apa yang membuat anda bergairah?
teman, blog belajar menulis makin lama makin sepi. apakah mungkin karena faktor moderasi? boleh jadi, para penulis blog ini cukup risau karena apa yang dipostingkan tidak segera muncul. boleh jadi, mereka segera ingin tahu penilaian pembaca melalui komentar-komentar dibawah artikel/tulisan mereka. boleh jadi, gak jadi-jadi tulisan yang dibikin. hmmm, mudah-mudahan tulisan ini bisa menyentuh ambang bawah sadar anda.
Apa yang membuat anda bergairah?
Aku melangkah tergesa menuju stasiun kampung bandan. Sebuah tempat pemberhentian kereta kedua setelah stasiun beos –jakarta kota- menuju stasiun cikarang, dimana rumahku berada. Cuaca berkabut, mendung menggelayut, desir angin lumayan kenceng. Masih lima menit lagi sebelum jadwal keberangkatan. Pertanda alam bahwa sebentar lagi turun hujan, semakin nyata. Gerimis satu-satu juga sudah mulai.
Seorang teman, tidak terlalu tinggi, kurus, kumis lumayan lebat (satu-satunya yang subur adalah kumisnya ini, termasuk kantongnya pun kurus), penampilan menyenangkan dan enak diajak bicara. Serius, ataupun becanda. Ia telah lebih dulu ada disana saat aku tiba.
“Apa yang membuat kamu betah hidup?” Tanyaku. “Atau sekedar bertahan hidup”
seorang teman lain, penampilan seperti om-om dengan rambut klimis, tidak terlalu suka becanda bilang, “asa, harapan, keinginan, mimpi. Tanpa itu manusia seakan mati”, katanya. Dari jawaban ini, berkembang menjadi obrolan diantara dua temanku tadi. Lebih seru lagi saat ia katakan “kamu berangkat pagi pulang petang seringnya malam, kalau bukan karena akhir bulan akan menerima gaji, apa masih mau bangun pagi?”
Aku, yang melontarkan pertanyaan dan topik, menjadi diam. “menjadi pendengar baik, justeru lebih bisa menyerap inti dan makna pembicaraan”, batinku. Sambil, tanganku tetap memegang buku. Ya, aku hanya membutuhkan ‘musik’ alami untuk mengiringi membaca. Suara obrolan mereka, sesekali tempo cepat, tinggi, tertawa, sedikit emosi mengutarakan pendapat, membuat aku semakin asyik dan fokus terhadap buku.
Saat berbagai argumen mereka lontarkan, -si teman yang kurus ini, termasuk bunglon. Orang serius ia ikutin serius, becanda begitu pula- si om semakin ilmiah, sementara si kurus tak bisa menimpali. Taraf berfikir yang berbeda diantara mereka menjadikannya kendala. Aku menurunkan buku sebentar, menatap mereka, dan berkata “apa ataupun siapa yang membuat manusia tetap hidup? Tuhan!”.
Jawaban menghenyakkan mereka, disambut si kurus dengan tawa. Sementara si om mengernyitkan dahi pertanda tak suka. “Gawat nih, Sal mulai turut campur. Dilayani salah, tidak dilayani dikiranya kalah” kira-kira begitu pikirnya. Tak percaya, Tanya sendiri deh, sana.
Aku jadi teringat (ini diluar topik ya, hanya sekedar pembanding –situasi) sebuah cerita tentang seorang madura datang dari kampung, menempati bantaran kali, membangun rumah tinggal. Mulai dari bilik bambu beratap jerami, berganti bahan kayu akhirnya menjadi bangunan permanen dari batu-bata. Dua tahun kemudian, aparat pemerintah mengusir mereka karena mengganggu pemandangan. Alasan tepatnya sih, mereka tidak punya surat-surat semacam IMB, katanya. “Kalian, tidak bisa seenaknya menggusur saya. Saat saya datang kemari, masih berupa ilalang setinggi badan. Saya bersihkan, saya rapikan, dan saya minta imbalan menempati tempat ini. Ini bukan tanah pemerintah, tapi, milik Tuhan!” kata si madura. Celurit ditangan kanan siap berayun.
Segala sesuatu pastilah ada sumber utamanya. Biangnya, kalau kamu lebih suka menyebutnya begitu. banyak sekali orang berkutat pada penyelesaian njelimet, perdebatan panjang, argument ini itu, comot perkataan tokoh terkenal, tetapi malah menjauhkan solusi dan menyimpang dari topik utama. Ternyata, sangat sederhana penyelesaiannya. Jalan keluarnyapun ada di dalam diri manusia itu sendiri, tak perlu mencari jauh-jauh. Hanya perlu mengenali, sebenarnya.
Dalam menulis, banyak sekali yang bingung. Bagaimana biar tetap semangat menulis, rajin, ide selalu datang, tidak mudah putus asa, mudah menuangkan pikiran (koq dituang, teh tubruk?), rajin posting di blog, dan masih banyak lagi lainnya. Intinya adalah, bergairah dalam menulis.
Orang terdorong untuk melakukan segala kegiatan, kalau merasa mendapatkan untung. Keuntungan tidak melulu dalam materi, uang, imbalan. Kejiwaan, ini yang semestinya dipupuk. Hati yang tabah dan jiwa yang kuat adalah modal dasar yang harus dimiliki se-segera mungkin. Hal ini sangat berkaitan erat dengan kualitas maupun karakter penulisan.
Identitas, milikmu paling berharga. Peliharalah! Soal identitas ini, hanya masing-masing diri yang bisa menyelami. Jangan harap menghasilkan tulisan “gue banget” selama jiwamu sendiri tidak kaukenali. Apa jadinya, kalau tiba-tiba ada operasi yustisi sementasa kau tidak pegang kartu penduduk? Begitulah menulis.
Bagaimana membuat jiwa yang kuat agar tetap bersinar sekaligus mencerminkan karakter diri?
Ingatlah, kamu ada didunia ini tidak nongol dari batu, muncul begitu saja. Ada yang menciptakan. Kenalilah penciptamu, dekati Dia, ajak dialog secara sunyi. Cukup berdua saja tak usah kau libatkan yang lainnya. Ritual-pun telah kauketahui seluruhnya bukan? Untuk anda yang muslim, konsentrasilah saat sholat lima waktu. Tambah sunnah qobliyah ba’diyah, dan sunnah-sunnah lainnya. Berdo’a, ini sangat penting. Pasrahkan apa yang menjadi tujuan dan keinginan –produktif menulis, konsisten, tidak mudah putus asa, selalu gembira, gampang menangkap ide yang sudah bertebaran disetiap tempat dan kesempatan- bersepi-sepilah saat seperti itu. Konsentrasi, serahkan sepenuh hati. percaya atas kekuatan yang Serba Maha itu ada dan siap membantumu kapan saja.
Malam hari, saat semua manusia tidur, bangun dan datangilah Penciptamu itu. Katakan, bahwa kau perlu kekuatan jiwa. Yakin apa yang kamu lakukan ini, terus menerus, kontinyu, maka, secara ambang bawah sadar keinginan dan tujuanmu akan muncul dengan sendirinya disaat-saat tak terduga. Begitu terasa segar otak dan hatimu –dimana jiwa bersemayam disana- segera bangkit, ambil pulpen dan selembar kertas. Curahkan apapun yang kamu rasakan.
Ada baiknya juga, rumuskan apa yang hendak kamu diskusikan (sampaikan) diwaktu-waktu telah aku sebutkan diatas (bersama ritual dan tata cara) dengan teratur pada sebuah catatan. Bukankah, bila hendak datang ke pertemuan arisan dan kamu ditunjuk untuk memjadi pembicara kaupun persiapkan segala macam catatan?
Misalnya, “Ya Tuhan, aku telah belajar menulis dari sekolah menulis online. Kini tiba saatnya aku merealisasikan langkah nyata agar apa yang aku inginkan menjadi kenyataan. Aku ingin menulis rutin setiap pagi selama satu jam, apapun dan bagaimanapun yang aku tuliskan itu, aku yakin, Engkau –Tuhan- melihat dengan sifat Maha MelihatMu. Satu hal yang aku yakin dalam hatiku ini, Tuhan, Engkau tidak akan tinggal diam, Engkau pasti membantu, karena aku makhlukMu. Engkau ciptakan aku, Engkau rawat aku, Engkau atur aku, Engkau ajari aku, Engkau awasi aku. Engkau tidak mungkin tinggal diam, Tuhan. Ya Tuhan, dengan segala kerendahan diri dan kepasrahanku yang dalam, kuserahkan semua padaMu, resapkan dalam hati dan jiwaku, akarkan agar menjadi benih-benih kemauan dan kekonsistenan di dalam relung-relung ambang bawah sadarku. Aku yakin, Tuhan. Aku bisa menulis karena Engkau mengajari aku, Engkau membimbing aku, Engkau mengingatkanku saat aku lalai, Engkau membisiki aku saat aku lupa. Ya Tuhan, aku ikhlaskan dan relakan apapun ketentuanMu. Satu bisikan yang selalu aku dengungkan, Engkau Maha Memberi, Engkau Maha Mengasihi, Engkau pasti mendengar munajadku ini. Amin.”
Jadi, apa (siapa) yang membuat anda bergairah?


November 7th, 2008 at 9:46 am
Gitu dong… tulisannya di posting di blog belajar menulis supaya dapat dibaca beramai-ramai dan dikomentari beramai-ramai pula.
November 7th, 2008 at 1:43 pm
iya juga ya.
trus, lita komentar apa untuk tulisan ini? huruf kapital sudah ada tuch….
November 10th, 2008 at 7:33 am
Yang membuat saya bergairah setiap hari bila saya masih diperkenankan menghirup udara sejuk di pagi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sehabis bangun pagi. Dalam arti hari ini sudah menjadi milik kita kembali.Hari kemaren juga sudah menjadi milik kita sejak kita pertama kali nongol di muka bumi melalui rahim ibu kita dan tentunya atas izin kehendak Zat Yang Maha Hidup sampai hari ini. Hari esok masih misteri, hanya milik Zat Yang Maha Hidup. Batasan hari ini dan esok apabila kita sudah melewati tidur sementara di malam hari.
Saat kita membaringkan tubuh di malam hari lalu tidur lelap itulah akhir perjalanan kita hari ini saja. Begitu kita terbangun esok hari, masih bernafas itulah hari ini diri kita yang mana kita akan melanjutkan perjalanan lanjutan hari kemaren. Begitulah seterusnya sampai umur kita habis pakai di bumi ini sesuai dengan takdir hidup kita. Nah agar kita mampu mempelajari hidup ini agar terus bergairah, tanamkan ajaran agama yang kita yakini dan amalkan. Lalu coba belajar olah jiwa (meditasi) sebagai bagian gaya hidup kita sehari-hari. Latihan ini cukup simpel dan setiap orang bisa melakukannya. Dalam setiap tarikan nafas dalam hidup ini Anda akan merasakan inilah arti hidup. Renungkan dan tanamkan pada alam bawah sadar kita arti setiap tarikan nafas dengan menyebut kebesaran nama Tuhan dalam doa. Sering-seringlah dan usahakan melakukan self talk (afirmasi) diri sendiri agar alam bawah sadar kita merespon apa yang kita afirmasikan. Misalnya afirmasi kita ingin gairah, sukses, sehat, bebas kecemasan dan ketakutan dan afirmasi positif yang menunjang keberhasilan dalam hidup agar bergairah tanpa merugikan manusia lain baik dalam tutur kata, perbuatan tingkah laku kita yang menyinggung perasaan orang lain. Apabila ini sudah terlanjur segera minta maaf pada orang yang telah kita sakiti dan tidak mengulang perbuatan serupa di lain hari.
Saya sendiri selalu mengafirmasi diri sendiri setiap meditasi kata sehat jasmani dan ruhani setiap tarikan nafas. Yah dengan sehat jasmani dan ruhani hidup ini jadi bergairah sekaliapun kiata melarat dalam materi tapi kaya jiwa. Itulah inti meditasi. Kita diajar agar tidak sombong, congkak dan iri melihat kesuksesan orang lain. Buang segala sifat negative dalam diri setiap hembusan nafas yang kita buang melalui mulut. Reguk energi positif melalui tarikan nafas melalui hidung. Rasakan, hayati, resapi dan setelah itu selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa hari ini kita masih diizinkan hidup di bumi ini.
November 10th, 2008 at 11:46 am
aku tak mengira, postinganku mendapat sambutan “dalam” dari anda. sejatinya, aku ingin sampaikan ialah, segala sesuatu ada (punya) ambang batas. hanya satu (didunia ini) yang tidak mengenal itu, baik dari segi dimensi waktu maupun dimensi ruang. ialah do’a. tak ada yang mampu membatasinya, kecuali si empunya (pengabul) do’a itu sendiri.
meditasi, (aku lebih suka menyebut muhasabah) merupakan ajang komunikasi tingkat rendah (ambang bawah sadar) antara diri dengan diri. perbincangan diri kalau ada yang lebih suka menyebutnya demikian. sekaligus perenungan yang memutar ulang dalam benak secara cepat namun terperinci akan masa-masa telah lalu, sekarang, dan akan datang. masa lalu, jelas sejarah. sekarang, jelas realita. dan masa datang, bisa berupa keinginan -harapan- atau ketakutan.
November 12th, 2008 at 12:47 pm
Dear Sal,
menjiplak kata penulis lain: writing is my passion!
mengikuti kata penerbit: book is my life.
menuruti kata Sal: menulis berarti boleh narsis!
hehehe:)
December 1st, 2008 at 4:06 pm
Wah, kalau menurutku malah tidak ada yang memiliki ambang batas, tapi biasanya ambang tersebut diciptakan oleh pikiran manusia sendiri. Aku selalu beranggapan bahwa ada Tuhan di setiap manusia.
Kalau ditanya apa yang membuatku bergairah menulis.. Cinta mungkin ya? he he he..