Archive for August 15th, 2008


Published August 15th, 2008

Pembobolan ATM versi baru

Kehidupan makin sulit, pengangguran makin banyak, orang makin materialistis, tidak menghargai proses, maunya serba instant, maka segala macam cara dilakukan untuk mempertahankan hidup, diantaranya adalah menipu.

Kamis tanggal 7 Agustus 2008 saya memasang iklan di harian Pos Kota melalui suatu Biro Iklan di dekat rumah, untuk menyewakan rumah di Jatimakmur, Bekasi. Iklan dipasang esok harinya, Jumat 8 Agustus. Sore harinya beberapa calon penyewa menghubungi saya baik melalui telepon rumah maupun handphone. Mereka menanyakan lokasi persisnya, ingin melihat kondisinya dan tentu saja harga sewanya.

Sabtu pagi tanggal 9 Agustus 2008 jam 08.45  saya menerima sms dari hp dengan nomer +6285882045737. Tulisan sms demikian (aslinya): “Maaf! Info dr kmi bpk RUDI harian Pos Kota. Shbungan rmh yg  anda iklankn sudh ada yg brminat. Silahkn hub ibu Hj. ENDARWATI, SH. 081210584889. Trm ksh.”

 Baru siangnya jam 13.30 saya menghubungi no hp ibu Hj. Endarwati, SH. Yang menerima seorang laki-laki, dengan sangat fasihnya dia mengucapkan salam dengan lengkap, suara berat dan meyakinkan sekali “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

“Saya adalah suami Hj. Endarwati, SH, nama saya H. Rachmad. Saya sudah melihat rumah bapak, saya berkeinginan sekali untuk menyewanya selama tiga tahun, karena saya mau dipindah tugaskan ke Jakarta. Apakah rumah bapak sudah ada yang menyewa? Harga sewa per bulannya berapa?” lanjutnya.

Mendengar cara dan nada ucapannya, terlintas dalam pikiran saya, jangan-jangan ….jangan-jangan ….. Namun cepat-cepat pikiran tadi saya buang, tidak baik berpikiran negatif terhadap orang lain.

“Sampai saat ini rumah belum ada yang menyewa pak, bila bapak cocok dan berkeinginan menyewa silahkan. Harga sewanya pertahun Rp 7.000.000,” jawab saya.

Setelah tawar menawar akhirnya kami sepakat bahwa rumah akan disewa selama 3 tahun seharga Rp 20.000.000. Negosiasi terkesan sangat lancar dan cepat. Sebelum menutup percakapan, ia mengatakan bahwa barang-barangnya akan dimasukkan pada tanggal 15 Agustus 2008 dan pesan agar tidak diberikan orang lain.

Kurang lebih setengah jam H. Rachmad menghubungi saya lagi dengan hp. Dia mengatakan akan memberikan  uang muka, karena khawatir kalau saya akan memberikan pada orang lain yang berani menyewa lebih tinggi. Untuk itu dia akan memberi uang muka sebagai uang kunci sebesar Rp 5.000.000, yang segera di transfer hari itu juga. Dia juga menanyakan nomor rekening saya.

Nomor rekening saya sampaikan lewat sms. Kira-kira sejam kemudian dia menghubungi saya lagi lewat sms. Tertulis di sms: “Dpnya sudh kami transferkn, silahkan dicek sekrng, apabila blm masuk segra hbungi sy, agr sy komplain di bank supaya ditransfer ulang trm ksh.”

Saya ke ATM terdekat di Slipi Jaya untuk mengecek, ternyata dana yang ditransfer belum masuk. Kemudian melalui sms saya beritahukan bahwa dana belum masuk ke rekening saya. Tak lama kemudian dia mengirim sms agar saya menelpon balik.

Saya penuhi permintaanya untuk menelepon balik dengan hp. Dia tanya apakah saya masih di ruamg ATM, jika masih agar saya  memasukkan lagi ATM untuk dicek sama-sama.

Saya mulai curiga. Sudah tidak ragu lagi, pasti saya akan ditipu

Permintaannya saya tolak, saya minta agar dia mengulang lagi mentransfer dan akan saya cek setelah ditransfer. Tidak semudah itu jawabnya. Dia masih ngotot, menjelaskan bahwa dia mentransfer lewat internet, jadi perlu di cek bersama lewat ATM. Akhirnya saya bilang bahwa saya ragu terhadap kesungguhannya, kalau memang mau membayar DP silahkan transfer uangnya. Kemudian hp saya matikan.

Ternyata sampai esok harinya dia tidak menghubungi lagi. Kalau memang mau menyewa rumah saya dan dia orang baik-baik tentu dia akan menghubungi lagi. Jadi dia adalah penipu, mau membobol ATM saya. Allah masih melindungi saya sekeluarga.

 

 

Published August 15th, 2008

Don’t judge a doctor by the story

Deg-deg-an! Itu yang saya rasakan ketika pagi itu saya mengunjungi dokter kandungan untuk pap smear. Dokter ‘langganan’ saya sebelumnya adalah seorang wanita. Karena satu dan lain hal saya terpaksa ‘berpindah dokter’. Acara ‘pindahan’ ini yang membuat saya dag dig dug tidak karuan. (more…)