Archive for July, 2008


Published July 31st, 2008

Tumpeng pilu

Bulan Agustus sudah tiba. Pengurus RT dan RW mulai kasak-kusuk. Rapat digelar. Agenda utamanya membentuk panitia ‘tujuhbelasan’. Setelah panitia terbentuk acara lomba disusun. Anggaran dihitung. Hadiah-hadiah untuk pemenang lomba ditentukan. Biasanya hasil penyusunan anggaran akan berakhir dengan saldo minus. Seperti biasa pula, solusinya adalah meminta kerelaan warga untuk memberikan sumbangan. (more…)

Published July 30th, 2008

Selamat Tinggal Pendidikan Agama yang Biasa

Sebagai seorang siswi dari sebuah sekolah Katolik, saya telah menandatangani sebuah pernyataan siswa di awal tahun ajaran mengenai pendidikan agama Katolik yang akan saya terima. Selama 10 tahun terakhir, saya bersekolah di sebuah lembaga yang sama. Hal ini bukan berarti saya harus pindah agama, melainkan karena ingin dan wajib turut menyukseskan visi dan misi sekolah. Namun di awal tahun ajaran kali ini saya menemukan sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya.

(more…)

Published July 30th, 2008

Atlet Anti Lumpuh

Kebanyakan atlet akan merasakan detik-detik kehancuran karirnya saat mengalami sebuah kecelakaan berat. Padahal, semua lapisan masyarakat mengetahui betapa kegiatan olah raga sangat rentan terhadap risiko. Tidak dapat dimungkiri, masih banyak pribadi-pribadi yang memiliki jiwa atlet dan rela mengorbankan segalanya. Banyak prioritas khusus yang dapat diterima seorang atlet. Universitas yang sulit dijamah pelajar jenius, sering membuka tangan lebar-lebar bagi para atlet. Alasannya cukup klise: faktor nasionalisme.

(more…)

Published July 29th, 2008

seneng mata, senep ati

Asamu kian terlena

Saat kau tatap bulan penuh cahaya

Kau lupakan pasir di jemari kaki

 

Tak ingatkah saat kera

Pecahkan cermin saat berkaca

Atau juga

Seorang penari segera berganti sepatu

Mana kala gerakan tak kunjung sempurna

 

Secantik, seanggun apapun sinar bulan

Hanya dapat kau nikmati lewat pandangan

Sesederhana apapun penghuni rumahmu

Ia tak pernah bosan memberimu kenikmatan

Siap kau reguk kapapun ada kesempatan

 

~~~~~@&@~~~~

 

kembalilah menjelma

jangan kelamaan menjadi kera

atau pun penari yang tak pernah percaya diri

 

tutup mata terkadang perlu

walau sesekali

demi mengasah ketajaman hati

Published July 25th, 2008

bersepeda

BBM Naik, Bersepeda Yuk

Pertama kali aku bersepeda ke tempat kerja awal bulan Puasa sejak tahun 2005, alasannya praktis saja, yaitu hemat , tekan uang. Pemerintah dengan sombong menaikknan harga BBM, naiklah itu tarif bus dan angkutan kota (angkot), naik pula harga sembako. Bagiku, buat apa mengumpat dan mengeluh terus menerus ke pemerintah, toh sepertinya tidak didengar. Ya, sudah aku putar otak kiriku melihat kemampuan kantong, bersepeda ke Stasiun Manggarai lalu pindah menyambung dengan Kereta Rel Listrik (KRL) ketempat kerja sebagai karyawan rendahan di Depok Sementera sepeda aku titip di Kantor Polisi Manggarai.

Ke Manggarai aku coba dengan rasa malu-malu, suasana hati berkecamuk, tengok ke kanan-kiri apakah ada tetangga yang melihat dan membicarakan caraku bersepeda ke tempat kerja. Didalam batin yang sedang berkecamuk itu, ada orang lain bersepeda sepertiku juga, bersepeda dengan cuek dan semangat, bahkan ada yang menyapaku dan tersenyum. Pikirku, mungkin ini karena sesama bersepeda dan punya nasib yang sama, hingga ia menyapaku. Tak lama menggenjot pedal, aku berpapasan dengan sesama orang bersepeda memakai penutup kepala rapat topi lebar-hitam, agak menutupi jidatnya serta pakai masker agar terhindar asap knalpot. Gayanya yang cukup menarik dan berani itu, aku menirunya sekaligus beli topi dan masker di Pasar Jatinegara.

Suatu ketika sedang naik sepeda sekitar pukul 7.30, mendadak ban belakang bocor dan. wah terlambat niih dan dipotong niih uang tansportku nanti sampai Depok. Sambil menuntun sepeda dan merenungi nasib aku berfikir dimana posisi terdekat tukang tambal ban. Aku harus memutuskan sepeda ditinggal lalu titip ke tukang ojek di perempatan lampu merah Matraman atau sepeda ditambal. Keringat mengucur di dahi, punggung dan rambut kepalaku, tidak lama tukang tambal-ban berada di sudut jembatan Kali Ciliwung Matraman Dalam .

Bersepeda sangat beresiko saat musim hujan pagi, cukup berat menggenjot pedal di tengah genangan air jalanan. Mengingat uang harus dihemat, aku terpaksa menyiapkan mantel berikut topi plastik. Ransel baju aku tutup plastik dan diikat di boncengan. Menyusuri jalan Pramuka dekat pintu kereta Pasar Burung, sebuah sepeda motor menyiprat air kotor ke mukaku dan mantelku. Terasa hangat semprotan air kotor jalanan itu.. Hujan deras, lama-lama menjadi sahabatku. Mata terasa pedas sekali saat terkena tetesan guyuran hujan. Sesampai si stasiun Manggarai aku ganti pakaian di WC stasiun Manggarai yang telah kupersiapkan di tas plastik.

Hari-hari berikutnya dengan bersepeda setiap pagi aku sudah bertambah pede. Genjotan sepeda semakin kencang serta rasa malu dengan tetangga terhapus oleh keringat dan semangat menekan biaya / ongkos naik Angkot. Dari rumah Utan Kayu Utara sampai tempat kerja di Depok dalam satu bulan dengan menggunakan Angkot bisa menghabiskan ongkos Rp 250.000.- untuk pergi-pulang, tapi dengan bersepeda cukup mengeluarkan ongkos Abunemen/Langgan KRL Rp 45.00 dan ongkos penitipan sepeda di Mangarai Rp 25.000 per bulan. Luar biasa hematnya untuk karyawan sepertiku dibandingkan naik bus kota/angkot, apalagi jika aku naik busway, ohh bisa modar dapurku.

Manfaat bersepeda

Selain mendukung uang dapur, bersepeda juga mengurangi kemacetan di Polres jl Matraman sampai jalan Tambak. Waktu tempuh juga relatif baik sama dengan waktu tempuh kendraan umum. Dengan naik bus umum/metromini atau bus way selalu terjebak macet di jembatan layang Matraman sampai lampu merah jalan Tambak hinggga terowongan Kali Ciliwung Manggarai. Bersepeda bisa menyalip dan menyisip di antara kendaraan sepeda motor atau aku nakal: melawan arus. Pak Polisi maklum ketika sepeda melanggar, dengan melawan arus. Ini barangkali kelebihannya.

Di saat istirahat Sabtu dan hari Minggu sepedaku berubah fungsi menjadi kendaraan pengganti ke Pasar atau pada malam hari alat kendaraan membuang sampah, sehingga tak terasa aku bersepeda sudah hampir tiga tahun. Malah harga BBM dinaikkan lagi akhir Mei ini. Terpaksa aku harus tetap memilih bersepeda

Bersepeda ke tempat kerja jarak jauh, tentu tidak menguntungkan dari segi waktu tempuh dan kelelahan phisik. Aku nekad bersepeda dengan jarak tempuh rumah Di Utan Kayu ke Mangarai lantaran waktu sekitar 15 menit dengan genjotan santai.

Hari berganti, bulan dan tahun setiap hari terus bersepeda lantaran kesulitan ekonomi dengan kenaikkan harga BBM sejak awal Puasa 2005 telah tiga tahun memaksaku dan mengajariku bersepeda , meskipun hanya sampai di stasiun Manggarai. Hujan pagi, panas sore, membuang rasa malu menjadi hari-hariku bersepeda, termasuk membuang sampah. Aku sudah menjadi bagian dari bersepeda. Aku bersepeda bukan rekreasi, tapi menjadi bagian dari keterpaksaan sehingga bersepeda menjadi kebutuhan., jiwaku, sudah menjadi bagian dari sepeda itu. Bersepeda Yuk !

Utan kayu 26 juli 2008

Published July 25th, 2008

Interogasi geleng-geleng

Berita kehilangan sepeda motor sudah menjadi berita biasa. Bisa terjadi dimana saja. Di perumahan yang dijaga satpam sekalipun. Apalagi kalau perumahan itu memiliki banyak akses untuk masuk dan keluar. (more…)

Published July 24th, 2008

Rindu Nenek

Teringat nenek yang saya panggil embah, ibu dari ibu saya, dia meninggal dunia empat bulan lalu. rindu merasuk dalam ruang hatiku, sesak, pilu.  Mata ini tergenang air yg belum mau menitik.

Embah meninggal dunia karena ketuaan usianya. Saya baru tahu rasanya menyesal. Dulu saya terlalu sibuk dengan urusan saya sendiri. Kalau embah ke jakarta menginap beberapa minggu di rumah ibu saya, saya hanya berkunjung satu dua hari saja utk menemuinya. Itupun sebentar,  tidak ngobrol panjang lebar karena aku kebanyakan aku tidak mengerti bahasanya. Memang saya meresa dekat dengannya semasa kecilku dulu dan semakin dewasa sampai akhirnya berkeluarga malah saya merasa menjauh. Mungkin karena dulu saya senang mendengarkan embah mendongeng, yang membuat saya kakak dan adik saya betah bergumul sempit-sempitan ditempat tidur hanya untuk mendengarkan dongeng embah yang seringnya diulang-ulang atas permintaan kami, seperti Si Kancil Mencuri Ketimun.

Embah dulu saya panggil Embah Gendut, karena saat itu saya masih mempunyai embah buyut, ibunya embah gendut, yang saya panggil Embah Peot, karena sudah peot. Semua cicitnya memanggilnya begitu. Tapi karena usia  badannnya embah tidak lagi gendut sampai akhirnya meninggal. Saya masih bertemu embah beberapa bulan sebelum saya meninggalkan Indonesia, masih sehat.  Itulah yang saya sesalkan, ketika sehat saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya. Bahkan kalau embah lama di jakarta, akhir pekan pun saya masih sibuk kejar target. Saya tidak berusaha meluangkan waktu untuk embah. Ya ampuuun, saya rindu sekali..Embah!

Kehilangan orang dekat bukan yang pertama bagi saya. Kakek misalnya, atau nenek suami saya atau teman atau saudara. Tapi saya baru merasakan kehilangan yang sangat hanya kepada embah. Sebuah perasaan yang belum pernah singgah seumur hidupku. Atau mungkinkah ini karena  penyesalan saya, kemana saja saya selama dia hidup? Embah, saya rindu…rindu.

Satu minggu setelah embah meninggal saya melaksanakan ibadah umrah, meniatkan umrah untuk embah. Embah belum pernah menginjakkan kaki di tanah arab ini, yg pernah menjadi keinginan saya dan suami sejak lama untuk membiayai embah haji tapi kami urungkan dengan beberapa pertimbangan dan karena fisiknya tidak memungkinkan lagi.  Dua hari setelah umrah itu, saya mimpi embah datang kepada saya, dengan penampilan wanita segar dan muda, dia merentangkan tangannya seolah ingin meraih dan memeluk saya. Dia tersenyum. Dalam mimpi itu dia begitu berbeda, tapi saya mengenalinya, dia embah saya.  Saya telefon ibu di Indonesia untuk menceritakan mimpi itu, ibu terharu, tidak tahu pasti apa arti mimpi saya, tapi mama bilang mungkin embah mau bilang terima kasih sudah diumrahkan.

Saya sedih, sedih sekali. Beberapa bulan sebelumnya sebelum embah meninggal, saya bermimpi embah hendak naik pesawat bersama dengan uwak, adik laki-laki embah,  yang akan berangkat umrah.  Saat itu uwak memang masih dalam proses menunggu sampai akhirnya berangkat May lalu.  Karena tidak bisa jadi memberangkatkan embah, saya beralih ke uwak, karena disamping uwak tidak berkeluarga, saya ingin membalas kebaikan uwak yang telah ikut mengurusi saya waktu kecil  yaitu menjadi supir pribadi saya ketika di taman kanak-kanak dengan cara yang saya bisa. Dalam mimpi itu embah ingin ikut dengan uwak tapi karena tidak ada dokumen pendukung embah tidak jadi naik pesawat.  Mimpi ini membuat saya merenung, pasti embah ingin sekali pergi umrah, tapi apa daya… Tapi saya berharap embah mengerti alasan kami. Apapun arti mimpi itu, saya yakin, embah senang, embah sayang pada saya. 

Saya rindu …rindu sekali… if only i could turn back the clock……

Published July 23rd, 2008

Menebar Virus Entrepreneurship

Judul                : Rahasia Jadi Entrepreneur Muda

Pengarang        :  Faif Yusuf

Penerbit            :  DAR! Mizan

Halaman           :  227 halaman

Harga               : Rp 31.500

 

Oleh: Heri Ispriyahadi

            Rahasia sukses berbisnis harus benar-benar dijaga ketat. Keyakinan inilah yang banyak dianut kalangan pengusaha. Oleh karena itu para pengusaha menjadi pelit untuk berbagi. Harapan mereka para pesaing sulit untuk menemukan celah meniru kesuksesan yang mereka capai. Namun para entrepreneur muda dari kelompok Tangan Di Atas (TDA) berani menantang arus. Semua jurus sukses berbisnis diungkap secara gamblang dalam buku ini. Semangat berbagi tidak terlepas dengan  prinsip “memberi” alias bersama-sama menebar rahmat. Prinsip tersebut menjadi falsafah yang dipegang teguh bersama kelompok TDA. Melalui bisnis mereka ingin menyebarkan virus entrepreneurship ke segenap lapisan masyarakat. Semakin banyak masyarakat menggeluti bisnis diharapkan menjadi pintu gerbang menekan angka kemiskinan. (more…)

Published July 22nd, 2008

Embun Pagi itu, Bernama SMO

Saat menuliskan ini, sejatinya aku tidak yakin apakah termasuk Chicken Soup atau bukan. Menurut kriteria dari mentor saya –Jonru, termasuk. Aku berubah total, dari tidak pernah (doyan) warnet menjadi rutin minimal seminggu sekali. Setiap hari aku selalu mencuri waktu senggang disela pekerjaan kantor atau memanfaatkan jam istirahat untuk akses internet. Walaupun harus pinjem komputer milik teman sekantor. Untuk anda memberikan penilaian, baiklah aku tuliskan pengalaman pribadi ini. Selamat membaca. (more…)

Published July 21st, 2008

Berbisik dan berteriak

Ada yang tahu nggak apa maksudnya Mary Leonhardt ini, yang dia tuliskan dalam bukunya ‘99 Cara menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis’ bahwa : “ Penulis yang baik juga dapat berbisik dan berteriak, ….” Gimana caranya ya…?