Archive for May 23rd, 2008


Published May 23rd, 2008

Pelabuhan Terakhir Kehidupan

Belum lama berselang saya kehilangan Ayahanda mertua tercinta yang telah berpulang ke rahmatullah.  Ruh pun telah berpisah dengan raga. Yang tersisa hanyalah jasad yang terbujur kaku tak berdaya melakukan apa-apa. Rangkaian kegiatan dilakukan dari memandikan, menyolatkan, mengkafani dan terakhir menguburkan jenasah almarhum ayah tercinta. Tubuh yang sudah tak bernyawa mulai tercerai berai dan  menyatu dengan tanah.  Betapa Allah SWT begitu kuasanya dan kita makhuk ciptaannya tidak mampu menolak apabila Sang maha pencipta berkehendak memanggil kita untuk kembali ke rumah Allah. Melihat ini semua membuat hati saya miris menerima kenyataan ini. Sehebat apapun kita  dengan tubuh yang sangat kuat, harta yang berlimpah, dan jabatan yang sangat tinggi tidak artinya di mata Allah SWT. Semua itu  ditinggalkan begitu saja saat kita menghadap sang pencipta . Yang kita bawa hanyalah amalan perbuatan kita di muka bumi. (more…)

Published May 23rd, 2008

Kisah Lelaki Tua

Aku adalah lelaki tua yang diciptakan tidak sesempurna kalian. Rupaku sedikit aneh, aku memiliki dua mata yang Tuhan ciptakan tidak simetris, mataku yang sebelah kanan lebih besar dan sedikit menonjol seperti hendak melompat dari kelopaknya. Kedua kakiku tak sama panjangnya, yang kiri sedikit lebih pendek dari kakiku yang sebelah kanan. Jemariku juga tak selengkap jemari yang engkau miliki. Aku hanya memiliki 7 jari, kau percaya?

Dipunggungku muncul tonjolan seperti burung punuk, jika aku bertelanjang dada kau akan lihat aku sungguh mengerikan. Ketika berjalan seluruh tubuhku turut bergetar naik turun. Orang-orang akan memandangiku dengan tatapan aneh seakan-akan aku ini mahluk jadi-jadian dari dunia antahberantah. Anak-anak kecil berlarian berlindung dibalik tubuh bapak ibunya, mungkin mereka pikir dibalik mulutku yang agak miring tumbuh taring-taring yang siap menghisap darah segar mereka. Ah anak-anak itu sungguh senang mengkhayal. (more…)

Published May 23rd, 2008

Kritik bukan keripik

Seseorang mengkritik kita karena dia cinta, karena dia sayang dan  karena dia ingin kita menjadi lebih baik. Alasan apapun yang digunakan tetaplah tidak mudah untuk menerima kritik sekalipun disampaikan oleh seseorang yang begitu dekat dengan kita, orang yang kita cintai atau bahkan orang yang kita anggap mengenal diri kita dengan baik sekalipun.

Kritik tetaplah sebuah kritik. Tidak enak di dengar (bila berupa perkataan), tidak enak dibaca (bila berupa tulisan) dan pastinya tidak mudah untuk dirasakan apalagi di renungkan. Kritik bukanlah keripik yang sekalipun rasanya pedas tetap enak dijadikan cemilan di waktu luang, yang kita cari untuk dijadikan teman di kala menonton televisi, yang kita musuhi ketika jarum timbangan bergeser ke kanan. (more…)