Diterima Dengan Ikhlas, Tumor Itu Justru Pergi
(Ratih)
Mendapat warisan tumor tentu bukan hal yang menggembirakan meskipun kita tahu berpotensi karena memiliki orang tua dan keluarga pengidap berbagai macam kanker dan tumor.Dan itulah yang menimpa saya beberapa waktu yang lalu.Tetapi Alhamdulillah, dengan pengobatan disertai sikap menerima sebagai musibah, penyakit itu sudah pergi jauh.
Menurut penelitian kedokteran, anak memiliki potensi 200 persen terkena kanker kalau orang tuanya mengidap. Hal ini semakin kuat apabila pola makan dan gaya hidup anak hampir sama dengan orang tuanya.Sejak menikah kemudian pindah rumah, pola makan dan gaya hidup saya relatip sudah terkontrol untuk tidak meniru orang tua.Poistip thinking selalu dikembangkan untuk mengusir jauh-jauh kebiasaan beliau-beliau yang suka khawatiran( ampuun, maap Bapak dan Ibu yang sudah tenang di alam kubur….). Termasuk mengenyahkan pikiran negatip bahwa suatu saat saya juga akan terkena kanker seperti yang sudah dialami dua kakak permpuan saya, hingga harus dioperasi.
Melakukan pemeriksaan serius adalah nasehat yang diberikan tante seminggu setelah kakak sulung saya meninggal dan kakak ke-3 operasi kanker usus besar.Tante memperhatikan dan mendengar keluhan merosotnya kesehatan saya akhir-akhir ini.Berat badan menyusut banyak, sering capek dan sesak napas. Tante khawatir, karena saya adalah orang tua tunggal dari tiga anak yang baru tumbuh remaja di rumah sendiri yang sudah ditinggal suami.Dia sudah tiga tahun pulang ke daerahnya, berbeda pulau, atas permintaan orang tuanya, tanpa memberi nafkah hanya sesekali mengirim itupun sesudah didesak-desak.Perpindahan yang tidak pernah dikompromikan.
Tiga hari setelah menerima hasil laboratorium dan telaah dokter, saya marah. Menganggap Allah masih kurang cukup memberi cobaan .Makananan-makanan yang menjadi larangan bagi penderita tumor payudara jenis ganas awal ini justru saya lalap dengan lahap.Mi instan sehari tiga kali, sate ayam, sate kambing, bahkan tape ketan, tempe, yougurt dan semua makanan yang difermentasi.Saya kesetanan.Keinginan menolak penyakit dan menganggap ini sebagai siksaan dari Allah justru merefleksi dalam tindakan anarki pada diri sendiri.
Untunglah rasa sakit yang amat sangat dari dalam payu dara hingga membuat sesak napas segera menghadirkan Hidayah di kalbu.Terngiang Firman Allah dalam Surat An Nisa’:29,”Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri”.Tulang yang serasa dipotong-potong karena rasa ngilu yang amat sangat serta kepala bak bola basket.”dhung..dhung” suaranya, menghadirkan peringatan Allah SWT ,”Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan” ( QS Al Baqarah:195).
Hal pertama yang segera dilakukan adalah menata kembali hati ini. Pengobatan tanpa disertai dengan hati yang tertata hanya mnyentuh fisik saja. Padahal kata para ahli, selain faktor makanan, sumber penyakit adalah hati dan pikiran.Rasa sedih akibat perpisahan kota yang menyulut memburuknya hubungan dengan suami harus segera dihibur.Penyesalan yang berkepanjangan inilah yang menjadi sumber penyakit.Selama ini yang terjadi adalah menumbuk tepung dan menggergaji serbuk kayu.Menyesali apa yang sudah luput dari genggaman berarti tidak mempercayai ketentuan Allah. Meskipun itu suatu kesalahan tetapi kalau sudah terjadi berarti ada dalam ketentuanNya.Kita sering menjumpai orang sakit yang amat parah dan melakukan pengobatan dengan ongkos yang mahal sia-sia tanpa hasil karena setiap saat si sakit mengeluh dan mengumpat karena diberi penyakit itu.
Langkah berikutnya adalah menerima penyakit ini sebagai musibah. Kata para sufi, musibah bak surat yang dibawa tukang pos, tidak pernah salah alamat.Musibah adalah sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan yang datang ssecara tiba-tiba yang tidak dapat kita tolak.”Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah” (QS.At-Taghaabun:110).Tidak mudah mengaplikasikan ayat ini bagi yang mendapat musibah tapi mungkin belum dibuka hidayahnya. Saya bersyukur, pintu hidayah hanya tertutup selamam tiga hari.Berarti Allah masih mencintai saya.Apa jadinya kalau kelamaan, tentu tubuh saya akan semakin rusak.Bagi saya teramat indah menggambarkan hadirnya hidayah ini di tengah-tengah serangan penyakit yang tergolong mematikan. Dua sahabat saya dalam stadium yang sama sudah lebih dahulu meninggal meskipun juga sudah berobat.
Karena musibah ibarat surat yang diantar tukang pos untuk kita, maka penyakit itupun saya terima dengan lapang dada. Dengan ikhlas ditempatkan di dalam sanubari sebagai bagian dari hidup ini.Diperlakukan bak sahabat atau bahkan saudara. Diamati apa kelakuan dan ritmenya. Bagimana gejalanya jika akan menyerang tubuh ini. Kemudian biarkan tubuh ini merasakan. Jika serangan itu tiba, saya segera duduk atau tiduran terlentang. Kemudian atur nafas untuk merasakan serangan itu. Akhirnya muncul perasaan seolah penyakit itu benar-benar nyata dan sangat saya kenal. Nach pada saat meminum obat dan melakukan terapi seolah-olah saya mengantarkan makanan padanya Kata saya” Nich kukirim makanan kesukaanmu”.Demikian pula saat khusuk berdoa memohon kesembuhan dari Nya.”Inilah kidung cinta untukmu, terimalah”.
Saya percaya ayat ini “ Katakanlah, Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu, dari segala macam kesusahan” (QS Al An’am:64).Alhamdulillah, belum menginjak bulan ke-tujuh dari terapi beberapa teman bertanya mengapa badan saya semakin segar dan wajah semakin cerah.Saya ceritakan pada mereka kalau saya dalam terapi pengobatan tumor payudara dan menuju keberhasilan karena diiringi rasa ikhlas.Kemudian banyak yang menanyakan bagaiaman kiatnya, dan dengan ikhlas saya selalu berbagi dengan siapa saja.
Kadang kita menyangka akan mendapat kesusahan dan kematian, tetapi kematian itu tidak segera datang, justru semangat baru yang muncul.Benarlah Haddist Qudsi ini “ Barang siapa Aku uji dengan (dicabut) kedua kekasihnya (kedua matanya) maka akan Aku ganti keduanya dengan surga”.
Dengan tidak membenci tumor yang bersarang di payudara ini, Alhamdulillah, sekarang sudah hilang dengan bukti rontegn mamografi dan kualitas hidup yang meningkat. “ Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Jika Allah memncintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Maka barang siapa yang (dengan ) rela (menerimanya), maka baginya kerelaan itu, dan barang siapa yang benci maka baginya juga kebencian itu” (Haddist HR Tirmidzi).
Jogjakarta,23.55 WIB, 29 Mei 2008. Maap Bang Jonru dan Mas Oleh