Archive for March 20th, 2008


Published March 20th, 2008

cerpen- Patung itu…

Patung Ganesha dari batu berumur 5000 tahun dari masa kerajaan Majapahit yang laku 28 Juta rupiah itu kini dikabarkan telah raib dari pemiliknya. Muncul seribu pertanyaan dan jawaban akan berita tersebut. Polisi dikerahkan untuk mencari benda paling berharga yang memecahkan rekor dunia peninggalan kuno termahal itu. Namun tiada yang menyangka bila benda tersebut kini berada di hadapanku. Sebuah patung mungil dengan tinggi 15 sentimeter dengan bentuk kepala gajah dan badan manusia. Orang-orang menyebutnya patung ganesha. Salah satu dewa ilmu pengetahuan dalam kepercayaan umat Hindhu. Patung itu dipahat dengan ketelitian luar biasa karena tiada cacat sedikitpun di tiap lekukannya. Lama kupandang patung tersebut sekedar mencari bagian yang membuat harga patung ini mahal. Aku tak tahu kapan dan berapa lama patung ini berada dalam kamarku. Aku hanya tahu bahwa sekarang patung yang dibeli Mr. John Smith dengan harga 28 juta rupiah yang dikabarkan hilang itu kini ada di hadapanku. Apakah aku yang telah mengambil patung itu dari tangan Mr.John Smith? Oh…mengapa aku tidak menyadari bahwa aku ternyata seorang pencuri, tapi…kapan aku melakukannya?. Tidak seharusnya patung ini berada di rumahku atau di rumah orang-orang kaya manapun. Patung sebagai peninggalan sejarah ini layaknya berada di museum. Jika patung ini menjadi koleksi orang-orang tertentu saja, anak-anak pasti tidak akan pernah mengenal keberadaan sejarah mereka. Segera aku berlari keluar untuk menyerahkan patung ini kepada polisi. Apapun yang terjadi aku harus berani menyerahkannya.

bingung….belum ada lanjutannya

Published March 20th, 2008

AIR MATA AMANDA

Belakangan ini Amanda lebih banyak berkurung diri dalam kamar belajarnya, sepertinya dia sudah lupa akan kebiasaan hari-hari yang selalu dilaluinya dengan riang.  Teman-teman sepermainan Amanda banyak yang  kecewa tidak menemukan sosok ceria ini bersama dalam keseharian mereka.  Ayah dan ibu Amanda sangat mengkhawatirkan keberadaannya, betapa dirinya telah mengurung diri selama hampir seminggu tanpa putus.  Tanaman bunga kesayangan Amanda sudah nampak mengering tanahnya.  Kebiasaan Amanda tiap sore hari selalu tidak lupa menyapa bunga-bunga tersebut dan menyiraminya dengan air cinta.  Meja makan juga kehilangan keriangan dan kehangatan cintanya.  Amanda tidak peduli betapa dirinya juga tidak mematut diri  atau sekedar menyapukan ulasan bedak pada pipinya yang ranum.  Duh Amanda, apa yang terjadi denganmu. 

Dari semua yang sangat berharap pintu kamar belajar Amanda terbuka adalah Mirna, sang adik tercinta.  Setiap saat matanya selalu tak lepas dari daun pintu yang rapat tertutup.  Beberapa kali tangannya tak tahan untuk mengetuk pintu kamar tersebut.  Mirna yang baru duduk di bangku taman kanak-kanak merupakan adik bungsu kesayangan Amanda.  Setiap kali Mirna memprotes kepada ibunya terhadap kenapa kak Amanda tidak boleh diganggu.  Semua penjelasan yang diberikan Ibunda tak pernah menjawab keingintahuan gadis jelita ini. 

Di dalam kamar belajar, Amanda nampak serius di depan sketsa gambar proyek penelitiannya yang akan diujikan pada hari sabtu pagi besok hari.  Amanda hanya seorang diri ditemani beberapa kemasan soft drink kosong di meja belajar.  Gambar dengan goresan-goresan sangat kuat menunjukkan karakter Amanda seorang gadis yang kuat kepribadiannya dan sangat pantang untuk menyerah, hasil didikan ayahanda tercinta penyandang bintang di bahunya. Beberapa kali Amanda melangkah mundur beberapa langkah dan melihat hasil kerja lembur selama hampir seminggu penuh.  Kepalanya mengangguk-angguk tanda kepuasan atas maha karya di akhir tugasnya sebagai mahasiswa arsitektur taman.  Tetapi beberapa kali juga Amanda menggeleng tak puas atas beberapa sudut sketsa.  Sebenarnya gambar Amanda selalu terbaik di kelasnya.  Jadi jika saja Amanda mau berhenti atas karya pertamanya, yang sudah bisa dipastikan hanya memerlukan waktu penyelesaian beberapa jam tanpa revisi, sudah cukup dan itu sama dengan pekerjaan teman-temannya selama seminggu.  Tetapi karena sikap perfect  Amanda membuat dia mengulang dan mengulang lagi mencari ide yang paling cemerlang untuk sebuah taman masa depan.  Beberapa teman Amanda mempunyai kebiasaan yang selalu menginvestigasi pembantu Amanda menanyakan sampah hasil pekerjaan Amanda untuk diamankan untuk pemulung, mereka mengistilahkan diri mereka sendiri.  Mereka akan menerapkan ATM, Amati Tiru Modifikasi, atau bahkan ATP, Amati Tiru Persis.  Karena bagi sang pemulung teman Amanda bisa menghemat waktu.  Sejauh ini Amanda tidak pernah mempermasalahkan dan meskipun mengetahui tetapi tetap berpura-pura tidak pernah tahu.  Sikap perfect Amanda ternyata membawa korban, dirinya sendiri yang terisolasi dan orang-orang tercinta yang merasa kehilangan. 

Pagi yang cerah di hari Sabtu, secerah suasana hati Amanda yang sudah siap untuk menghadapi gempuran dosen-dosen penguji.  Beberapa kali Amanda hilir mudik di depan sketsa sebelum seulas senyum mengembang tertinggal di kamar yang mirip kantor kelurahan.  Amanda secara mantap segera beranjak menekan gagang pintu dan membuka daun pintu keluar dari sarang pertapaannya.  Pada saat pintu terbuka, segera dijumpai deretan keluarganya dengan senyum mengembang dan dengan sigap Mirna lari ke pelukan Amanda dan minta digendong.  Bagi Mirna menjadi sebuah berkah yang tiada terhingga harganya.  Sesaat kemudian Amanda membujuk Mirna untuk mau lepas dari gendongannya dengan sebuah janji pesta kecil malam minggu bersama kak Dian, kekasih Amanda.  Amanda melakukan kompromi tersebut mengingat sudah sangat mendesak waktunya untuk segera bersiap diri pergi ke kampus. 

Tidak dalam hitungan lebih dari satu jam, Amanda sudah berada di meja makan dengan dandanan mendekati resmi seperti orang kantoran, begitulah namanya juga mau ujian yang dilakukan seumur hidup hanya sekali.  Meja makan sudah mulai agak meriah dengan hadirnya Amanda pada pagi itu.  Mirna, si burung cucak rowo, sudah mengoceh lagi.  Keluarga Amanda menikmati kebersamaan yang membahagiakan pada pagi itu, sekaligus mereka berdo’a bersama sebelum dan sesudah makan untuk keberhasilan Amanda pada saat ujian.  Amanda terharu atas dukungan orang-orang terkasihnya, begitu juga dukungan dari Dian lewat sebaris SMS telah diterimanya pada pagi buta.  Wahai Amanda begitu sempurnanya dunia ini bagimu, begitulah gumam Amanda dalam hati.  Dalam relung hati Amanda memancar cahaya do’a tulus sehingga menyusup desiran-desiran hangat ke seluruh tubuhnya, Terimakasih ya Robbi atas anugerah yang telah Engkau limpahkan kepada keluarga kami dan terutama kepadaku, semoga aku terus bisa mensyukurinya.  Ritual di meja makan sudah usai, dan Amanda bergerak menuju ruang belajarnya untuk bersiap-siap dan membereskan hasil karyanya. 

Desiran angin pagi berhembus dari rongga jendela kamarnya yang terbuka.  Sontak Amanda merasakan sebuah firasat bahwa sesuatu telah terjadi dan sesuatu itu gukan hal yang.  Meski Amanda orang yang sangat rasionalis dan selalu tidak percaya pada firasat, tetapi firasat kali ini muncul justru karena pikirannya yang rasional telah terasah.  Harusnya daun jendela kamarnya tidak terbuka, karena dia merasa belum membukanya.  Tidak satupun orang di rumah yang berani mengganggu komitmen Amanda ketika dia sedang sangat serius.  Jadi seseorang telah masuk ke dalam kamarnya.  Jangan-jangan sudah terjadi sesuatu terhadap hasil karyanya.  Deg, Amanda mulai was-was.  Amanda seharusnya melakukan cek dan recek untuk memastikan semuanya sudah aman dan terkendali.  Sebelum Amanda berada dalam kamar belajarnya, berbagai kecurigaan menyergap di benaknya, jangan-jangan ada sabotase.  Amanda segera menepis pikiran tersebut, karena dia merasa terbawa oleh kebiasaanya melihat film Conan bersama Ayahandanya yang selalu ingin mengasah tajam intuisi militernya.  Tapi Amanda semakin terkesiap ketika menyaksikan alat gambar berceceran di dekat pintu masuk.  Dan kemudian matanya terbelalak demi dilihatnya beberapa coretan atau tepatnya guratan tak beraturan menimpa pada gambarnya.  Seketika itu Amanda merasa kehilangan keseimbangan dan secara perlahan terduduk di sudut ruang dekat jendela.  Tubuhnya kehilangan tulang-tulang penyangga. Semangat hidupnya tiba-tiba lenyap.  Matanya mulai berkaca-kaca.  Airmata itu mulai mengembang dan jatuh dari pelupuk mata.  Ketabahan Amanda sedang diuji.  Hasil karyanya selama satu minggu menjadi tidak berarti dalam hitungan menit.  Amanda merasa melayang tak menentu.  Baginya musibah ini seperti jatuhnya Bom Atom di Hirosima atau Nagasaki yang meluluhlantakkan seisi kota dalam sekejap.  Amanda telah luluh lantak.  Amanda telah kalah dalam berperang.  Amanda tidak tahu harus menyalahkan siapa, karena menyalahkan seseorang tidak akan juga menyelesaikan masalah dan yang jelas tidak akan menghapus garis kenakalan dalam gambarnya.  Amanda tidak tahu harus meratapi apa, karena sebuah ratapan akan tambah menyiksa batinnya dan tidak merubah menjadi lebih baik.   

Namun sekonyong-konyong Mirna datang berlarian dengan alat gambar milik Amanda di tangan mungilnya.  Mirna yang riang menyapa Amanda dan menunjukkan kebolehannya menggambar pada gambar Amanda.  Aduh Mirna, apa yang kamu telah lakukan.  Sebenarnya tangan Amanda sudah mau mencubit habis Mirna atas kenakalannya, tapi diurungkannya dan dialihkan menghapus air matanya.  Mirna yang lucu dan kelucuannya pada pagi itu bagaikan Bom Atom bagi Amanda.  Dengan perlahan semangat Amanda yang mulai menguap dikembalikan lagi dalam jiwanya.  Tidak ada jalan lain untuk mundur.  Tidak cukup waktu untuk membuat gambar baru.  Amanda telah memantapkan diri berangkat ujian dengan karya yang ternoda.  Amanda segera bangkit dan diciumnya Mirna.  Perang sudah dimulai, prajurit harus maju memanggul senjata.  Tidak peduli itu hanya bambu runcing.  Sudah ditekadkan bahwa keluarganya tidak boleh ada yang tahu. 

Jakarta, 5 Maret 2008 Teriring salam buat seseorang yang telah menginspirasi tulisan ini dan buat smua smoga bisa menjadi bahan pelajaran akan sebuah tekad untuk tetap maju dan bahwa  tak ada musibah yang membawa bencana ketika kita bisa memaknainya.  Salam hangat dan sukses selalu.