A Great Deal
Ruangan itu berada di lantai paling atas Art Building, dibatasi oleh kaca lebar di bagian sisinya yang berbentuk setengah oval. Dua buah sofa hitam pekat dan satu set televisi layar datar akan menghadang langkahmu yang baru memasuki ruangan. Matthew Artson—sang pemilik utama Art, sedang duduk di atas sofa menanti kopi yang kau bawakan. Kau memberikan senyum termanismu ketika meletakkan cangkirnya di atas meja kaca dan menunggu balasan terima kasih dari parasnya yang menawan. Kau menoleh untuk beberapa mili detik dan..
“Breaking News! DesignWatch menggebrak pasar. WA92, salah satu produk terbaru dari DesignWatch telah terjual satu juta unit dalam waktu kurang dari satu minggu! Berikut adalah laporannya. Silahkan Wina,” seorang wanita berparas cantik berteriak dari layar televisi.
Kau tersenyum kecut karena cemburu, ia telah merebut perhatian Matthew yang kini telah merubah posisi duduknya. Ia tidak tersenyum padamu hari ini. Kau berjalan mundur beberapa langkah, tampak enggan meninggalkan ruangan besar yang hanya diisi beberapa perabotan minimalis itu.
***
Daniel Shiender menatap televisinya dengan gusar, tidak sabar untuk mendengarkan laporan dari reporter yang bernama Wina. Sela-sela jari kakinya menyentuh bulu-bulu halus berwarna putih bersih yang terhampar di sepanjang ruangan, tangannya mengelus kucing Persia yang dibelinya seharga lima ratus juta di atas pangkuan.
Sesaat kemudian layar berganti, menunjukkan suasana desak mendesak yang tengah terjadi di salah satu toko penjualan resmi produk DesignWatch. Sang reporter mempertahankan posisinya berdiri di samping seorang pria tua, di bawahnya terdapat tulisan “Sorodus Verta, CEO DesignWatch.”
“Selamat siang Pak. Langsung saja, sebenarnya apa yang dilakukan DesignWatch sehingga WA92 mampu menggebrak pasar seperti ini?” tanya Wina setengah berteriak.
“Tidak banyak. Kami hanya menawarkan produk yang mampu menjangkau semua umur, modis, dan tentunya berkualitas sangat tinggi,” kata Sorodus dengan suara kerasnya. “Kami juga patut berterima kasih sebanyak-banyaknya terhadap Pak Shevan Right karena sejak beliau memakai produk kami dalam konferensinya beberapa hari yang lalu, penjualan produk kami meroket,” tambahnya.
“Shevan Right!” Daniel Shiender memekik terkejut. Pemilik utama dari Shilous—produsen sepatu ternama dengan motto Shiny and Fabolous, terlonjak berdiri. Kucing Persia-nya jatuh ke atas karpet berbulu halus dengan mengeong keras.
Shevan Right adalah Mr. Perfect bagi sebagian besar orang di negara ini. Parasnya yang menawan, postur tubuhnya yang bidang, serta kekayaannya yang tiada tara mempesona setiap wanita. Ditambah dengan kemampuannya yang luar biasa dalam mencetus, mengelola, dan mengembangkan perusahaan-perusahaan yang telah dirintisnya, ia adalah seorang pengusaha sejati. Ia dihormati seluruh karyawannya karena wibawa dan kebijaksanannya dalam menentukan setiap langkah. Ia adalah orang yang baik, halus, juga romantis, sering kali ia berkampanye dalam membela hal-hal yang dianggap sebagai golongan minoritas: ras terkucilkan dan menjunjung tinggi hak seorang wanita. Ia juga seorang trend setter, seseorang yang unik. Di atas semua itu, status single-nya selalu menjadi sorotan masyarakat.
***
“Sudah saatnya Art mengambil nama dalam industri sepatu! Tentu Right bisa membantuku!” seru Matthew Artson di atas sofanya seperti sedang berorasi.
***
“Tapi bagaimana caranya?” Daniel berpikir keras. Saat itu televisinya berbunyi lagi..
“Selanjutnya. Shevan Right akan merayakan ulang tahunnya tiga bulan mendatang secara besar-besaran. Pesta akbar ini akan melibatkan seluruh bagian dari perusahaan-perusahaannya, diperkirakan..”
***
“AHA! Ini dia kesempatanku! Lihat saja Art, kau tak akan menang kali ini!” ujar Daniel Shiender semangat.
“Kali ini aku yang akan menang dan Shilous akan bertekuk lutut! Hahaha!” Matthew Artson berteriak dari lokasi yang berbeda.
***
“Teman-teman, pada pertemuan kita kali ini saya akan mengumumkan sebuah proyek baru yang akan kita kerjakan selama tiga bulan mendatang. Proyek ini berhubungan dengan Shevan Right dan pesta ulang tahunnya. Saya memiliki rencana bahwa kita akan memberikan Shevan produk yang khusus kita buat untuknya untuk ia pakai selama pesta, dengan demikian popularitas Art pun akan terdongkrak dengan sendirinya. Sampai di sini, ada tanggapan dari teman-teman?” ujar Matthew dalam rapat kecil yang terdiri dari orang-orang khusus yang sekiranya mampu menangani proyek ini agar aktivitas Art yang lain tidak terganggu.
Ruangan pertemuan yang berada tepat di bawah ruangan Matthew ini diisi dengan sebuah meja panjang besar dengan banyak kursi yang berderet di sisi-sisinya. Hanya hening yang terdengar diselingi dengan geram halus mesin pendingin ruangan.
“Baiklah kalau begitu. Untuk konsep awalnya saya meminta ide dari teman-teman sekalian untuk melahirkan produk yang nantinya seolah-olah mencirikan Shevan namun tidak menghilangkan cita rasa produk Art sehingga selanjutnya dapat dipasarkan untuk masyarakat luas,” kata Matthew. “Ya! Silahkan Vina,” ia berkata kepada seorang wanita muda berkaca mata yang baru saja menangkat tangannya.
“Pak Matthew, selaku bagian produksi sol, saya berpendapat bahwa nantinya di bagian dasar sepatu untuk Pak Shevan akan dibuat pola anti selip tercanggih dari Art yang mampu mengatasi dua medan berbeda: tekstur bebatuan yang licin maupun keramik basah. Pola tersebut juga akan membentuk logo Art. Apakah Bapak setuju?” ujar Vina.
“Baik. Kalau teman-teman yang lain tidak ada yang keberatan tentunya tidak masalah bagi saya,” kata Matthew ringan lalu ia menambahkan, “ada hal lain yang ingin disampaikan?”
“Mengenai bahan sol itu sendiri, saya menganjurkan tiga pilihan yaitu dengan menggunakan plastik secara injeksi biasa, plastik secara injeksi dan blow, dan terakhir menggunakan titanium dengan bahan tambahan untuk bagian dasarnya. Mana yang akan kita gunakan?”
Verdin mengangkat tangan. “Ya, silahkan Verdin,” kata Matthew.
“Menurut saya, injeksi biasa tidak cocok untuk Shevan karena massanya cukup berat serta terlalu biasa, dan jika menggunakan injeksi dan blow maka yang ditakutkan adalah penurunan kualitas akibat adanya rongga. Saya kira titanium sangatlah cocok untuk sosok Shevan,” ujar Verdin kaku. Vina menatapnya dengan pandangan lain, ia senang karena kekasihnya menghargai pemikirannya itu. Ia tersenyum manis pada Verdin.
“Bagaimana, apakah ada tanggapan lain? Saya cukup setuju dengan usul Vina dan Verdin,” kata Matthew sambil melihat ke seluruh peserta rapat. “Baik, saya kira tidak ada tanggapan lain. Bagaimana dengan bagian lain? Konsep untuk badan sepatu? Saya mengharapkan agar konsep untuk badan sepatu ini harus menonjolkan sosok Shevan yang merupakan target utama kita.”
“Ya, Jonathan?”
“Untuk badan sepatu, saya mengajukan konsep seperti berikut: di seluruh permukaan badan sepatu dilukiskan logo Art terkecil yang pernah ada sehingga kumpulan logo-logo tersebut dapat membentuk wajah Shevan. Untuk bahan nantinya akan disesuaikan dengan tinta yang digunakan,” ujar Jonathan sambil mengambil sketsa yang baru saja ia buat di laptop layar sentuhnya lalu menampilkannya di layar proyektor.
Jonathan mengambil sebuah pena dari sakunya yang dapat dipanjangkan menjadi penunjuk di layar. “Di bagian-bagian ini ditaburkan permata berwarna-warni,” ujarnya sambil menggerak-gerakkan pena di udara. “Permata yang digunakan..”
***
Sementara kawan-kawan di Art sedang mendiskusikan konsep sepatu yang akan diproduksi, Daniel berkutat di depan meja gambarnya. Ia lebih suka mengerjakan segalanya sendirian. Di sebelah kanannya terhambur peralatan gambar, alat-alat elektronik, kabel-kabel, dan part-part kecil lainnya.
Ruang kerja ini tidak selalu tampil tertutup dengan jendela yang selalu tertutup gorden tebal, lantai beralaskan karet—tidak seperti ruang kantornya yang mewah, serta dengan sebuah telepon untuk memanggil asisten ketika ia membutuhkan makanan, minuman, atau kebutuhannya yang lain. Daniel bekerja tanpa mengenal waktu, saat mengantuk ia tidur sejenak lalu terbangun lagi, saat lapar ataupun haus ia makan dan minum, lalu bekerja dan bekerja lagi. Daniel tidak perlu memikirkan hal lain, toh ia belum berkeluarga. Di dalam pikirannya hanya ada satu kata: kerja.
Setelah sekitar satu setengah minggu penuh kerja keras, konsep Daniel selesai ia rampungkan. Sepatu yang akan diproduksinya dapat terhubung dan menjadi satu dengan iPod yang dihubungkan dengan handset tanpa kabel. Istimewanya, sepatu ini dapat melindungi sang pemilik dari cipratan-cipratan air maupun lumpur. Secara otomatis sepatu itu akan mengeluarkan semacam tameng plastik dari dasar sol sepatu ketika ada benda cair yang mendekat dari sisi-sisi kaki. Proteksi yang diberikan hingga selutut sehingga Shevan tidak akan perlu takut celananya akan kotor ketika secara tidak sengaja menginjak kubangan air. Daniel pikir Shevan akan menyukai konsepnya sebab Shevan suka berjogging. Sepatu ini juga kedap air! Dengan hanya menekan satu tombol, tameng plastik akan muncul dan jadilah ia kedap terhadap air.
Dua setengah bulan lamanya kedua perusahaan itu sibuk, baik Art maupun Shilous. Matthew mengawasi segala tahap produksi sepatu yang sangat spesial itu, begitu juga dengan Daniel. Dengan pendekatan yang berbeda mereka bersaing, yang satu mengutamakan kemewahan dari sebuah karya seni sedangkan yang lain mengutamakan fasilitas, teknologi tinggi.
Keduanya telah mengantarkan sepatu-sepatu mereka ke kantor Shevan, dan seperti biasanya—Shevan tidak berada di kantor.
Matthew dan Daniel terpaku menatap monitor masing-masing. Matthew berharap-harap cemas sambil terkadang menoleh ke kiri, melihat pemandangan kota melalui kaca setengah ovalnya yang lebar—tak pernah ada gorden yang menghalangi sinar matahari untuk masuk ke ruangan itu, maka Matthew pun berharap agar tidak ada yang menghalangi email Shevan hari itu.
Daniel duduk di meja kantornya yang beralaskan karpet Shaggy, dengan secangkir kopi dan kucing persia di pangkuannya—yang sekitar dua bulan ini telah ia telantarkan.
“You’ve Got A Mail!” speaker Matthew dan Daniel sama-sama menjerit. Keduanya terlonjak dari lamunan mereka. Mereka tahu, hari ini adalah hari penentuan seperti yang telah dijadwalkan—Shevan akan memberi keputusan.
***
Kepada Bapak Matthew Artson dan Bapak Daniel Shiender,
Saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Art dan Shilous atas hadiah yang telah diberikan. Sungguh, saya sangat menyukai keduanya. Ada pun mengenai alasan saya mengirim surat yang sama kepada Bapak Matthew dan Bapak Daniel adalah karena saya tidak dapat menentukan saat ini mengenai sepatu manakah yang akan saya kenakan pada saat acara nanti. Bersama surat ini saya lampirkan undangan kepada Bapak Matthew dan Bapak Daniel agar sekiranya dapat menghadiri acara perayaan ulang tahun saya. Terima kasih.
Salam,
Shevan Right
***
Matthew dan Daniel berdiri terpaku di atas karpet beludru berwarna merah darah itu, keduanya bertatapan lama. Kini adalah saat penantian terakhir, untuk mengetahui hasil pertandingan—dan perjuangan.
Suasana penuh sesak, ribuan yang hadir, gaung celoteh terdengar menggema, namun Matthew dan Daniel tetap diam. Menatap. Mengamati.
Detik-detik itu pun datang, Shaven pun muncul!
Shevan datang dari pintu yang terletak di kanan ruangan, dekat dengan meja panjang kayu bagai raja yang berada di podium kerajaannya. Satu kaki ia langkahkan, perlahan tampak ujung sepatu Art menghiasi kakinya.
Lutut Daniel lemas sudah, ia tahu, ia telah kalah. Wajah Matthew berseri-seri namun sebelum ia menyelesaikan “Yess”-nya Shevan melangkahkan kakinya yang satu lagi dan ada sepatu Shilous di sana!
Keduanya membatu di tempat. Shevan memakai keduanya!
Namun sesaat kemudian wajah berseri-seri hilang dari keduanya, saat Shevan duduk di meja panjang mereka baru tersadar bahwa meja tersebut melindungi Shevan dari pinggang hingga kaki. Artinya, sepatu yang ia gunakan tidak akan terlihat!
***
Esok paginya Matthew dan Daniel menekuk muka mereka ketika menonton berita di televisi. Penjualan jam tangan, kemeja, model rambut, hingga gel yang digunakan Shevan membludak, dan kedua toko mereka tetap damai tentram sunyi senyap di pagi hari yang cerah itu.


June 6th, 2008 at 7:27 am
terus terang… ini cerita yang menarik… tapi, kurangnya dimana saya kurang paham, karena saya harus memnbacanya 3 kali baru mengerti, mungkin karena saya yang kurang konsentrasi saat membacanya.
June 6th, 2008 at 7:30 am
wakk,kurang_pahamnya_apa_karena_penyelipan_sudut_pandang_”kau”,_di_awal_cerita?
btw,thanks_sudah_membaca,he_he_he.
June 6th, 2008 at 8:34 am
Tulisan ini hemat saya kaya dengan imajinasi. Untuk Cassle atau Citra ..selamat ya sudah menghasilkan tulisan yang menarik. Kayaknya Citra..paham bener dengan bisnis sepatu he..he…bahkan punya imajinasi sepatu masa depan he,..he.
June 6th, 2008 at 8:38 am
mungkin tentang nama dan bagaimana kalimat bercerita, bagaimana anda mendeskripikan. entahlah, tanyakan pada ahlinya….
June 6th, 2008 at 9:58 am
aah, mungkin saya harus memperbanyak kata-kata yang lebih umum mungkin ya, thanks again buat Kania. . untuk Pak Heri ehehehe, tenang Pak, saya bukan pengusaha sepatu kok. . hahaha.
June 6th, 2008 at 2:50 pm
Setuju dengan Kamia, cerita ini memang menarik. Kenapa ?
Banyak ketidakjelasan dan bikin bingung.
Saya mengungkap adanya persaingan design sepatu antara Daniel Shiender dengan Matthew Artson, yang jadi pertanyaan saya adalah. Apakah Daniel & Matthew ini dalam satu company yang sama ? trus, apa hubungannya dengan Design Watch. Korelasi inilah yang tidak diungkap sehingga membuat bingung.
Trus lagi, Shevan Right itu siapa? kenapa mereka berdua berusaha membuat design sepatu agar tuch orang mau memakai? Ini yang belum diungkap dalam tulisan sunlita.
Saat membaca paragraf pertama, inilah asumsi saya :
Daniel Shiender sedang nonton TV, dimana adegan TV tersebut menayangkan Matthew sedang disuguhi kopi oleh “kau”. Siapa sich kau ini? Cukup mengkerut dahi aku membaca, tapi penasaran. Jadi aku terusin aja bacanya. Meski bingung.
Saya semakin kabur dalam hal penafsiran sbb:
1. tokoh cerita ini berdasarkan orang pertama, kedua, atau ketiga?
2. yang hendak diekspos itu Daniel atau Matthew? Masalahnya porsi mereka tuch sama.
3. Daniel terkesan digambarkan seorang pekerja keras tapi sendirian, sementara Matthew Artson bekerja secara team. Apakah benar demikian?
Mungkin itu 3 point membuat bingung saya coba petakan.
Bisa memperkecil quota kebingunagan pembaca lagi seandainya setiap penggalan paragraf diberikan satu kalimat pembantu (definisi situasi/lokasi). Seperti pada paragraf ke-3 misalnya, tidak ada kalimat pengantar lokasi. Tahu-tahu langsung dialog. Bingung kan?
Hmmm, cukup mengundang senyum juga (malah jadi cerita humor nich) saat membaca paragraf 9 “…melindungi Shevan dari pinggang hingga kaki”. Kenapa saya tersenyum? Kasihan aja mereka berdua, Daniel dan Mattew sama-sama bersaing keras dan sepatu mereka dipakai. Tapi, tidak kelihatan public, justru jam tangan hingga model rambut yg tidak disinggung dari awal cerita malah tahu-tahu menjadi penutup.
Apalagi saat tiba diparagraf terakhir “kedua toko mereka tetap damai tenteram sunyi senyap dipagi hari yang cerah itu”. Ampun dech, srakah amat penggambaran “menyedihkannya” sampai damai tenteram sunyi senyap (4kata berturut-turut) dipakai semuanya.
Ternyata itu toch yang dimaksud dengan judul “a gread deal”, berjuang keras sikut-sikutan. Tapi sama-sama kalah.
Sipp, Mantab!
Tinggal poles dikit, jadi dech penulis hebat.
Salam kenal,
salwangga
June 7th, 2008 at 10:26 am
Terima kasih komentarnya Pak Salwangga..
Um.. saya memang kurang memberikan profil kedua perusahaan yang bersaing namun Matthew dari Art dan Daniel dari Shilous, Art dan Shilous adalah dua merek/perusahaan yang berbeda.
2. DesignWatch hanya menjadi “penghias” tujuannya menyampaikan betapa pentingnya Shevan Right ini, karena produk mereka dapat laku keras hanya dengan dipakai Shevan satu kali saja.
3. unsur “kau” di sana tidak lain hanya pandangan dari sudut pandang yang berbeda. Saya juga kurang bisa menjelaskan, tapi saya coba posting cerita setelah ini–yang menggunakan banyak sudut pandang berbeda seperti unsur “kau” di sana.
4. sudut pandang cerita ya? Hm.. berpindah-pindah nampaknya. ^^
5. Betul, Anda menangkap dengan baik, keduanya memang mendapat porsi yang sama, tidak ada yang diekspos.
6. Betul (lagi).
7. Hehehehe, iya, kadang saya lupa deskripsinya.. ^^
8. Terima kasih banyak atas tanggapan Pak Salwangga, saya akan berusaha lebih baik lagi untuk cerita selanjutnya..
June 7th, 2008 at 10:29 am
Oalaah, ternyata tampilan paragrafnya agak kurang sesuai di sini, maaf-maaf.. (jadi gak ada spasi antar paragrafnya sama sekali)