.


Megara, 23 Agustus 2007