Archive for August 7th, 2008


Published August 7th, 2008

Sakit Jika Kita Punya Harapan

Setiap diri dikaruniai oleh Tuhan sebuah jiwa, yang dengan jiwa itu, ia bebas menentukan pilihan reaksi.Bereaksi positif atau negatif, bereaksi berhenti atau melanjutkan, bereaksi marah atau sabar, bereaksi reaktif atau proaktif, bereaksi baik atau buruk ( Ari Ginandjar )

Ari, Martaya, Soes, Jati, dan Estu asyik berdiskusi merenungkan nasib mereka di yayasan pendidikan tempat mereka bekerja. Isu adanya beberapa pegawai yang di non-job kan begitu santer terdengar. Pegawai yang tidak bisa mengaji dan kinera menjadi alasan utamanya. Ada empat orang pegawai laki-laki yang menjadi calon. Ari begitu gundah, malam-malam penuh kenikmatan dan kehangatan istri di samping tak ia rasakan sejak isu tersebut. Ari merasa dirinya adalah bagian dari pegawai yang akan di non-job kan. Sebagaian orang menganggap non-job merupakan nasib yang menguntungkan. Bagaimana tidak, ia tak memiliki kewajiban bekerja tetapi gaji tiap bulan tetap diterima. Namun hati nurani mengatakannya berbeda, non job adalah nasib yang menghinakan bagi pekerja. Seorang maling pun lebih mulia karena ia bekerja mengeluarkan keringat.

Barangkali kita pernah merasakan hal serupa. Wajar, karena sebagai kepala keluarga kita harus mencari nafkah untuk menghidupi kebutuhan anak dan istri. Yang menjadi masalah adalah jika kita terlalu larut dengan takdir atau nasib yang menimpa, maka kehidupan ini tak akan bahagia. Kebahagiaan bisa kita raih jika kita bahagia. Ada banyak jalan yang bisa membuat kita bahagia. Satu kunci ada pada mental kita. Jika kita ingin bahagia, maka syarat utama adalah melepaskan segala belenggu yang membelit diri. Salah satunya adalah ketergantungan kita terhadap manusia serta harapan-harapan kepadanya.

Mari kita berpikir sejenak! Jika kita membutuhkan uang, kemana kita akan pinjam? Pasti kepada orang yang punya uang bukan? Jika kita membutuhkan solusi, kemana kita akan mencari? Pasti kepada orang yang kita anggap bijaksana bukan? Tetapi ada yang lebih kaya, lebih bijak dari semua itu, ialah Tuhan Yang Maha Segalanya.

Sakit jika kita memiliki harapan, tetapi lebih sakit jika kita tak punya harapan. Mari kita serahkan sepenuhnya nasib kita kepada Tuhan setelah kita berusaha.“Perumpamaan orang yang mengambil selain Allah sebagai pelindung, adalah seperti laba-laba yang membuat rumah untuk dirinya sendiri. Tapi sebenarnya rumah laba-laba itu adalah serapuh-rapuhya rumah, jika mereka tahu” - QS. AL ‘ANKABUUT(laba-laba) 29:41-

Published August 7th, 2008

bendhol - seri : cerita masa kecil

yen kelingan aku jaman cilik. mbiyen nyolongan banget, ukil, ngapusi wong. apa maneh yen ketemu wit krambil ijo, wis ra bakalan slamet saka incenganku. utawa ana kayu garing, mesti tak penek tak tegor nganti pernah di oyak sing nduwi wit, merga arep

dinggo dhewe. utawa maneh angger golek kayu garing kanggo masak ora entuk-entuk, biasane mlebu neng lungguh (kebun) tebu, mangan nganti wareg. nek ra ngana mbabiti wit pelem nggone tanggane. utawa jajan nggawa dhuit seket gelo, ning wis nyomot sak genggem permen ning sing diduduhna mung lima.

  (more…)

Published August 7th, 2008

[renungan] Cinta itu (mungkin sebaiknya) buta

Seperti biasa, tukang sayur langganan ibu-ibu di RT kami selalu mangkal di ujung jalan. Tepatnya di depan sebuah rumah kosong yang ia manfaatkan sedikit halamannya untuk meletakkan beberapa barang dagangannya.  

Pukul enam pagi, saya berjalan ke tempat tukang sayur itu bersama Oma, panggilan saya untuk tetangga yang rumahnya selang dua rumah dari rumah saya. Usianya sudah 70 tahun. Jalannya tak bisa lagi cepat. Tempo bicaranya lambat. Matanyapun tak lagi awas. Walau sudah dibantu dengan kacamata, kadang ia memerlukan waktu untuk bisa mengenali orang lain. (more…)