Antara Membaca dan Menulis
Bisakah menulis tanpa diiringi kegiatan membaca? Ada yang mengatakan bisa, karena alam ini adalah tulisan Tuhan yang dapat kita baca. Tetapi ada yang mengatakan, mustahil menulis tanpa ditemani membaca.
Berdasarkan cerita para penulis kondang, mereka semua punya hobi membaca. dan tak tanggung-tanggung seperti Helvy TR, dia bisa membaca dari pagi sampai pagi lagi dan entah berapa banyak buku yang dilahapnya. Begitu juga dengan lain, tetapi aku belum punya data akuratnya. Mungkin kita bisa tanyakan kepada mereka suatu waktu nanti. Coba kita lihat buku Laskar Pelangi, sebuah catatan tentang kehidupan masa kanak-kanak penulis. Tetapi akankah tulisan itu menjadi begitu memukau tanpa dukungan data-data yang akurat. Lalu darimana didapat data-data itu … ya dari membaca. Tanya saja pada penulisnya.
Jadi aku berkesimpulan bahwa menulis itu, kata Pak Hernowo dari Mizan, punya saudara kembar yaitu membaca. Mereka satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Yang satu akan mendukung yang lain. Tapi aku berpendapat lain. Kalau satu sama lain tak bisa dipisahkan artinya kalau yang ada cuma satu itu tidak akan punya arti. Ada juga saudara kembar yang lahirnya saja sama-sama, tetapi mereka masih dapat dipisahkan dan bahkan tidak saling mendukung. Aku berpendapat bahwa menulis dan membaca itu seperti mata uang yang punya dua sisi. Kalau ini baru tidak dapat dipisahkan, karena kalau tidak ada sisi yang satunya, maka sisi yang satu tidak akan bermakna, betul gak?
Tapi biarlah itu lewatkan saja yang penting sekarang ternyata, kalau kita membaca sesuatu agar bisa terekam dan tinggal lama dibenak kita, maka harus dituliskan, seperti yang dianjurkan sahabat Rasulullah s.a.w., Ali bin AbiThalib r.a., yakni: ”Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Dengan menuliskan apa yang telah dibaca, maka ia akan terekam dengan baik dalam benak kita.
Dengan membaca secara tak langsung kita akan dapat menambah berbagai kecerdasan yang dibutuhkan. Berbagai pendapat para ahli mengenai membaca, seperti Jordan E. Ayan, “membaca adalah mengobarkan gagasan dan upaya kreatif”, yakni mengalirkan ide pengarang ke dalam diri pembaca. Membaca akan memicu kreatifitas. Pada akhirnya upaya kreatif ini akan terimplikasi dalam bentuk karya yang dihasilkan atau yang dilakukan oleh si pembaca. Sementara itu, ahli filsafat Jerman, Arthur Schopenhauer menyatakan: “Membaca setara dengan berfikir menggunakan fikiran orang lain, bukan fikiran sendiri.” Dengan begitu pengalaman kita akan bertambah melalui pengalaman orang lain. Dengan kata lain dalam pribahasa kita adalah ‘Berguru melalui pengalaman orang lain’.
Kecerdasan yang akan kita dapatkan melalui membaca menurut Ayan diantaranya adalah, meningkatkan kecerdasan berbahasa. Dengan membaca secara otomatis lumbung perbendaharaan kosa kata jadi bertambah, kita akan mengenal banyak ungkapan, kita akan mengenal berbagai gaya bahasa. Seiring dengan hal itu, informasi akan selalu kita dapatkan melalui membaca. Begitu juga dengan kecerdasan interpersonal, kita akan lebih dapat mengenal diri kita melalui berintrospeksi, dan juga dapat mengenal orang lain melalui bacaan. Satu hal lagi adalah, melalui bacaan kita dapat memicu imajinasi. Melalui bacaan pula kita akan dapat membayangkan dunia dengan seisinya. Masih ingat, bahwa buku adalah jendela dunia…
Lebih dari itu membaca dapat mengubah pola berfikir manusia. Menurut para pakar, hanya dua orangsaja yang dapat mengubah perdaban dunia melalui cara berfikirnya, yakni: ”Penulis dan Guru”. Disini yang akan kita bicarakan hanya penulis saja. Ingat teori Darwin kan…, yang mengatakan kita berasal dari evolusi kera. Aku ngak mau mengakui itu dan akupun tidak mau membaca bukunya. Karena dalam Al-Qur’an manusia adalah semulia-mulianya makhluk. Teori ini banyak yang percaya, dan merekapun bukan orang-orang bodoh. Begitu juga buku Marxisme dan banyak buku lagi.
Lalu kalau menulis? Kata Fatima Mernisi, psikolog dari Timur Tengan mengatakan bahwa banyak sekali manfaat dari menulis, salah satunya adalah mengatasi trauma. Hal ini kemudian diteliti oleh Dr. James W. Pennebaker, “bahwa menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang mereka alami menghasilkan suasana hati yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik”. Meskipun pada awalnya Dr Pennebaker agak meragukan penelitiannya, tapi aku tidak meragukannya sama sekali. Aku telah mengalaminya, aku telah melepaskan emosiku dan kini timbul rasa puas dan lega.
Melalui kegiatan menulis, aku dapat mengungkapkan pengalaman pahitku yang sangat lama tersimpan, karena aku tidak ingin seorangpun tahu apa yang aku rasakan. Pada awalnya dengan menyimpannya baik- baik aku akan merasa lebih aman dari segala macam gangguan. Kenyataannya tidaklah demikian. Aku menjadi sangat tertutup dan menarik diri dari lingkungan, yang lama-kelamaan amat mengganggudan menyiksaku. Ternyata dengan mengungkapkan apa yang aku rasakan, aku jadi merasa terbebaskan dari beban yang sangat berat. Aku merasa terbebas dan ringan. Aku kembali seperti sediakala, yang dengan mudahnya mengungkapkan siapa diriku, tanpa peduli kesan orang lain. Dulu aku khawatir sekali jika orang mengetahui siapa aku.
Segala sesuatu itu tidak akan dapat menjadi sebuah manfaat jika tidak dituliskan, seperti yang diungkapkan oleh Ali bin Abi Thalib, r.a. Kini aku dapat menuliskan apa yang aku rasakan, aku dapat merangkaikan kata-katanya. Yang akhirnya aku dapat menuliskan apa yang aku fikirkan, apa yang aku rasakan, dan apa yang aku baca. Tanpa malu-malu pula aku dapat meyampaikan apa yang kuimpikan. Terlebih lagi aku dapat mencurahkan isi hatiku kepada PC, tanpa sungkan. Aku mau nangis, mau ketawa atau sambil sebel, aku tak merasa malu, sungkan atau bersalah, aku merasa malah menjadi plong.
Plumpang, 15 Juli 2008
Lia Said


July 18th, 2008 at 9:00 am
Saya agak bingung dengan paragrap tiga tentang menulis itu punya saudara kembar yaitu membaca. Itu merupakan kesimpulan penulis atau perkataan Pak Hernowo dari Mizan?
Kemudian pada baris ketiga paragrap tiga: .. Tapi aku berpendapat lain. Di awal paragrap sudah menyimpulkan tapi kemudian berpendapat lain.
July 18th, 2008 at 10:40 am
apresiasi pertama untuk postingan ini. salut, anda telah menunjukkan banyak kutipan para ahli. itu pertanda anda sangat hobby mencatat “kata/kalimat penting”.
apresiasi kedua menurut saya, gaya bertutur cukup rapi. enak dibaca. perhatikan paragraf pertama, cukup mengundang perhatian saya untuk menelaan rankaian kalimat berikutnya. akhirnya, saya pun membaca sampai akhir.
menambahkan “bedahan” Lita diatas, koreksi saya berikan adalah sbb:
1. alurnya bisa lebih terstruktur lagi, jangan sampai kabur (samar) mana pendapat penulis dan mana kutipan.
2. jangan terjebak pada egoisme pribadi. perhatikan dua paragraf terakhir. artikel ini terjebak antara membuat tulisan bersifat “analisis” dengan “curahan hati”. sebaiknya dipisahkan, atau kalau perlu bikin dua macam postingan.
3. sangat bagus mengutip kata-kata penulis terkenal. hanya saja, pakailah kutipan itu untuk memperkuat argumen. kalau terlalu banyak, kurang bagus juga. apalagi belum dijembatani dengan rangkaian kata yang luwes.
o.k. selamat datang di blog ini. Berlia Saridanti, tak sabar aku pengin membaca postingan kamu berikutnya
July 19th, 2008 at 3:19 pm
Terlepas dari apa yang sudah dikomentari kawan-kawan di atas, saya ingin meluruskan sedikit bahwa dalam bukunya, Darwin tidak pernah menegaskan secara langsung bahwa “manusia berevolusi dari kera”.
Bagi saya, membaca sebuah tulisan atau buku sama seperti membaca pikiran orang lain, berinteraksi dengannya. Perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah terjadi, untuk itulah pemikiran kritis harus tetap dipakai saat membaca, bukan menelan mentah-mentah.
Salam.
July 19th, 2008 at 5:30 pm
Terima kasih atas perhatian teman-teman sekalian. Masukan-maukan teman-teman jadi perhatianku. Maklum aku baru belajar menulis.
Jangan bosan koreksi aku ya… Terima kasih.
Buat Mbak Lita;
* Pernyataan itu memang dari pak Hernowo Mizan yang menulis Quantum Writing.
* setelah saya baca lagi paragraf tiganya, saya juga jadi bingung kok mbak. Mudah-mudahan saya akan lebih teliti lagi.
Buat P. Salwangga
Terima kasih Pak, emang setelah saya baca lagi masih acak adul ya..
BTW, terima kasi banyak lho komentarnya…
August 6th, 2008 at 9:03 pm
Uraiannya bagus, judulnya nggak menarik.