atm versi Sunda
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, biasanya harga barang-barang kebutuhan pokok akan kembali mengalami kenaikan menjelang bulan puasa kurang dari sebulan lagi. Artinya, kening kaum ibu akan berkerut semakin dalam. Kepala akan semakin sering cenut-cenut. Berbagai obat sakit kepala yang banyak beredar di pasaran tak lagi ada yang manjur.“Makanya gue pengen cepat-cepat pindah ke Bandung,” kata teman saya. Pandangan matanya menerawang. Mungkin teringat rumahnya di daerah Dago Atas yang masih dalam tahap pembangunan.
“Kalau sudah tinggal disana, gue bisa ‘saving’ lebih banyak. Di Dago kan dingin, jadi gak perlu memasang AC. Tagihan listrik pasti lebih murah. Lagipula menurut gue, harga barang-barang disana juga lebih ‘manusiawi’ dibanding disini.”
Saya hanya diam mendengarkan ‘curhat’ teman saya di siang yang terik itu.
“Selain itu anak-anak gue bisa ‘dekat’ dengan aki dan nininya. Bisa sering ke rumah mamih dan bapak, ” lanjutnya. Yang dimaksud dengan aki dan nini adalah orangtua teman saya itu. Sedangkan mamih dan bapak adalah mertuanya. “Anak-anak gue juga bakalan punya atm sendiri-sendiri.”
Saya langsung mengerutkan kening. “Sombong beneeerr… Mentang-mentang bisa ‘saving’ lebih banyak terus langsung bikin atm buat anak-anak. Memangnya loe gak takut tabungan mereka ‘kebobolan’?”
Teman saya menatap heran. “Kok ‘kebobolan’ sih?”
“Lahh… Jangankan anak-anak, kita saja suka ‘gatal’ bolak-balik tarik tunai lewat atm.”
Sambil senyum-senyum teman saya berkata, “Yang gue maksud dengan atm tuh artos ti mamih alias uang dari mamih. Kalau anak-anak gue main ke rumah mertua gue, pulangnya suka di kasih sangu jadi gue gak perlu lagi memberi uang jajan.”


August 6th, 2008 at 9:03 am
gubrak! lagi-lagi lita bikin mata sal membelalak. udah dech, sal setuju kalau tulisan lita mesti nongol setiap hari di blog ini. bagaimana tidak, lah wong cespleng mbikin otak sal fresh seketika.
artos ti mamih, alias nyadong bin nodong mertua.
klo atm versi jogja apaan ya. aku taktitip-ke moro-tuo? alias aku titipin maratua. titip makan, titip jajan, titip uang sekolah, titip…
August 6th, 2008 at 5:27 pm
kalau tulisan lita muncul tiap hari gak enak sama yang lain ahhh… (low profile high profit nih ceritanya.. hehehe…)
Thanks ya atas komentarnya
August 6th, 2008 at 5:43 pm
wooooogh jangan gitu dong Lita, aku seneng banget kalo tulisanmu bisa nongol tiap hari.. hahahahahaha… ide bagus tuh, cara ngirit paling mudah!
August 6th, 2008 at 8:44 pm
Haha:) simpel, menukik, dan sering kejadian di lingkungan kita; anak-anak dipaksa suruh main ke rumah nenek-kakeknya untuk dapetin uang saku dari mereka yang bisa nambahin ongkos belanja harian ibunya. Asyik sih, tapi kurang eksplorasinya hingga akhirnya dangkal. Ini juga penulisan yang saya anggap belum selesai.
Mestinya, si tokoh teman saya ini lalu bilang dengan itung-itungan matematis, biasanya neneknya kasih 5 ribu, kakeknya 5 ribu, ketambahan ada om-om sama tante-tantenya yang suka kasih. Biar mereka nggak pasti jumlahnya, tapi bisa jadi sekali anak-anak dateng tuh, mereka dapetin hampir 50 ribu. Bayangin aja, kalau sebulan mereka main 4 kali kan 200 ribu tuh? Apa nggak bisa buat bayar listrik apa telepon gue?”
Hihi:) matre banget ya… tapi untuk tulisan anda harus total, jangan nanggung nggak enak dibaca. Apa2 tuh kalau nanggung juga nyesek di dada. Oke?
August 7th, 2008 at 8:52 am
@ Kinoysan, thanks atas komentar dan masukannya. Eh, kadang-kadang yang nanggung itu ngangenin lohhh.. hehehe..
August 7th, 2008 at 11:23 am
masak sih yang nanggung enak ta,,,,kemaren cerita ama gw laen,,hehehe,,,,
btw,,,tulisan realitas yang emang seriing terjadi,,,termasuk gw,,,hehehehe