Antara Jalan Berlubang dan Korupsi
Baru baru ini diberitakan oleh berbagai surat kabar di Jakarta bahwa banyak ruas jalan ibu kota mengalami banyak kerusakan. Hujan yang mengguyur sepanjang musim penghujan telah menggerus aspal jalan dan lambat laut membuat lubang-lubang besar. Saking besarnya lubang tersebut maka banyak ruas jalan di Jakarta menjadi kubangan besar yang menganga. Banyaknya jalan berlubang bak kubangan ini telah menelan banyak korban. Pengemudi sepeda motor bersama istrinya diberitakan kecelakaan dan meninggal dunia, ketika mencoba menghindar lubang jalan dan naas ada kendaraan lain dari belakang yang tidak mengira sepeda motor tersebut akan berbelok tiba-tiba sehingga tabrakan yang merenggut jiwa pengendara sepeda motor bersama istinya tersebut tidak dapat dihindari.
Cerita di atas hanya salah satu dari peristiwa tragis yang terjadi karena jalan berlubang. Masih banyak cerita lain yang telah membuat kita bersedih dan mengelus dada penuh rasa keprihatinan dengan kondisi ruas-ruas jalan di Jakarta. Kendaraan banyak rusak dan peningkatan kejahatan di jalanan yang dilakukan oknum yang berpura-pura menolong padahal ternyata hanya akan mengambil kesempatan untuk melakukan tindakan jahatnya, dan peristiwa-peristiwa buruk lain akibat jalaan berlubang . Bagi kebanyakan peduduk Jakarta menemukan jalan berlubang ini sudah menjadi pengalaman sehari-hari. Padahal Jakarta sebagai ibu kota negara, seharusnya memiliki jalan berkualitas dan terawat dengan baik, sehingga tidak terjadi kubangan-kubangan di tengah jalan.
Begitulah faktanya di Jakarta, dan logikanya kalau Jakarta saja masih dikelilingi dengan jalan berlubang dan berkubang, maka tentu saja di luar kota Jakarta keadaannya akan lebih memprihatinkan. Memang benar begitu. Cobalah kita jalan ke Sukabumi yang jaraknya sekitar 130 km dari Jakarta. Dalam perjalanan ke kota Penyu ini, di sepanjang jalan kita akan berhadapan dengan jalan berlubang dan berkubang tidak terkira jumlahnya. Dari mulai lepas kota Ciawi hingga kota Sukabumi setiap pengemudi perlu ekstra hati-hati, karena bahaya mengintai di setiap lubang-lubang jalan yang membentang sepanjang jalur Ciawi-Sukabumi. Demikian juga jika kita ke kota Bandung, Ibu kota tanah Parahyangan. Dahulu kota ini memiliki sebutan Paris Van Java, kota kembang, kota konferensi Asia-Afrika, dan kota sejuk nan indah. Tapi sekarang, jalan berlubang mengelilingi kota Bandung, sehingga di kalangan masyarakat Bandung sering ada plesetan bernada keprihatinan, Bandung sebagai kota yang berjulukan “Bandung lautan lubang jalanan”.
Kalau dicari tahu apa sebenarnya yang menjadi penyebab banyaknya jalan berlubang. Tentu saja jawabannya ada yang alasan teknis dan non-teknis. Dilihat dari sudut teknis, para pakar jalan mungkin akan menjelaskan karena hujan deras yang mengguyur jalanan sepanjang musim penghujan telah merusak jalan, atau karena kemiringan jalan tidak cukup dan air tidak mengalir keluar bahu jalan, sehingga menggenangi dan merusak jalan, dan sebagainya. Sedangkan alasan non-teknis, misalnya karena banyak pengendara kurang disiplin sehingga banyak kendaraan berat yang masuk ke ruas jalan yang seharusnya hanya untuk kendaraan kecil, atau mungkin secara ekstrem mengatakan jalan banyak rusak karena korupsi.
Lho apa hubungannya jalan berlubang dengan korupsi? Tentu saja ada, karena kalau saja korupsi dapat ditanggulangi, maka alasan-alasan yang mengakibatkan banyaknya jalan berlubang bisa diatasi. Korupsi adalah setan yang menggerogoti seluruh kehidupan bernegara bangsa Indonesia. Saking dahsyatnya korupsi, kebutuhan dasar rakyat, seperti mendapatkan fasilitas jalan yang baik telah digerus oleh korupsi. Jalan-jalan di jakarta, Sukabumi, Bandung, dan dimanapun di pelosok negeri ini bukan hanya digerus oleh air hujan yang mengguyur sepanjang musim hujan, tetapi yang lebih dahsyat adalah digerus oleh hantu-hantu korupsi di kalangan pejabat negeri ini.
Kita lihat misalnya, sering ada proyek perbaikan jalan secara kilat ketika pejabat tinggi negara mau lewat, atau jalan tiba-tiba disesaki dengan stoom wals, compactor, dan alat berat lainnya ketika musim kampanye calon kepala daerah, atau jalan dilakukan perbaikan, tapi tidak berapa lama sudah ada perbaikan lagi seolah tidak ada henti. Mengapa kejadian konyol ini bisa terjadi?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, lebih baik kita lanjutkan dengan bertanya pada diri kita masing-masing. Bisakah jalan memiliki kualitas baik kalau diperbaiki dengan model persulapan sim-salabim semalam dua malam jadi? Bisakah jalan menjadi baik jika pejabat yang memperbaiki jalan semata-mata untuk kepentingan kampanye menarik hati suara calon pemilih? Dan bisakah jalan menjadi baik kalau niat perbaikan selalu dilatar belakangi oleh keinginan menciptakan “proyek” yang dapat mendatangkan keuntungan tertentu pada pejabat yang menunjuk kontraktor jalan?
Di jaman yang bergelimang dengan iming-iming materi ini, para pamong abdi masyakarat di negeri ini tidak takut mempertanggungjawabkan amanahnya. Uang rakyat yang diambil dari pajak dan pinjaman asing atas nama rakyat yang seharusnya dikelola dengan bijaksana, penuh perhitungan untuk kebaika rakyat, ternyata telah digunakan secara semena-mena. Para pamong berfikir, biarkan saja jalan rusak penuh luibang dan memakan korban, asal nanti ketika pejabat tinggi negara lewat buru-buru diperbaiki supaya terkesan jalan bagus terus. Biarkan saja jalan rusak, asal ketika musim kampanye tiba dana rakyat buru-buru digunakan untuk memperbaiki jalan sesaat demi mengelabui rakyat. Biarkan saja proyek perbaikan jalan tidak menjadikan jalan berkualitas, asalkan “kue proyek” jalan terus dan mendatangkan setoran-setoran dari kontraktor yang kolusi dengan pamong abdi negara. Saking nyatanya perilaku buruk pejabat, maka di kalangan rakyat jelata sering terlontar kata-kata sindiran yang mengatakan kalau jalan bisa terus rusak dan mendatangkan banyak rejeki bagi oknum pejabat negara, maka untuk apa jalan harus berkualitas baik.
Kalau saja fakta ini belum bisa dihapuskan, dan kalau saja mental pejabat masih suka dengan korupsi, maka jalan berlubang, berkubang serta menelan korban masih akan menjadi lingkungan keseharian kita. Sedangkan jalan bagus mulus dan terurus masih jauh dari kenyataan. Jalan bagus itu Utopi?


May 18th, 2008 at 5:06 pm
Tidak hanya jalan, untuk bidang konstruksi bangunan pun berlaku sama. Bila akar permasalahan terus ditelusuri, maka penyebab utamanya adalah kegiatan saling memberi komisi kepada siapa yang memberi pekerjaan, kegiatan pemberian komisi inilah yang harus gencar diberantas karena ialah akar dari tindakan korupsi.