ABANG, KAPAN DIKAU PULANG…………………??
Tidak pernah menyangka, ternyata tinggal di Negara orang bisa bertahan bertahun-tahun, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan dan terbayangkan sebelumnya, hari demi hari telah berlalu, musim panas dan dingin juga silih berganti dari tahun ketahun, sudah hampir 7 tahun, saya dan teman-teman seperjuangan menginjakan kaki di Negara Kuwait ini.
kenapa saya bilang seperjuangan, ya karena waktu itu kita mengikuti pelatihan bersama-sama, berangkat barengan kesini dengan satu tujuan, satu niat dan cita dalam rangka merubah nasib dan mencari penghidupan yang lebih baik dari penghidupan di negeri sendiri, walaupun harus meninggalkan sanak saudara bahkan anak dan istri tercinta.
Aneh memang atau mungkin karena kebutuhan hidup yang tidak kunjung berkurang, malah kelihatanya cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu, itikad untuk pulang itu bukan tidak ada bahkan boleh dibilang sangat menggebu dan besar sekali, hanya masih saja ada halangan dan pertimbangan yang menghalalngi dan menguatkan untuk tetap tinggal disini.
Saya sangat peraya bahwasanya semua teman-teman disini , secara naluri ingin segera pulang dan mengakhiri pekerjaan disini apalagi bagi teman-teman yang keluarganya tinggal di indonesia, keinginan itu sudah sangat besar, namun pasca kepulangan itu yang masih menjadi persoalan besar, apa yang akan kita kerjakan disana apabila sesuatunya belum disiapkan dengan matang.
Kecintaan terhadap tanah air dan kampung halaman adalah sesuatu yang wajar, naluriah dan sunnatullah, bukan hanya kita tapi semua bangsa dan manusia mempunyai perasaan seperti itu, bukankah sahabat Rosulullah juga Bilal bin Rabbah pernah menyanyikan sebuah syair tentang kecintaanya pada tanah air makkah al mukaromah, sehingga sampai-sampai di tegur oleh Rosulullah supaya berhenti bersenandung karena beliau sendiri merasa tidak kuat untuk mendengarnya, mengiris hati, mengingatkan beliau akan kota makah pada waktu itu.coba simak syairnya Bilal bin Rabbah :
Oh angan …………..mungkinkah semalam saja aku dapat tidur
Disuatu lembah,dan rumput idhkir serta teman disekitarku
Mungkinkah sehari saja, aku mendtangi mata air mijannah
Mungkinkah syamah dan thafil billal
Yang menjadi persoalan adalah, seperti dikatakan diawal bukan tidak ada keinginan untuk segera pulang, namun pasca kepulangan itu, memulai kehidupan disana yang masih buram dan belum siap terutama secara kerapihan financial, itu yang menjadi persoalan utama.
Kepulangan ke tanah air sebetulnya bukan sesuatu yang sulit, bahkan bisa dibilang mudah, kita hanya tinggal menandatangani pernyataan resign dan dalam waktu tigabulan sudah bisa melanggeng meninggalkan Negara ini.Akan tetapi ketika persiapan dan kehidupan disana yang belum direncanakan secara matang sangat boleh jadi beberapa tahun kedepan kita akan kembali lagi kesini atau kenegera lain untuk mencari pekerjaa
n yang sama, terus apa faedahnya kita pulang ketanah air tergesa-gesa kalau diakhirnya harus pergi lagi.
Dalam hal ini menurut hemat saya, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan dengan matang sehingga kepulangan kita benar-benar berkah, bisa berkumpul dengan keluarga selamanya dengan tidak keurangan sesuatu apapun, makmur dan sejahtera, bisa santai duduk –duduk disana menikmati kerja keras kita selama ini di luar negeri, adapun yang harus dipersiapkan antara lain adalah :
1. Perencanaan yang baik dan matang, baik perencanaan untuk diri kita, istri anak dan sanak saudara, apa yang akan kita lakukan setibanya ditanah air, hal yang pasti apakah kita masih akan bekerja lagi, mudahkah mencari pekerjaan pada saat saat seperti ini, atau apakah kita akan kuliah lagi, sudahkah dipersiapkan biayanya yang mencukupi atau kalau mau berbisnis , sudah siapkah dan punya pengalaman kah dalam hal ini , jangan sampai ketika tiba disana kebingungan dan tidak tahu apa yang akan kita kerjakan.
2. Sebaiknya kita jangan bekerja lagi dengan posisi yang sama seperti dulu sebelum berangkat kesini. seandainya seperti itu berarti satu kemunduran telak. Lihat saja teman-teman seangakatan kita dulu di bangku kuliah yang meniti karier di indonesia kebanyakan sudah melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi, rata –rata mereka sudah bertitel sarjana keperawatan, banyak yang sudah jadi dosen dan pembingbing, sementara yang berkarier di Rumah sakit/ praktisi sudah menjadi kepala ruangan bahkan sebagian sudah menduduki direktur keperawatan, jadi bagaimana dengan kita yang masih tetap saja denga diploma nya.
3. Mempunyai pendapatan tetap yang memadai dari investasi yang ditanam selama bekerja disini, ini adalah alternative yang mesti atau keharusan. sehingga walaupun tidak bekerja masih ada yang bisa diharapkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.Hendaknya investasi ini bersipat solid, tidak instan , tidak jatuh harganya bahkan cenderung meningkat, contohnya kost-kostan , ruko, rumah yang disewakan , minimarket, spbu kalau mungkin, tentu dengan kapasitas dan jumlah yang memadai.dll
Jadi, sudah siapkah kita untuk pulang kampung dengan membawa senyuman yang lebar, menjadi bos di kampung sendiri…!
Seandainya, hal hal tersebut diatas belum tergambar dalam benak kita, alangkah baiknya apabila rencana kepulangan kita diundur dan di reset ulang,.
Adapun bagi teman-teman yang masih mempunyai kepentingan untuk tetap tinggal disini, jangan bersedih apalagi berkecil hati, banyak kelebihan dan nilai-nilai positif yang bisa didapatkan disini yang sulit didapatkan diindonesia, misalnya kenyamanan dalam beribadah relative lebih baik, waktu yang tepat untuk mempelajari bahasa muslimin, bahasa arab, pengalaman berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain adalah modal yang hebat untuk bekal kita kelak disana, dan tentu saja pendapatan finance yang sulit didapatkan di indonesia dengan status dan profesi yang kita sandang sekarang ini.Bumi diinjak langit dijunjung, dimanapun kita berada kita masih tetap tinggal di bumi Allah.
Jadi ketika istri saya nan jauh disana bertanya, kapan akan pulang..?? saya hanya jawab Insya allah sudah dekat, ya sudah dekat…?
KURNIA
SISWA SMO ANGK.4


August 25th, 2008 at 11:51 am
Kalimatnya panjang-panjang banget ya…
August 25th, 2008 at 1:54 pm
wah, adik kelas lagi curhat nih? met datang di blog “begajulan, tapi bertanggung jawab”
“kapan pulang?”
“sudah dekat. ya, sudah dekat”
pulang kemana nih? urusan “pulang” memang mistery. ups, gak nyambung ya…
August 27th, 2008 at 9:59 am
terimakasih atas komentarnya, boleh komentar yg lainya lagi ya………
August 31st, 2008 at 8:59 pm
“kebutuhan hidup yang tidak kunjung berkurang, malah kelihatanya cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu”
Penggalan kalimat tersebut menggambarkan situasi yang cukup jelas, yaitu semakin besar pendapatan semakin besar pula pengeluarannya. Ya, saya harus mengatakan bahwa itu adalah bagian dari hak Anda untuk memilih profesi dan di mana Anda bekerja. Namun, bila dilihat secara keseluruhan dari tulisan ini, tentu kalimat tersebut membiaskan semangat dan tujuan tulisan yang sebenarnya.
Apa yang saya tangkap adalah, Anda agak ‘tersiksa’ di sana pun belum siap untuk kembali ke tanah air. Maka, poin-poin yang telah Anda berikan tampaknya menjadi jauh di mata saya. Namun, harus saya akui pula semangat Anda tetap mencoba membawa mereka kembali mendekat.
Biar bagaimana pun, lebih sulit membaca konsep sebuah tulisan yang panjang. Sebaliknya, tulisan yang pendek juga terkadang mudah disapu waktu.
Salam.
P.S.: Jangan melupakan EYD.
September 3rd, 2008 at 12:39 pm
Dear Dudih,
curhatannya nggak perlu pakai kalimat yang panjang2. Nggak ngerti dan bikin bingung lhooh…. kalau naskah kayak gini dikasih ke penerbit, terus yang baca kebetulan editor yang sudah ’sepuh’ halah, pasti langsung didrop kalaupun sebenarnya tulisan anda isinya bermutu.
Kinoysan
September 5th, 2008 at 1:38 am
tulisan yg panjang maksudnya gimana ya?kepanjangan naskahnya atau kepanajngan paragrafnya?
September 5th, 2008 at 1:39 am
kepanjangan maksudnya kepanjangan aopanya ya, naskah atau pragraf, terimakasih