Published July 8th, 2008
GEMURUH HATI
Suasana hatiku bergemuruh kini. Seakan sesak dada ini dengan sejuta tanya yang tak bisa terungkapkan. Namun lelah menghantuiku sepanjang hari hingga rasa jenuh pun tak lupa selalu menghiasi hari-hariku. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Yang aku rasa hanya sebuah kesalahpahaman yang tak bisa di mengerti lantaran tak pernah ada kata terucap sepatah katapun dari hati ke hati sebagai penyelesaiannya yang terjadi. Hanyalah kesalahpahaman yang berujung pada sebuah kesalahan yang tak bisa kumengerti.
Aku tak ingin selamanya seperti ini, aku ingin segera mengakhirinya tapi aku tak tahu harus memulainya dari mana lantaran aku tak tahu harus bagaimana dan rasa trauma selalu saja menghantui, seakan-akan kejadian-kejadian yang sudah terjadi nantinya akan terjadi juga padaku.
Jujur dalam keluarga kita tak pernah bicara dari hati ke hati yang ada hanyalah perenungan sendiri-sendiri yang terkadang berujung pada kesalahpahaman hanya karena kita saling terdiam dan terlarut dalam masalah yang kalut.
Aku takut untuk memulainya karena dalam hubungan seperti ini tak pernah kita saling berbagi batin yang ada saling memberi dalam batasan materi dengan mengatasnamakan cinta.
Cinta bagiku bukanlah berupa materi semata melainkan sebentuk hati yang utuh dan tulus dengan penuh kasih sayang yang abadi yang tak kan pernah pudar oleh pihak ketiga yang terlalu sering datang dan pergi dan keabadian itu harusnya tak kan pernah usang di makan oleh sang waktu yang terus berputar. Tapi yang kurasakan kini berbeda. Hanya karena terlalu sering datang dan perginya orang-orang yang bermuka dua, perbedaan dan perselisihan selalu terjadi hingga berujung pada kesalahpahaman yang tak berakhir dan selalu saja akulah yang mengalah.
Tak masalah bagiku untuk hal ini, aku masih bisa mengerti lantaran bertambahnya kesibukan dan bertambahnya masalah-masalah yang tak berarti tapi bagiku itu semua karena kesalahan pribadi hingga masalahpun tak berakhir.
Sebenarnya aku senang berada disini karena semenjak pertama aku datang ke Jakarta, aku merasa aku harus bisa menantang betapa kerasnya kota Jakarta yang kebanyakan orang mengatakan bahwa kota Jakarta adalah kota metropolitan yang dimana segalanya menggunakan uang. Memang benar buktinya kalau kita mau buang air kencing saja kita harus bayar Rp. 1000,-.
Sebenarnya aku tipe orang yang suka tantangan dan melakukan hal baru meskipun lebih nampak kalau aku ini orang nya penutup dan minderan. Dulu aku mendapat dukungan penuh dari keluarga terutama dari Ibu ku. Tapi berhubung Ibu harus pergi ke surga, Ibu meninggalkan ku sendiri tanpa jejak sedikit pun untuk kuikuti. Yang ada justru kesendirian dan keterpurukkanku pada jiwaku yang sesungguhnya rapuh. Kerapuhanku bukan berarti aku ini lemah tapi kerapuhanku karena aku ini kurang mendapatkan dukungan dari lingkungan keluargaku.
Aku sadar, aku harus berjuang untuk menghadapi hidup yang berliku-liku ini. Hidup bagiku bukan kejam seperti yang kebanyakan orang bilang tapi hidup bagiku adalah perjuangan dimana kita dituntut untuk terus bertahan walaupun derita tak pernah lepas sepanjang perjalanan. Bagiku itulah cara satu-satunya untuk menemukan kebahagiaan nan abadi.

