Adakah yang salah?
Tidak..tidak ada yang salah pada diriku. Bajuku bersih tak bernoda, wajahku juga bersih. Ah, mungkin rambutku. Rambutku pun tidak..dia rapi tersisir ke belakang. Kukuku? Aih, kukupun pendek dan bersih. Tapi mengapa tatapan mereka aneh terhadapku? Ada yang salahkah? Kembali kutanyakan pada diriku mengapa mata mereka tak juga lepas dariku. Sambil tetap berjalan aku menyusuri koridor. Kiri dan kanan mereka tetap menatapku. Jangan…jangan lihat lagi ke diriku seperti itu! Aku bukan pesakitan, aku bukan korban perang, dan aku juga bukan orang asing. Tundukkan mata-matamu..lihatlah ke arah lain. Aku sungguh tak nyaman dengan pandanganmu itu. Masih diikuti beberapa pasang mata, aku tetap berjalan dengan sedikit kepercayaan diri yang mulai runtuh. Sedikit..yah sedikit saja. Kutundukkan kepala tanda aku mulai kehilangan kepercayaan diri. Kulirik sedikit-sedikit mereka. Tapi mereka tak jua memalingkan pandang. Oh…Tuhan tolong…jauhkan pandangan mereka dariku…pintaku memohon sambil tetap berjalan. Aku bukan lah pajangan, dan bukan lupa anjing kudisan. Oh…Tuhan…mereka keterlaluan!! Masih juga tak lepas dan pandangan mereka semakin menghujam. Duh, sakit..! Tolong hentikan!! Aku tersiksa. Lebih baik kau muntahkan semua caci maki mu padaku dari pada kau memandangku dengan hina. Aku melangkah lagi..makin kehilangan percaya diri. Runtuh…runtuh..akhirnya pertahananku. Air mata mengalir tak terasa. Aku sungguh tak berdaya. Hingga di ujung koridor aku menemukannya. Menemukan penyelamatku pada akhirnya.
“Banyak dapatnya?” tanya seseorang di ujung penyelamatan.
“Tidak…mereka menghinaku semua..” jawabku sambil turun dari pintu bis dengan dua tanganku. Kacang rebus masih banyak di punggungku.
Mereka tak pernah mau tahu, bahwa akupun berhak menegakkan kepala.


August 20th, 2007 at 2:55 pm
ini cerpen ya mbak? sudah selesai sampai sini apa masih ada lanjutannya?
August 21st, 2007 at 8:11 am
Wah, saya sih maunya sampai sini saja. Terlalu pendek ya? Tapi dapet ngga maksudnya?
Syarat cerpen harus lebih panjang ya?
August 21st, 2007 at 10:05 am
Terlalu pendek sih rasanya enggak, saya malah pernah baca buku (kalau gak salah karya Albertheine Indah.. aduh saya lupa) yang jelas isinya kumpulan cerpen yang gak lebih dari 10 kalimat.
Tapi memang kalau tulisan kita pendek gini, jadi bikin penasaran yang baca.
Yang menurut saya cukup mengganggu justru di tulisan ini tidak di bagi dalam beberapa paragraf yang terdiri dari satu pokok pikiran (booo bahasa… ala guru bahasa indonesia hehehe) Walaupun tulisan tulisan gaya baru umumnya sudah tidak terlalu memusingkan urusan EYD dan segala teori-teori itu… tapi kalau dipenggal dalam beberapa paragraf mungkin memudahkan pembaca untuk mengerti isinya.
saya suka ide ceritanya. salam