Aku Cinta Kepadamu
Aku baru dua tahun menikah dengan suamiku. Rentang dua tahun ini penuh dengan babak-babak tertawa, bertengkar kecil, bercanda, bertengkar lagi, menangis (aku), baikan lagi, dan seterusnya. Meski belum dikaruniai anak kami berusaha menjalaninya dengan kesadaran begitulah dinamika dua orang dengan latar belakang dan kepribadian berbeda yang bersatu dalam bahtera rumah tangga.
Kami memutuskan menikah, setelah setahun berpacaran. Tapi aku tidak tahu kapan resminya kami mulai pacaran. Yang aku tahu, sejak berkenalan kami merasa saling merasa nyaman berdekatan. Hampir tiap hari dia menjemputku ke kantor atau kami janjian rendevouz di tukang somay di daerah Tanjung Barat yang menjadi titik pertemuan perjalanan pulang kantor kami (aku dari Kalibata, dia dari Bintaro) menuju rumah kami yang sama-sama di Depok. Waktu libur dan tak ada acara keluarga pun kami menghabiskanya dengan jalan-jalan berdua. Namun, selama itu tidak pernah sekalipun bibirnya mengucap kalimat aku cinta kamu atau bertanya apakah aku mencintainya.
Walaupun tidak terkatakan, dari sikapnya aku tahu dia menyayangi aku. Namun begitu, sejujurnya aku tetap mendamba dia membisikkan kalimat itu, untuk meyakinkan hatiku bahwa dia sungguh mencintaiku. Sayangnya, aku harus sudah cukup puas dengan sekali saja membaca ungkapan i love you dalam SMS yang dikirimkannya sebagai balasan ucapan selamat ulang tahun dariku untuknya. Setelah itu, tiga kata itu seperti hilang dari kamusnya. Untuk menghibur diri sendiri, aku hanya bisa menyanyikan sebait lagu Ronan Keating (when you say nothing at all),
The smile on your face lets me know that you need me
There’s a truth in your eyes saying you’ll never leave me
The touch of your hand says you’ll catch me when ever I fall
You say it best… when you say nothing at all…
Namun, manusia memang selalu saja merasa kurang. Akhir-akhir ini aku terganggu dengan pertanyaan, apakah suamiku masih mencintai aku?Hal ini disebabkan gara-gara aku mendengar Mbak Dian, teman kantorku, berteriak ”i love you too” saat menelefon suaminya. Bagiku itu hal yang aneh. Karena mereka sudah 15 tahun menikah punya tiga anak, tapi masih loving-lovingan.
Mbak Dian menjawab keheranananku dengan cerita bahwa suaminya adalah tipe laki-laki romantis yang selalu memanggilnya sayang, mengucapkan i love you tiap saat, dan sering mengiriminya sajak penuh cinta.
”Semua itu pupuk perkawinan, sayang. Supaya cinta kita subur terus dan rumah tangga kita awet,” kata Mbak Dian dengan mata yang berbinar bangga.
Aku terdiam. Iri padanya dan jadi kesal dengan suamiku. Kapan ya dia memanggilku aku sayang, apalagi bilang tiga kata ajaib itu. Ah, mungkin akulah yang memulai memberi ”pupuk” dulu. Siapa tahu setelah itu dia terpancing.
Malamnya, di sela acara menonton TV, aku mengucapkan 3 kata itu sambil menggelayut manja di lengannya. Reaksi suamiku hanyalah menatapku (aneh) sejenak kemudian manggut-manggut. Aku mulai kesal, kecewa juga malu. Akhirnya aku menceritakan tentang Mbak Dian dan suaminya, dan betapa inginnya aku seperti mereka.
Suamiku cuma tersenyum.
Karena penasaran aku bertanya apakah dia mencintaiku, dan dia menjawab, ”Kalau ngga, ngapain aku kawin sama kamu.”
Aku tidak puas dengan jawabannya. Aku mencecar dan mendesaknya untuk mengucapkan kalimat cinta kepadaku. Tapi, dia hanya tertawa dan malah sibuk mengganti saluran TV. Aku jadi marah, kemudian meninggalkannya, dan menangis di kamar. Aku merasa menjadi wanita yang malang sekali.
Aku menangis hingga tertidur. Entah berapa waktu berlalu saat aku terjaga oleh tekanan berat di bahuku. Suamiku. Dia memeluk, mengecup keningku, dan berbisik, “Cinta adalah perasaan. Akan lebih tulus dan berarti jika diungkapkan dengan perbuatan. Aku ngga perlu mengucapkannya untuk membuktikan perasaanku kepadamu. Aku hanya ingin kamu tahu, kamu adalah istri aku, bagian dari diri aku yang aku miliki dan akan selalu aku jaga.”
Aku terpana. Kata-katanya bagai bongkahan es yang mendinginkan bara emosi di dadaku. Sejenak kupikir aku akan dapat membalasnya dengan kata-kata cinta yang paling indah. Akan tetapi, bibirku seperti lengket. Otakku tak dapat merangkaikan kalimat yang lebih dalam maknanya. Sementara itu, kulihat suamiku mulai melayang ke alam tidurnya. Akhirnya aku hanya mencium pipinya dan balas memeluknya. Malam itu, aku tidur nyenyak sekali.
Sejak itu, aku mencoba ”mendengarkan” cinta suamiku dari apa yang dilakukannya kepadaku. Dari perbuatannya membuatkan sarapan, mengantar dan menjemput aku kerja, membantuku mencuci piring, termasuk omelannya karena aku terlambat makan, dan yang lain-lainnya.
Aku mencoba bersyukur dengan apa yang aku miliki. Aku juga tidak iri lagi dengan Mbak Dian. Apalagi ketika pagi itu aku mendengar apa yang diteriakkannya pada suaminya di telfon. ”F*** You!” .
Darahku seperti menyusut mendengarnya. Ada apakah dengan Mbakku ini hingga menggemakan makian yang kupikir tak ada dalam perbendaharaan hubungan mesra dengan suaminya.
Meski ingin, aku berusaha tidak mencari tahu apa yang terjadi. Aku tidak mau mencampuri urusan pribadinya. Takut salah. Tapi, ceritanya sampai juga ke telingaku. Suami tersayangnya ternyata ketahuan selingkuh. Hari itu, handphone Mbak Dian dan suaminya, yang memang sama tipe dan warnanya, tertukar. Dalam handphone suaminya, Mbak Dian menemukan puluhan SMS berisi ungkapan cinta romantis dari seorang perempuan. Setelah diselidiki ternyata perempuan itu mengaku bahwa dia memang pacaran dengan suami Mbak Dian. Parahnya, beberapa SMS romantis dari perempuan itu pernah diforward ke Mbak Dian oleh suaminya, sebagai ”pupuk perkawinan” darinya. Walah…
Aku tidak tahu harus bagaimana menghibur Mbak Dian. Tapi aku tahu apa yang akan kulakukan saat bertemu suamiku di rumah. Memberikan senyum terindahku dan memeluknya. Tanpa berkata apa-apa.You say it best… when you say nothing at all —-


September 4th, 2007 at 3:49 pm
Sebuah kisah (tema) biasa yang dikemas dengan deret kata indah penuh warna, mengalir lancar, enak dibaca, tetap semangat, keep writing, selamat berkarya
September 5th, 2007 at 11:37 am
Makasih Mas Awi… Met berkarya juga…