Aku, Kakek, dan Kunyit
Aku, Kakek, dan Kunyit
Oleh: E. Wahyudi
Cerita ini, aku ketengahkan dari hasil percakapanku dengan kakek. Suatu hari, di teras rumahnya yang sejuk.
”Gimana keadaanmu, Cep?”
”Alhamdulillah sehat, Kek” jawabku.
”Sakit perutmu masih sering kambuh?” kakek menanyakan sakit maag yang kuderita. Sakit yang selama ini paling sering menyiksaku.
”Masih, Kek”
”Kalau begitu, tunggulah”
Tiba – tiba kakek meninggalkan aku diteras sendirian. Ia berjalan menuju ke dapur. Tak lama kemudian, ia kembali dengan segelas cairan berwarna kuning ditangannya.
”Minumlah. Ini air perasan kunyit yang sudah kakek campur dengan madu” kakek menyodorkan gelas itu kepadaku.
Aku mengambilnya. Namun sebelum meneguk, hidungku mencium bau kunyit yang sungguh tak bersahabat. Sengak!.
”Nggak mau, Kek. Baunya ndak enak” aku menolak. Gelas itu ku sodorkan kembali kepada kakek.
”Kalau begitu, coba ini” kakek kemudian memberikan sepotong kunyit yang sudah dikupas kulitnya.
”Walah…apalagi itu. Pahit. Nggak mau, Kek” sekali lagi aku tak bersedia memakannya.
Kakek tersenyum. Dibawanya kembali segelas air perasan kunyit itu kebelakang.
”Begini saja, Cep. Nanti sore kamu kesini. Nenekmu masak makanan yang sangat enak nanti. Jangan lupa, kamu harus ikut makan bersama kami. Bagaimana?” demikian katanya setelah kakek berada di hadapanku.
”Nah, kalau untuk yang ini. Cecep ndak nolak deh, Kek” aku langsung mengiyakan ajakan makan bersama dari kakek. Ah, sungguh sangat menggiurkan. Apalagi masakan nenek sangat lezat. Siapa tahu, ada ayam goreng kesukaanku. Hehehe…. J
Tak lama berselang, aku berpamitan kepada kakek dan nenek. Aku pulang ke rumah. Mendayung sepedaku dengan hati yang memendam ketidak sabaran. Berharap, sore segera tiba untuk makan bersama.
***
Sore harinya, aku sudah duduk dihadapan kakek dan nenek.. Nasi hangat mengepul dari bakul. Aromanya sungguh menggugah selera. Aroma khas padi huma. Harum, memikat siapa saja yang mencium untuk segera menikmatinya. Namun, tunggu dulu sobat. Dihadapanku saat ini tersedia menu yang tak kalah mengundang ketidak sabaranku. Gulai nangka, ayam goreng, dan sambel terasi. Mantap!….khas masakan nenek yang sangat lezat pastinya.
”Ayo, Cep. Makan yang banyak. Kalau perlu, habiskan semua gulai nangkanya. Sengaja nenek masak buat kamu. Tapi, sambalnya ndak usah dimakan. Itu kakekmu yang buat. Pasti pedes” Nenek mempersilahkan aku untuk mulai makan. Sepiring nasi disodorkannya kepadaku.
”Iya, Nek” segera aku menyambutnya. Lahap aku makan. Nenek dan kakek tersenyum puas melihat caraku makan.
Setelah makan, aku duduk dihadapan kakek. Sementara nenek kembali ke dapur. Membereskan sisa makanan kami.
”Bagaimana, Cep. Apa kamu sudah mau makan kunyit?” kakek tiba – tiba saja melemparkan sebuah pertanyaan yang tak kusangka sebelumnya.
”Nggak mau ah, Kek. Nggak enak, baunya sengak” aku menolak untuk yang kesekian kali.
”Tapi tadi kamu sudah memakannya lho, hehehe”
”Ah, kapan?” aku bertanya penasaran.
”Itu” Kakek menjawab pendek. Tangannya menunjuk sebuah mangkuk kosong yang tadi digunakan untuk wadah gulai nangka yang kami makan.
”Bikin gulai kan pake kunyit, Cep” sekali ini kakek tersenyum. Isyarat kemenangan tersirat di bibirnya.
”He…he…he..” tak urung aku ikut tertawa. Ah, cerdik sekali kakekku ini.
”Ya. Kakek cuma ingin supaya kamu makan kunyit. Biar sakit perutmu sembuh. Cuma cara memberikannya saja yang lain sama kamu ”
”Maksud, Kakek?” aku meminta penjelasan pada kakek lebih lanjut.
”Pertama, kamu itu butuh obat untuk sakit perutmu. Kakek kasih kamu air kunyit perasan. Kamu malah nolak…..”
Aku mengangguk.
”Selanjutnya, kakek kasih kamu kunyitnya langsung. Kamu juga ndak mau makan. Begitu, Cep?”
Aku masih mengiyakan.
”Nah, sekarang lupakan itu. Yang pasti kunyitnya sudah kamu makan. Ya, caranya dengan gulai seperti ini. Kakek tak menyuruhmu makan kunyit kan?. Kakek hanya menyuruhmu makan yang banyak.” nenek yang kebetulan kembali ke ruangan itu, tersenyum geli melihat diriku ”dipecundangi” kakek.
”Siapa bilang kamu ndak doyan kunyit, hah? Nyatanya, kamu makan gulai nangkanya habis banyak. Minta nambah malah….”
”Jadi begitu ya, Kek?” aku tersipu.
”Ya iya. Kakek hanya mencoba ngasih kamu obat. Untung saja kakek tahu caranya. Coba kalau kakek paksa kamu makan kunyit. Pasti kamu marah. Kakek ngerti watakmu, Cep. Tidak semua obat yang kakek berikan bisa kamu terima begitu saja. Sama kayak nasihat yang sering kakek bilang sama kamu. Sekarang kamu ngerti?”
”Iya. Ngerti, Kek” aku mengangguk.
”Apanya yang mengerti?” kakek mengulang pertanyaannya.
”Makan kunyit pakai gulai nangka. Enak, Kek. Sungguh. Besok lagi ya, Kek” aku menjawab sekenanya. Jempolku teracung ke arah nenek.
”Dasar anak muda. Maunya makan enak terus…..”
Ah, kakek!. (*)


September 17th, 2008 at 1:01 pm
Dear Eko Wahyudi,
coba dialognya dibuat lebih natural ya… judul cari yang lebih oke, cerita sih lumayan…
September 18th, 2008 at 2:05 pm
kalau cerita pemaparan cerita seperti ini dikaih unjuk ke guru bahasa indonesia, sal jamin, nilai sepuluh pasti dikasih. plus tanda tangan. bagku banget menuliskan dialognya.
tapi, sal ketawa mbaca endingnya. pesan yang hendak disampaikan sebenarnya sudah ada. hanya saja perlu polesan dikit aja. pasti mengundang perenungan. ternyata cecep hanya mau rasa yang enak-enak saja. begitu pun nasehat, maunya nasehat yang disertai tawa.
September 18th, 2008 at 8:53 pm
@Mbak Kinoysan & Bang Sal
Terima kasih buat masukan dan sarannya
Mohon do’anya, semoga saya bisa berkarya lebih baik lagi
Bagi pembaca yang lain, ditunggu sarannya
September 21st, 2008 at 6:54 pm
Ayo ayo.. Nulisnya jangan irit-irit… Kupikir akan lebih membuat pembaca penasaran jika deskripsinya diperbanyak..
Khususnya pada bagian awal cerita. Semangat selalu ya!
September 22nd, 2008 at 9:44 pm
Makasih atas sarannya, Mbak Lita
Pasti lebih semangat nih kalo banyak yang ngasih saran