Bendera setengah tiang
Bendera tanda kematian di kampung-kampung berwarna kuning dari kertas minyak, tidak ada warna lain kecuali harus kuning, seperti bendera partai politik saja ya. Anak kecil-kecil SD biasanya mendapat tugas mengikat bendera di tiang sudut atau di ujung jalan.
Entah dari mana kok warna kuning menjadi keharusan di jadikana penanda bila teman, tetangga, saudara, sedulur- sedulur meninggal dunia.Siapapun yang meninggal karena sakit, kecelakaan tertabrak Kereta Rel Listrik (KRL), pembunuhan , keracunan over dosis narkoba, bunuh diri malu ditaguh utang tetangga, kerusuhan konflik horizontal. Pasti ada penanda bendera kuning
Asal usul bendera kematian warna kuning jika ditelusuri itu sudah menjadi adat masyarakat, menjadi kesepakatan dari sebuah komunitas. Kalau dipikir mengapa tidak memakai bendera warna putih, agar jenazah teman kantor atau sedulur yang meninggal itu masuk surga , jalannya luruh. Putih melambangkan kejujuran, kebaikan selama bergaul di lingkungan Rt , pergaulan kantor , dijalanan ataupun di pasar. Atau dipilih bendera warna merah, yang dianggap sebagai penanda keberanian dan kemarahan sebagai temannya setan dan gendruwo.
Warna-warna itu dipilih tampaknya yang cocok adalah simbol warna kuning, sebagai ungkapan kematian. Ada juga tanda ungkapan kematian dengan simbol warna hitam yaitu rasa duka diwujudkan memakai baju ,celana panjang dan peci / kopiah hitam. Serba hitam.
Kalau dipikir warna putih itu lebih bisa menangkal sengatan terik sinar matahari di saat sedang proses penguburan jenazah, warna baju hitam malahan menyerap panas matahari. Tapi itu masyarakat sudah terlanjur menyepakati baju serba hitam sebagai simbol kedukaan, meskipun terik matahari menyengat tubuh. Wah, sudah terkena kelirumologi niih. Pokoknya hitam.
Sepuluhtahun silam, ketika mahasiswa Trisakti tertembak , merebaklah unjuk rasa dikalangan mahasiswa. Sebagai ungkapan ikut berduka atas kematian itu, sebagian masyarakat ada yang memakai tanda pita hitam dilengan kanan maupun diikatkan dikepala. Penanda pita hitam dipilih sebagai lambang kedukaan
Bendera merah putih
Itu semua simbol-simbol atau lambang tanda kematian. Simbol bendera merah putih sudah tidak sekedar sebagai penanda sebuah cara ungkapan rasa kebangsaan di negara bernama Indonesia. Perhatikan di Gunung Kidul dan di desa Jawa Timur, jika penduduk membikin rumah, sebelum atap genting dipasang, seorang yang dipercaya sebagai spiritual desa (dukun) menganjurkan memasang batang tebu dan bedera putih di wuwungan. Kenduri desa pun memajang sesaji bunga dan bendera merah putih. Kalau adat kebiasaan ini tidak dilakukan akan terjadi bencana kekeringan, banjir bandang yang melanda desa-desa
Simbol-simbol upacara desa – desa masih berlaku hingga sekarang yang dari semula diwariskan sejak jaman kerajaan Mojopahit, bahwa gulo abang sebagai penanda abang, merah berarti lambing darah, berani, sedangkan putih dari sari daging kelapa. melambangkan, kejujuran, dan kesucian. Paduan dari keduanya menunjukkan tanggung jawab di masyarakat. Kelapangan hati sebagian besar masyarakat dalam beradabtasi dengan kemodernan merambah bersinggungan dengan simbol atau lambang bendera hingga sekarang
Ketika bendera dikibarkan penuh diatas ujung di tiang bendera dan berkibar ditiang bendera resmi maupun tiang dari bambu bekas jemuran atau kalau sebuah kantor atau sekolah memakai tiang cor besi yang disemen. Maka setiap siswa sekolah wajib menghafal lagu : “Bendera merah putih bendera tanah airku, Gagah perwira tampak warnamumu, berkibarlah dilangit yang biru……………Lambang suci gagah perwira”.
Syair lagu itu ketika teman sejawat meninggal disimbolkan dengan bekibarnya bendera merah putih setengah tiang berarti sang merah putih telah tidak gagah lagi, digambarkan sebagai ajal , game over, kembali ke yang khalik, ungkapan rasa duka cita,, Kejadian ini terkait dengan teman sejawat lainnya yang juga game over, maka cukup disimbolkan dengan memasang bendera kuning disudut ujung jalan Telah lahir ada nuansa pengalaman, kebiasaan lama, serta keputusan berbeda. Setidaknya sudah tercipta di lingkungan terdekat sebuah pandangan tentang “Kami dan the other”
17 Juni 2008