Published June 8th, 2008
Ayah
Kamar sempit ini terasa semakin menghimpit dadaku yang sesak. Temaram lampu menambah kemuraman dalam hatiku yang tengah gundah menanti aroma bencana yang terasa semakin mendekat, menyeruak menampar-nampar pipiku yang dingin dan memucat. Aku kian merundukan pandanganku menekuri lantai semen yang penuh lubang, jengah ditatapi oleh perabotan butut dikamar pengap ini, seolah-olah mereka tengah asyik mengintai setiap gerak-geriku yang menggigil ketakutan. Rasa ngeri bergantian menggedor batinku yang merintih. Ah Tuhan apa yang akan terjadi padaku hari ini? sekarangkah saatnya?

