Archive for August, 2008


Published August 17th, 2008

Bermanfaatkah Waktu Kita?

Waktu merupakan sesuatu yang bisa dirasakan sangat cepat dan bisa pula menjadi sangat lambat. Hal ini tergantung pada pemanfaatan terhadap waktu tersebut. Pada saat kita mempunyai tugas yang banyak dengan waktu yang sedikit maka saat itu waktu terasa sangat cepat. Begitu pula pada saat kita mempunyai tugas yang sedikit dengan waktu yang banyak maka waktu akan terasa begitu lambat. Jadi cepat tidaknya waktu tergantung aktifitas kita.

(more…)

Published August 17th, 2008

Kita Merdeka, Nana..

mohon masukannya ya teman-teman (^-^)V ari.ams.latoeng

Timang timang anakku sayang[1]
Buah hati ayahanda se orang
Jangan menangis dan jangan merajuk sayang
Tenanglah tenang di dalam buian

Betapakah hati kan ria
Ingat kau begurau dan ketawa
Semogalah jauh dari marabahaya sayang
Riang gembira sepanjang masa

Setiap waktu ku berdoa
Pada Tuhan Yang Maha Kuasa
Jika kau sudah dewasa
Hidupmu bahagia sentosa

Timang timang anakku sayang
Kasih hati permata ayahanda
Tidurlah tidur pejamkan mata sayang
Esok hari bermain kembali

“Pak,”

“Pak..,” suara si kecil Nana membuyarkan lamunan Toha yang tengah asyik mendengarkan lagu lama beirama Melayu.

“Iya, Nana..”

“Nana ingin minum susu kotak yang dingiiin sekali.. Boleh tidak, Pak ?”

Susu kotak yang dimaksud Nana adalah susu sapi kemasan kotak yang biasa dijual di minimarket tidak jauh dari rumah mereka, ada banyak merek dengan banyak ukuran dan rasa, tapi Nana biasanya memilih yang ukurannya kecil. Tetapi meski permintaan ini bukan permintaan yang mewah, Toha merasa hatinya teriris-iris. Iya, sebab ia tidak mampu memenuhi permintaan Nana.

Toha memeluk anaknya lemas, menempelkan dahinya ke kepala anaknya itu sambil menghela napas.. “Bapak sekarang ini ngga punya uang, Nana. Nana mau kan tunggu beberapa hari lagi, Bapak gajian ?”

Mata Nana memperhatikan ekspresi wajah Bapaknya sebelum ia menganggung perlahan. Tapi tak urung Toha menangkap ada sorot kekecewaan disana.

Nana Kurniasari, usia 6 tahun, putri pasangan Toha dan Marni, nampak masih memiliki keinginan lain.

“Pak, Nana boleh minum minuman Bapak, tidak ? Sedikiit saja..”

Yang dimaksud Nana adalah sebotol minuman soda yang dibeli 2-3 hari yang lalu karena ada tamu berkunjung. Nana, sebenarnya dilarang Marni meminumnya karena dianggap kurang sehar baginya.. pendapat yang benar sesungguhnya, tapi kalau sekedar cicip ya bolehlah..

Permintaan inipun membuat Toha miris, sebab tadi sore, karena panasnya udara dan kelelahan habis bertugas shift pagi sebagai satpam di sebuah pabrik, Toha meminum sisa segelas terakhir minuman itu..

“Maaf Nana, minumannya sudah Bapak habiskan..”

Nana tampak semakin kecewa.

“Tapi.. tapi.. Nana ingin minuman dingin..”

Toha memperhatikan tangan Nana yang menunjuk jendela, dimana tampak beberapa pasang orangtua dan anak duduk di resto seafood seberang jalan, tengah menikmati masakan lezat dengan minuman dingin yang nikmat.

Toha mengeluh pelan dalam hati.

Dicobanya mengingat-ingat kapan ia terakhir makan diluar bersama anak-istrinya.. Yang pasti, nampaknya sudah beberapa bulan ini ia tidak pernah lagi mengajak keluarganya makan di luar, bahkan untuk makan bakso yang terkenal beramai-ramai.

Bila menuruti hatinya saat ini, ia ingin membelikan segera anaknya ini minuman apapun yang ia inginkan. Tapi.. ini baru tanggal 16 Agustus.. masih seminggu lagi ia baru gajian, sementara uang mereka tinggal Rp50.000 kurang lebih. Setelah potong untuk uang transpor, untuk belanja saja belum tuntu cukup sampai gajian..

“Maap ya Nana.. “

Nana tertunduk, nampak sekali ia sangat kecewa.

Toha semakin merasa bersalah. Dibelainya anaknya itu sembari menahan hati yang terasa diiris-iris. Diangkatnya kepala sambil menghela napas panjang. Dilihatnya Marni baru masuk ke ruang tengah dari dapur membawa nasi, tumis kangkung polos, dan tumisan buncis dengan potongan tempe kecil-kecil..

Toha memperhatikan Marni yang mengenakan daster lusuh dipadu kain.

Alangkah beruntungnya aku memiliki kawan hidup yang ikhlas bersusah-susah seperti ini.. Bahkan aku tidak ingat kapan terakhir aku belikan Marni daster baru.. Pasti sudah lamaa sekali..

Toha kini melihat Marni menatapnya pula. Marni mencoba tersenyum tapi seperti tertahan. Nampaknya Marni melihat ekspresi Toha yang lain. Pasti begitu sebab kini Marni mendekat dan duduk di sampingnya. Lalu menyenderkan kepalanya ke lengan Toha.

“Nana..” Marni mencoba bicara, “Nana mau minum dingin ? Ibu punya sirup enaak deh.. apalagi kalau diminumnya pakai air dingin lalu diberi es batu.. Hmmm “

Nana kini mendongakkan kepalanya, yang dari tadi menunduk, menengok ke arah Ibunya.

“Nana mau, Bu..”

Mndengat itu, Marni berdiri dan menggamit lengan anaknya itu.. Tidak lupa mencium pipi suaminya mesra..

“Tadi pagi Ustadzah Salwaa berkunjung kemari mau ambil jahitan anaknya. Sirup itu titipan dari Ustadz Koko buat Bapak. Maaf Marni lupa bilang..”

AlhamduliLlah.. Toha mensyukuri rejekinya. Ustadz Koko dan istrinya itu memang perhatian sekali. AlhamduliLlah, lewat mereka, Nana jadi tidak terlalu kecewa karena keinginannya tidak ada yang bisa aku penuhi..

Mendadak Toha sedih kembali.

Apakah dengan kondisi kami yang seperti ini, Nana iri pada teman-temannya yang lebih baik ya ?

Toha memandang Nana yang duduk sambil bercerita pada Ibunya, sembari nampak gembira dan terpuaskan dengan sirup dingin yang mestinya memang sangat segar diminum di malam yang panas seperti ini.

Tiba-tiba Toha melihat Marni menyuruh Nana mendekatinya.

“Ada apa Nana ?” tanya Toha sambil mencoba tersenyum.

“Pak, Nana mau minta izin sama Bapak..”

“Waduh-waduh..” hehe bahasanya Nana, “Mau izin kenapa, Na ?”

“Kan tadi sore kan ada lomba anak-anak, tuh Pak..”

Yang dimasud Nana itu adalah lomba 17 Agustusan yang diselenggarakan RT kami yang memang dilaksanakan hari sabtu tadi 16 Agustus 2008, yang hari libur buat anak sekolah dan untuk sebagian besar karyawan.. kecuali orang-orang seperti saya yang bertugas model shift..

“Iya, Bapak tahu. Lalu Nana mau minta izin apa?”

“Nana tadi kan juara, dapat hadiah buku tulis.. banyak deh Pak, bagus-bagus bukunya..”

Toha tersenyum juga mendengar celotehan Nana yang penuh gaya itu.

“Kan buku tulis Nana udah banyak dan masih baru tuh..”

“Iya..?!”

Nana memandangku dengan kuatir..

“Kan ada temen Nana namanya Farah..”

Toha tersenyum.

“Farah ini kasihan deh Pak, masak dia buku tulis aja bekas.. “

“Oh ya?” masa sih segitunya, kalo buku teks yang bekas mungkin wajar, ini sih..” Wah..”

Lalu Nana, dengan gayanya yang sok manja kalo sedang minta sesuatu, mulai bertanya, “Boleh tidak Pak kalau buku hadiah Nana, Nana kasih ke Farah aja ? Kan kasihan Pak dia.. dia itu…..”

Toha sudah tidak mendengarkan lanjutan kata-kata Nana.

Ia memeluk Nana. Segala kekuatirannya hilang sudah.

Nana, boleh jadi secara ekonomi tidak punya, tetapi harapan Toha bahwa ia “kaya” sudah terpenuhi saat ini..

Merdeka, Nana.. Merdeka.

Kamu orang betul-betul sudah merdeka.. merdeka dari perangkap kemiskinan.. kamu merdeka Nana.. kamu kaya meskipun kamu tidak kaya..

Selamat ya Nak, kita sudah merdeka..

Setiap waktu ku berdoa
Pada Tuhan Yang Maha Kuasa
Jika kau sudah dewasa
Hidupmu bahagia sentosa

Timang timang anakku sayang
Kasih hati permata ayahanda
Tidurlah tidur pejamkan mata sayang
Esok hari bermain kembali

Ari AMS Latoeng

17 Agustus 2008 03:02 AM

Alumni SMO Angkatan ke-3

cerita ini juga bisa dibaca di

http://blogari.multiply.com/journal/item/88/cerpen_Kita_Merdeka_Nana..


[1] S. Effendy · Timang-Timang Anakku Sayang · Lirik diambil dari http://www.liriklagu.com/liriklagu_s/SEffendi_TimangTim.html

Published August 15th, 2008

Pembobolan ATM versi baru

Kehidupan makin sulit, pengangguran makin banyak, orang makin materialistis, tidak menghargai proses, maunya serba instant, maka segala macam cara dilakukan untuk mempertahankan hidup, diantaranya adalah menipu.

Kamis tanggal 7 Agustus 2008 saya memasang iklan di harian Pos Kota melalui suatu Biro Iklan di dekat rumah, untuk menyewakan rumah di Jatimakmur, Bekasi. Iklan dipasang esok harinya, Jumat 8 Agustus. Sore harinya beberapa calon penyewa menghubungi saya baik melalui telepon rumah maupun handphone. Mereka menanyakan lokasi persisnya, ingin melihat kondisinya dan tentu saja harga sewanya.

Sabtu pagi tanggal 9 Agustus 2008 jam 08.45  saya menerima sms dari hp dengan nomer +6285882045737. Tulisan sms demikian (aslinya): “Maaf! Info dr kmi bpk RUDI harian Pos Kota. Shbungan rmh yg  anda iklankn sudh ada yg brminat. Silahkn hub ibu Hj. ENDARWATI, SH. 081210584889. Trm ksh.”

 Baru siangnya jam 13.30 saya menghubungi no hp ibu Hj. Endarwati, SH. Yang menerima seorang laki-laki, dengan sangat fasihnya dia mengucapkan salam dengan lengkap, suara berat dan meyakinkan sekali “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

“Saya adalah suami Hj. Endarwati, SH, nama saya H. Rachmad. Saya sudah melihat rumah bapak, saya berkeinginan sekali untuk menyewanya selama tiga tahun, karena saya mau dipindah tugaskan ke Jakarta. Apakah rumah bapak sudah ada yang menyewa? Harga sewa per bulannya berapa?” lanjutnya.

Mendengar cara dan nada ucapannya, terlintas dalam pikiran saya, jangan-jangan ….jangan-jangan ….. Namun cepat-cepat pikiran tadi saya buang, tidak baik berpikiran negatif terhadap orang lain.

“Sampai saat ini rumah belum ada yang menyewa pak, bila bapak cocok dan berkeinginan menyewa silahkan. Harga sewanya pertahun Rp 7.000.000,” jawab saya.

Setelah tawar menawar akhirnya kami sepakat bahwa rumah akan disewa selama 3 tahun seharga Rp 20.000.000. Negosiasi terkesan sangat lancar dan cepat. Sebelum menutup percakapan, ia mengatakan bahwa barang-barangnya akan dimasukkan pada tanggal 15 Agustus 2008 dan pesan agar tidak diberikan orang lain.

Kurang lebih setengah jam H. Rachmad menghubungi saya lagi dengan hp. Dia mengatakan akan memberikan  uang muka, karena khawatir kalau saya akan memberikan pada orang lain yang berani menyewa lebih tinggi. Untuk itu dia akan memberi uang muka sebagai uang kunci sebesar Rp 5.000.000, yang segera di transfer hari itu juga. Dia juga menanyakan nomor rekening saya.

Nomor rekening saya sampaikan lewat sms. Kira-kira sejam kemudian dia menghubungi saya lagi lewat sms. Tertulis di sms: “Dpnya sudh kami transferkn, silahkan dicek sekrng, apabila blm masuk segra hbungi sy, agr sy komplain di bank supaya ditransfer ulang trm ksh.”

Saya ke ATM terdekat di Slipi Jaya untuk mengecek, ternyata dana yang ditransfer belum masuk. Kemudian melalui sms saya beritahukan bahwa dana belum masuk ke rekening saya. Tak lama kemudian dia mengirim sms agar saya menelpon balik.

Saya penuhi permintaanya untuk menelepon balik dengan hp. Dia tanya apakah saya masih di ruamg ATM, jika masih agar saya  memasukkan lagi ATM untuk dicek sama-sama.

Saya mulai curiga. Sudah tidak ragu lagi, pasti saya akan ditipu

Permintaannya saya tolak, saya minta agar dia mengulang lagi mentransfer dan akan saya cek setelah ditransfer. Tidak semudah itu jawabnya. Dia masih ngotot, menjelaskan bahwa dia mentransfer lewat internet, jadi perlu di cek bersama lewat ATM. Akhirnya saya bilang bahwa saya ragu terhadap kesungguhannya, kalau memang mau membayar DP silahkan transfer uangnya. Kemudian hp saya matikan.

Ternyata sampai esok harinya dia tidak menghubungi lagi. Kalau memang mau menyewa rumah saya dan dia orang baik-baik tentu dia akan menghubungi lagi. Jadi dia adalah penipu, mau membobol ATM saya. Allah masih melindungi saya sekeluarga.

 

 

Published August 15th, 2008

Don’t judge a doctor by the story

Deg-deg-an! Itu yang saya rasakan ketika pagi itu saya mengunjungi dokter kandungan untuk pap smear. Dokter ‘langganan’ saya sebelumnya adalah seorang wanita. Karena satu dan lain hal saya terpaksa ‘berpindah dokter’. Acara ‘pindahan’ ini yang membuat saya dag dig dug tidak karuan. (more…)

Published August 13th, 2008

Roda Kehidupan


Bila kita melihat roda kehidupan ini, maka kita akan menyadari bahwa setiap orang mempunyai permasalahan yang berbeda-beda. Masalah tersebut bagi seseorang dapat menjadi beban tapi bagi yang lain tidak, begitu juga sebaliknya.


(more…)

Published August 13th, 2008

dekat di mata (lebih) dekat di milis

Sekarang ini eranya teknologi canggih. Telepon genggam bukan lagi barang mewah. Bukan hanya sekedar menelepon atau mengirim pesan singkat. Mendengarkan musik dan mengirim emailpun bisa dilakukan. Orang menenteng-nenteng laptop bukan lagi pemandangan langka. Kalaupun laptop masih dianggap terlalu merepotkan, ada perangkat lainnya seperti PDA atau Blackberry.

 

Jalinan hubungan antar individu mengalami perubahan. Tak hanya di dunia nyata, menjalin pertemanan bisa dilakukan di dunia maya. Milis-milispun bermunculan. Ada milis yang dibentuk berdasarkan kesamaan hobi, profesi, tempat tinggal dan banyak lagi lainnya. (more…)

Published August 13th, 2008

Karena Pengasuhan Bukan Penampungan

Ternyata, pedih rasanya mengasuh anak tanpa perjanjian hitam di atas putih. Hanya sebatas dititipi lalu dengan mudah seenaknya dapat diambil kapan saja. Saat sedang terpuruk penuh beban, datang berurai air mata mempercayakan pengasuhan. Selesai penat lelah, terasa lenggang, membawanya pergi tanpa memikirkan perasaan. Bahwa ada sebuah hati yang telah dihinggapi cinta dalam ikatan naluri seorang ibu. (more…)

Published August 12th, 2008

sang guru

Kemari, datanglah padaku

Kutunjukkan ladang cintaku

Bawalah benih padi, tanamkanlah ditengahku

Kesuburanku menjadi jaminan

Akan hasil dari jerih nikmatmu

 

Tak perlu bimbangmu itu

Apalagi sampai ragu

Kerlingku bukan untuk menggodamu

Aku hanya mencoba tawarkan suka

Untukmu

(more…)

Published August 11th, 2008

seri - cerita masa kecil

Masih ingat Bendhol? Dalam kesempatan ini, si Bendhol masih kena dikerjain sama sal. Badan boleh gedhe, otot boleh kuat. Tapi, soal licik sal tiada duanya. Penasaran? Baca dech… sekalian nginget-inget bahasa pribumi, jangan sampai keduluan dibajak Malaysia.

(more…)

Published August 11th, 2008

Harum Bunga?

Undangan itu berwarna krem. Berbentuk persegi panjang berukuran 21 cm x 11 cm. Wangi harum tercium ketika saya membuka plastik yang membungkusnya. Sekeliling tepinya dihiasi dengan rangkaian bunga yang dicetak timbul. Di sebelah atas bagian depannya terdapat tulisan “The Wedding”. Masih di bagian depan, disebelah kiri terdapat ‘jendela’. Didalamnya tertulis nama mempelai dengan latar berwarna merah marun. (more…)