Aku, Bukan Monyet
Saudaraku, siswa SMO.
ini, adalah cerpen pertamaku setelah bergabung dengan SMO. Sal postingkan sebagai bedah karya I, untuk dua judul lagi masih menunggu ending. sebenarnya, telah Sal buat tiga chicken soup. untuk dikirim ke antologi SMO. hanya saja, belum kelar juga. doain,ya…
sangat ditunggu koreksi dan bedah karya dari rekan-rekan semua. selamat membaca…
Aku, Bukan Monyet
Sebuah sore di kafe “pujasera” harapan baru, Bekasi.
“Saat kelinci menyeberangi jalan, ia berharap menemukan wortel. Ternyata, kacang yang ia termukan. Meskipun beda seratus delapan puluh derajat, toh kelinci tetap suka.
“Trus, apa hubungannya kelinci - kacang sama kita berdua?”
“Akulah kelinci itu, kamulah kacang. Violina wortelnya”
“Ih, kamu ya” Salina tersenyum geli. Tersipu. Rasa aneh menjalari wajahnya. Ia tidak tahu kalau sebenarnya rona pipinya berubah merah dadu. “ia kelinci, aku kacang. Kelinci suka kacang, berarti…” Salina mengira-ngira dalam hati, apa sebenarnya hendak diomongin Rangga.
Sementara, Rangga menyeruput kopi panas didepannya. Hawa hangat merasuk. Menyusuri kerongkongan, mengendap sebentar dalam perut, menyebar keseluruh pembuluh darah. Sehangat cinta mulai merambat disekujur pori-pori tubuhnya.
Selepas dari bioskop, Rangga tidak langsung pulang. Ia teringat apa yang disampaikan Kelik tadi pagi. “Sempai bisa marah kalau aku tidak datang” kata Kelik saat Rangga meminta menemani. Dan, Rangga sadar betul itu. Itulah sebabnya Rangga hanya berani mengintip dari balik pojok pagar rumah Violina.
Saat itu, Violina diantar oleh Salina. Sahabatnya. Keberanian Rangga memang pasang surut. Tapi, saat Kelik dan Rangga berpadu. Menjadi kekuatan maha dahsyat, tingkah berdua menghebohkan seantero sekolah. Pembaca, bab ini bukan membahas keanehan dan keusilan kedua karib ini. Jadi, harab bersabar. Dalam lain kesempatan, akan diceritakan bagaimana kolaborasi kedua makhluk “homo” ini sehingga menjadi gunjingan di sana-sini. Bagaimana daya tarik masing-masing kepribadian meluluh-lantakkan hati para srikandi.
Angin semilir, daun bergururan, ranting-ranting telanjang, teriakan anak kecil berebut layangan. Debu khas bulan juni dengan tak tahu diri menempel dimana-mana. Seakan tak kasihan pada ibu-ibu pemilik warung harus mengelap toples-toples dagangan yang dipajangnya. Mengantarkan matahari cuci kaki, segera meredupkan sinarnya. Menuju peraduan.
Di pinggir lapangan –sebenarnya hanya tanah kosong yang dipakai ajang bermain- seberang jalan, berpasang remaja tanggung tak terusik oleh lalu-lalang kendaraan. Tetap setia mengulas senyum pada pasangan. Mencoba saling meyakinkan, cinta monyet sudah tidak layak lagi mereka sandang. Sungguh, kata-kata mereka sudah tidak lagi bisa dibilang rayuan ala ABG. Mereka telah dewasa sebelum waktunya.
“Toet, toet, toet…! Siomay”
“Kring, kring, kring..! es, es”
“Tok, tok, tok…!” ketoprak, jajanan ala betawi tak mau ketinggalan. Mengais rejeki sembari meramaikan kegiatan di lapangan itu. Gerobak tukang ketoprak, unik memang. Berbentuk kapal selam, sebuah bambu kecil mirip kentongan dipukul setiap saat. Khas sekali.
Di pojok lapangan itulah, pujasera, semacam kafe-nya orang pinggiran buka dari jam empat sore hingga delapan malam. Salina, dipercaya pemilik kafe itu untuk menjadi ketua pramusaji. Dari sinilah, Salina bisa sekolah sampai lulus SMA.
“Memulai obrolan itu perjuangan awal” batin Rangga saat hendak mampir ke kafe itu. Kini, di depan Rangga telah duduk gadis yang belum sekalipun berbincang empat mata sebelum ini. Dengan sedikit gemetar, Rangga telah membuat pipi itu semu dadu.
Rangga tahu itu, cepat-cepat menghirup kopi yang masih panas. Sekaligus, menata hati. Memilih kata apalagi hendak ia bincangkan. Ya, tekadnya sudah bulat.
~&~
Di rumah Violina, sebuah symphoni pagi. Hari yang sama.
“Vio, masih ngapain lagi sih? Semua barang-barangmu sudah disini. Lekas turun, Papa sudah nungguin.” Teriak mama dari bawah.
“Iya ma, sebentar. Vio masih nyari diary”, Violina menjawab setengah berteriak dari dalam kamar. Bening matanya berubah menjadi kaca, ditangannya selembar photo yang baru saja dicetak. Terselip ditengah buku mungil berhias pita merah jambu.
Ingatan demi ingatan coba ia kumpulkan. Menerawang, menembus peristiwa dibalik selembar photo itu. Satu set komputer, lengkap dengan printcolour, VCD, TV Flat, rak buku, lemari buffet kecil dengan beragam piala diatasnya. Menebarkan aroma wangi, rapi dan bersih. Tepat dibelakang meja belajar, poster Nike Ardila akan terlihat oleh bulatan besar mata indahnya ketika hendak maupun bangun tidur.
Sejak kelas satu, ia telah menjadi bintang sekolah. Untuk kemudian, tiga tahun berturut-turut menjadi ketua OSIS. Tak pernah tergantikan oleh siapapun. Disamping pinter, energik, dinamis, profil papanya kerap menghiasi daftar donatur segala kegiatan amal yang disponsori oleh sekolah.
“Aku tak pernah menyangka, hatiku begitu terpaut denganmu. Semenjak tahun pertama, saat kau tabrak aku di kantin itu, aku tak pernah melupakanmu. Aku hanya ingin kau sapa, berteman dekat, bertugas kelompok bersama. Bahkan acara bakti sosialpun kamu tak pernah andil. Aku berkiprah dalam segala kegiatan hingga seluruh sekolah mengenalku, menjadi ketua OSIS, hanya mau perhatianmu. Nyatanya kamu tetap tak acuh. Bahkan lebih senang berdua terus dengan Kelik. Mungkin benar apa yang teman-teman bilang. Kamu homo. Tidak suka deket cewek. Kurang apa sih, aku” batin Violina terus mencerca dalam jeritan tak terucap menatap lekat photo itu. Sangat berlainan dengan saat ia tampil didepan dewan guru mempresetansikan agenda kegiatan, penuh percaya diri.
Kini, ia harus segera bertolak ke negeri kincir angin melanjutkan study. Sesuai keinginan papa. Pupus sudah segala kenangan indah yang belum sempat terjadi, meski begitu ingin. Helai demi helai benang asmara ia rajut, hanya sebatas khayal. Ia tak pernah bercerita kepada siapapun, termasuk Sal, sahabatnya.
“Ah, Rangga bukan apa-apa. Keinginan papa-lah diatas segalanya” pekik pikiran Violina mencoba membungkam jerit hatinya. Walau ia tahu, takkan pernah bisa.
“Papa memang pejabat penting, sekaligus usahawan sukses. Menjadi anaknya tidak lantas menjamin bahagia sebagaimana teman sering bilang. Kadang, memiliki orang tua kaya dan berpengaruh justeru menghalangi kehidupan yang sesungguhnya. Seperti halnya aku, sering diterima lingkungan dibawah bayang-bayang papa. Prestasi demi prestasi yang aku peroleh selalu dibandingkan dengan kesuksesan papa. Jika aku gagal, kasihan papa. Pasti di cerca. Jika aku berhasil, “sudah sepantasnya”, kata mereka. Padahal, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Banyak teman bilang, menjadi puteri konglomerat adalah keberuntungan. Mereka tak tahu, berapa tebusan yang harus aku penuhi. Aku kehilangan sisi-sisi hidupku”. Violina terus berkutat dengan masa lalu, masa datang, dan realita masa kini yang harus segera dijalani.
Hingga akhirnya,
“Iya ma, Vio turun koq” Violina dengan suara meninggi setelah mamanya memanggil untuk kesekian kali. Saat mobil silver metalik itu melaju meninggalkan pintu gerbang, Violina tidak sadar.
Sepasang mata mengawasi kepergiannya dari pojok pagar rumahnya. Tatapan itu syahdu, sendu, kata hati si penatap itu merutuki diri atas keminderan yang seharusnya tidak perlu terjadi. “Sayang banget, separuh keberanianku ada pada Kelik. Seharusnya aku sudah berada dalam mobil itu, mengantarkan Vio ke bandara” begitu kira-kira suara hati itu.
Di bandara,
“Mohon perhatian, pesawat dengan nomor penerbangan…” pengumuman pemberangkatan menyentakkan lamunan Violina. Semua impian dan harapan tentang Rangga, tertutup rapat dalam diary. Terukir indah, abadi. Entah sampai kapan akan terbuka. Bisa saja diary itu ia buang. “Lantas, siapa yang menjamin impian juga ikut hilang?” bisiknya.
Awan putih tipis, terkadang bergumpal membuat guncangan lembut badan pesawat tak mengusik mata Violina yang mencoba menembus bentangan kapas di angkasa.
“Sal, kamu tahu. Aku tidak gampang terpengaruh oleh cowok. Rudi, Ivan, Saptoro, Sigit, begitu memuakkan. Memang sih, diantara mereka pernah nembak langsung mau daftar jadi pacar aku. Aku jijik sal. Risih. Aku katakan mesti ranking satu dulu, baru deketin aku.
Ah, Sal. Kenapa kamu harus percaya ucapanku. Aku bohong sal, dusta. Hatiku berbunga dengan sanjungan mereka. Aku berbuat begitu, karena aku pingin Rangga lakukan itu. Rangga, Sal. Rangga yang aku tunggu” batin Violina semakin gemuruh. Sesaat matanya terpejam, hampir basah. Tarikan nafas mendadak sengal. Sejenak bayangan Sal, sahabat namun tak pernah mampu Violina berterus terang apa yang ia rasakan sesungguhnya, menghilang. Lamunan Violina terputus saat pramugari menawarkan minum dan snack.
“Makasih. Mbak, enak ya jadi pramugari?”
“Ya, saya suka terbang dan melayani penumpang. Selamat menikmati perjalanan anda” senyumnya ramah.
“hmm, Dewi L. apa ya kira-kira L-nya. Lestari mungkin” hati Violina menerka papan nama yang tersemat di dada kiri itu. “Ah, Dewi Lestari kan penulis. Masa terbang sampai kemari” dugaan itu spontan dibantah oleh pikirannya sendiri.
Lagi, Violina teringat Rangga. “Coba, benar itu Dewi Lestari. Aku bisa belajar merangkai kata. Bukan hanya aku, Rangga juga akan aku ikat dengan kata-kata indahku”.
~&~
Di rumah Kelik, pagi yang sama.
“Koq, kamu tahu Lik” Tanya Rangga.
“Ya tahu lah, Salina kasih tahu. Udah, sono datengin Vio. Keburu berangkat. Katanya sih pesawat jam sepuluh. Sekedar ngucapin selamat jalan apa susahnya”.
“Dengan sepeda butut ini? Kerumah Vio?”
“Memangnya kenapa, cuek aja. Tunjukkan kalau kamu laki-laki. Atau, jangan-jangan kita berdua memang homo ha..ha..ha..”
“Sialan. Tumben belum berangkat Lik, gak latihan hari ini?”, Rangga membelokkan pembicaraan.
“Ini mau berangkat, Kamu malah dateng. Ya udah, ngobrol aja dulu. Minum teh-nya. Paling anak-anak juga belum pada dateng.”
Kelik hobby kempo, sudah menjadi kebiasaan kalau hari minggu pagi ia menjadi pelatih. Ban coklat disandangnya tahun lalu saat mengikuti Gashuku selama tiga hari dua malam di Cibubur –kota Bogor. Empat anak dari dojo stadion bekasi mengikuti ujian kenaikan tingkat, Kelik mendapat predikat lulus terbaik. Randori, ia selalu menang. Dalam gerakan kumitee pun ia rapi dan kelihatan bertenaga. Ten Chi Keng dai ichi – jurus bumi langi satu – yang mengandung kuncian dan bantingan menjadi andalan Kelik saat demontrasi dihadapan sempai-sempai.
Pembaca tahu sempai kan? Panggilan untuk kakak seperguruan, sabuknya lebih tinggi. Atau juga, sama sabuknya tapi, lebih senior.
Berbeda dengan Rangga, ia cenderung kutu buku. Suka nulis puisi, meski jauh dari publikasi. Lebih sering lagi membaca buku cerita atau novel. Cerpen merupakan makanan sehari-hari.
Satu-satunya yang membuat mereka sangat akrab adalah nonton film bioskop. Apalagi kalau sudah Van Damme, Dolph Lungdren, Jackie Chan, Silvester Stallone, Chuck Noris, pokoknya bintang laga dech. Tak bakalan dilewatin oleh mereka. Bolos pun dibela-belain. Lebih seru lagi saat mereka baru saja keluar bioskop, mengalahkan serunya cerita dalam film. Kelik dengan bangga memperagakan gerakan-gerakan kemponya menirukan aksi sang jagoan mengalahkan bandit. Rangga, sibuk mengotak-atik jalan cerita yang seharusnya lebih menarik. Setiap dialog unik, pasti tak luput dari ingatannya. Beda sudut pandang, tapi nyambung.
“jam satu nanti, Brandon Lee main bareng Dolph Lungdren. Show down in little Tokyo. Nanti aku samper atau ketemu di bioskop?” Kelik membuat janjian saat hendak menstarter motornya. Rangga sudah siap di sadel sepeda.
“Bioskop aja”
Begitu Kelik lenyap dari pandangan, Rangga, menyusuri jalan dengan sepeda jengkinya. Rambut panjang sebahu, setahun lebih tidak cukur. Rambut itu ikal, bergelombang di ujungnya, selalu dirawat. Rangga sayang banget sama rambutnya.
Pembaca mungkin bingung, ada seorang anak remaja laki-laki tertidur di bawah pohon sawo. Tiba-tiba terbangun, berteriak seperti orang gila. Berlari kencang menuju sungai. Begitu sampai, langsung menceburkan diri tanpa sempat buka pakaian. Menyelam. Beberapa saat kemudian, semut-semut berbagai jenis dan ukuran mengapung dipermukaan air. Oh, ternyata Rangga baru saja mengolesi rambutnya dengan minyak perahan kelapa. Santan. Kelapa baru saja dipetik Bapaknya, sedianya buat masak sayur lodeh. Diambil, diparut, dikeramaskan ke kepala. “biar hitam dan berkilau” kata Rangga pada temannya. “perawatan alami” tambahnya.
Meskipun sempat ragu, tekat Rangga sudah bulat. Violina. Rumah itulah yang ia tuju. Namun, begitu sampai, ia hanya berdiri termenung. Tanpa bergeming di atas sadel. Seharusnya sempat, kalau saja ia masuk rumah. Mobil papa Violina masih ada. Hanya saja, ia lebih memilih ngintip dan mengawasi situasi –ketimbang beraksi. Ia juga melihat Salina ada di Sana. Bolak-balik keluar masuk rumah, menata barang di bagasi. Sudah tidak perlu di cari tahu lagi, Salina pasti mengantar sahabatnya itu.
“Berarti, benar kata kelik. Vio kuliah di luar negeri. Berbaur dengan para bule” pikirnya. Rangga mulai kalut. Sejenak melirik dan mengelus sepeda warisan kakaknya. Ia adalah generasi ketiga pemakai sepeda itu.
~&~
Di bioskop “Parahyangan” depan stasiun bekasi.
“Kamu mau kemana, kita tuntaskan dulu cerita tadi” belum juga semua pengunjung bioskop keluar, Kelik sudah membuka pembicaraan. Tak mau keduluan oleh Rangga.
“Saat DL berhadapan dengan yakuza, dengan cepat DL bisa melumpuhkan sebenarnya. Kenapa dia harus ambil samurai? Biarkan saja yakuza itu memakai senjata. Dengan memegang pedang, perhatian DL justeru terganggu, fokusnya hanya pada satu titi. Pedang. Tapi, kalau saja DL memakai gaya tangan kosong, senjatanya bisa jadi banyak. Jari, sikutan, lutut, tandukan kepala” Kelik terus bicara.
“Ingat nggak, saat yakuza mengayunkan samurai kedepan. Membabat kepala DL. Kuda-kudanya lemah, hanya bertumpu pada satu kaki. DL bisa menggunakan tendangan sapuan. Ryu Shui Gery, bisa juga DL pakai. Saat mengayun begitu, tulang rusuk yakuza sangat terbuka. Bisa menjadi sasaran empuk” Kelik menepuk tulang rusuk Rangga.
“Dengan memegang pedang, itu kesalahan fatal buat DL. Sehingga kepala DL hanya berisi untuk menangkis. Coba DL merangsek ke depan, menyerusup di bawah ketiak yakuza. Pergelangan tangan kanan yakuza yang memegang pedang itu, dicengkeram dengan tangan kiri. Kaki kanan maju. Daya dorong full dari bahu. Furiko sekuat tenaga, Cudan Zuki tangan tangan. Dijamin deh, patah dua tulang rusuk yakuza. Apalagi saat…” suara kelik semakin tak terbendung. Bukan hanya mulut, gerakan pun dipraktekkan. Rangga menjadi boneka sasaran.
Berpasang mata pengunjung bioskop lainnya tak digubris. Ada yang tersenyum, mencibir, ada juga yang menempelkan jari terlunjuk miring di kening. Rangga dan Kelik, bisa menjadi dua makhluk paling cuex ketika bersama. Sangat jauh berlainan saat mereka sendiri-sendiri.
Rangga, tak seperti biasa. Tak bergairah meladeni Kelik dengan memprotes alur cerita dan dialog yang semestinya dipakai. Kelik merasakan gelagat itu.
“Buru-buru mau kemana?” Tanya Kelik.
“Ke Pujasera, yuk!” Rangga memang kalut, gelisah. Pikirannya sedang tak ditempat. Lagi pula percuma, ia menyembunyikan dari sahabatnya itu.
“Ya sudah, aku kepasar proyek. Kamu sendirilah kesana. Skipingku talinya putus, mau cari yang baru. Sekalian handstranger kalau ada” jawab Kelik singkat.
Kedua sahabat itu berpisah, sama-sama naik angkot. Hanya beda arah. Meskipun berdebar, hati Rangga sudah bulat.
Sambil melirih wajahnya di kaca spion, Rangga meyakinkan diri. Mereka-reka dialog seperti apa yang hendak ia pergunakan. Tentunya ia telah membayangkan menjadi salah satu tokoh utama film dalam adegan yang dipilih sendiri. Romantik.
~&~
Tangan itu, tak terasa tergenggam. Jari lentik tidak begitu halus menandakan sering bekerja keras. Tidak mengurangi aura kecantikan. Kopi itu masih mengepul, meski tinggal separuh.
Wajah Salina tertunduk. Antara percaya dan tidak, Rangga, hanya dalam hati ia kagumi selama ini. Tak ia sangka, sore itu. Pujasera, tempat Salina mengais kepingan rupiah, menjadi saksi. Tangan dan jemari ia biarkan diremas Rangga. Harus ia akui, bukan hanya jari itu yang tergenggam. Hatinya pun ia biarkan teremas.
Rangga menatap lurus-lurus rambut Salina. Tangannya dengan pasti, menggenggam erat jari mungil itu. Sesekali ia menebarkan pandangan ke seberang jalan. Tukang es, siomay, dan juga, gerobak ketoprak kapal selam masih ada ditempatnya. Melayani berpasang remaja lainnya, seperti dirinya dan Salina.
“Pergilah Vio, aku tidak mau kehilangan kesempatan kedua kali. Sahabatmu, Salina. Tak kan aku biarkan pergi, tanpa membawa hatiku. Sekarang, aku sudah membuktikan apa yang aku sembunyikan. Apa yang aku pendam. Dan mengapa aku tetap diam, walaupun teman-teman sekolah mengatakan aku bukan laki-laki. Homo. Tidak suka dekat cewek.
“Hanya satu yang pasti, aku tidak seperti kalian. Aku beda. Aku bukan monyet. Tak kenal cinta monyet. Dan, inilah. Salina buktinya” jantung Rangga perlahan redup, teratur kembali.
Salina mendongak kepala, bertemu tatap. Sangat malu, bibir itu mengulas senyum. Untuk kemudian tertunduk kembali. Sekejap, hanya beberapa detik. Salina membalas remasan jemari itu. Rangga merasakannya. Tak terucap, namun tertangkap oleh hati. Begitulah dua remaja itu.
Disebuah sudut yang lain, seorang remaja berpotongan rambut cepak, tubuh atletis dan kekar. Menenteng skiping dan handstranger mengamati adegan itu sambil menikmati es cendol. Ia tersenyum geli. “seperti kamu sering katakan saudaraku, kamu bukan monyet. Aku bukan monyet. Kita bukan monyet”.
~&~


July 21st, 2008 at 8:16 pm
Sal, kaya’nya (kalau gak salah ingat) panggilan untuk kakak seperguruan yang sabuknya lebih tinggi atau lebih senior itu Senpai bukan Sempai
(Sori loh kalau salah soalnya masa sabuk biru sudah lama berlalu).
Paragrap delapan dari bawah:
Sambil melirih wajahnya di kaca spion…
Maksudnya melirik?
Bagian terakhir (penutup):
Rangga menatap lurus-lurus rambut Salina.
Bukannya yang biasa ditatap itu wajah? Atau seperti itu karena posisi wajah Salina yang menunduk malu?
btw, pengalaman pribadi ya?
July 22nd, 2008 at 9:03 am
waw, betina juga nih ternyata. ban biru coy… salut! but, itu semua masa lalu. sal sempat menjadi “jagoan ring” kejuaraan porda-jogja. dojo sal waktu itu ugm. mmm, sekitar 92-an lah. hanya saja waktu itu gashuku di lereng merapi. setting, sal ganti di bogor.
yup. melirik. salut kedua kali atas kejelian anda.
tepat. masih berhubungan dg paragraph diatasnya, salina menunduk.
pengalaman pribadi? 10% lah
th’s ya, atas comment-nya.
July 23rd, 2008 at 5:34 pm
Wah wah wah, harus kuakui Sal, alurnya tidak mudah dimengerti dalam satu kali baca..! Wualah, baca cerpenmu jadi ingat sesuatu, kayak slogan $atu Nu$a $atu Bang$a, Dua Languages

July 24th, 2008 at 10:07 am
hmmm, th’s sun. atas komentnya. but, belum ada yang kasih masukan seputar “pesan apa yang hendak disampaikan” mengena atau tidak. trus, apakah ada pelajaran bisa diambil dari cerpen itu.
July 27th, 2008 at 3:52 pm
Kalau masalah seputar pesan yang mengena atau tidak, harus kukatakan kurang dapat diterima dengan baik. Kenapa kukatakan sebelumnya kalau alur cerita ini tidak mudah dimengerti dalam satu kali baca? Karena perpindahan waktu demi waktu terlalu cepat atau kurang memberi pembaca waktu lebih untuk mengerti. Kalau Sal tidak hendak memberikan narasi / deskripsi yang sedikit lebih banyak ketika pergantian waktu, alangkah baiknya diberikan keterangan waktu saja?
August 6th, 2008 at 9:02 pm
Cerita cintanya menarik, cukup mengalir.
Cuman saya nggak ngerti, apa hubungannya antara kisah cinta ini dengan sebutan aku bukan monyet? Apa sekedar asal nggak ada kejelasan? Rasanya nggak perlu bahas soal monyet yang justru merusak citra penulisan yang dibangun penulisnya sejak awal tentang kisah cinta remaja dalam tulisan ini.
Dan usaha tokoh yang dicintai si cowok, kayaknya kalau ada cewek aktif, bla-bla-bla…. tapi nggak perhatian juga ke cowok, yach nggak masuk akal juga untuk bikin cowok itu tahu kalau dia cinta si cowok….