Published March 17th, 2008
cerpen- Kupinang Kau Yang Kaya
Tasban Koncer tersenyum di kios tempat dia biasa memperbaiki sol sepatu orang-orang. Bagi lelaki dengan usia 40 tahun mungkin saat ini masih sibuk menimang-nimang anak keduanya. Tetapi bagi Tasban Koncer tidak. Belum pernah seorang pun wanita yang mampir hadir dalam hatinya mengajak membina rumahtangga. Predikat bujang lapuk kini mendekati deadline dalam kehidupannya. Ketika seorang teman menawarkan kepadanya wanita yang bisa dikawininya setelah sekian tahun pergi dari tanahnya di Pekanbaru Riau. Hidup mengelana baginya sudah biasa. Terakhir bekerja di Weleri sebagai buruh bangunan memaksanya bertahan hidup di perantauan. Begitu kontraknya habis, kembali Tasban Koncer menjalani hari-harinya sebagai pengembara yang tak tahu harus tidur dimana. Masuk dari satu masjid ke masjid lain. Itu saja karena takmir mengusir agar tidak tidur di dalam masjid. Hingga suatu ketika Tasban Koncer bertemu dengan Iskandar seorang tukang pijat di Semarang. Melalui Iskandarlah Tasban Koncer akhirnya mendaratkan pengembaraannya di kios pijat Iskandar sebagai tukang sol sepatu. Liku kehidupannya itulah yang membuat Tasban Koncer berambisi memiliki sebuah rumah sendiri. Namun semua itu baginya hanyalah mimpi. Bekerja sebagai tukang sol sepatu dengan penghasilan ala kadarnya memupuskan harapannya.
Tasban Koncer tampak gembira menyadari kesengsaraan hidupnya segera berakhir. Seorang teman menawarkannya seorang wanita. Bukan wanita tersebut yang membuat Tasban Koncer sumringah mengingat wajah wanita yang ditawarkan tidaklah rupawan. Iming-iming bahwa Tasban Koncer akan mendapatkan sebuah rumah dengan mengawini wanita tersebut yang melatarbelakangi Tasban Koncer tersenyum terus berhari-hari. Tak mengapa mendapatkan istri tak rupawan asalkan mendapatkan rumah.

