Babo Singkong
Anak dibimbing kemenakan dipangku, demikian bunyi pepatah Minang. Kewajiban seorang paman untuk membantu, mendidik dan menjaga kemenakannya merupakan tradisi Minang sejak dulu hingga sekarang. Ayahku sejak kecil sudah yatim, ia pergi merantau ke Jakarta dan diasuh oleh mamaknya. Ayah bertemu dan menikah dengan ibuku orang Betawi juga di Jakarta.
Kami memanggil mamak ayah itu dengan sebutan Babo Singkong, sebab rumahnya di daerah Jakarta Selatan penuh ditumbuhi pohon singkong di sekelilingnya. Rumahnya asri dan besar, aku ingat tentang beliau sedikit sekali; perawakannya kurus, tinggi, putih kulitnya seperti nenekku ( karena ia memang saudara nenekku). Alis matanya putih dan tebal, beliau memakai kacamata sebab setiap kami bertandang ia pasti sedang memegang buku dan duduk di kursi khususnya di belakang rumah.
Beliau lahir 1893 di kampung Sungai Batang-Maninjau, beliau wafat ketika usiaku 7 tahun lebih. Saat beliau wafat kami sekeluarga sudah menetap di Sumatra Utara. Yang aku ingat, ayah nampak sangat terpukul dan sedih sekali ketika mendapat kawat berita kematian mamaknya tersebut. Aku lupa apakah ayah pulang ke Jakarta melawat atau tidak.
Ayah dididik oleh beliau bersama dengan anak-anak beliau Pak Etek Nusyirwan, Etek Inah, Etek Nurtinah, Etek Nurma, dan Etek Prof. Nurbaiti ( guru besar di FK UI) putri bungsu beliau. Banyak yang ingin kutanyakan pada ayah nanti jika aku mendapat ijin Allah pulang di bulan ramadhan nanti. Aku mau bertanya banyak tentang Babo Singkong; penulis buku angkatan Balai Pustaka.
Babo singkong yang sering kami kunjungi dulu adalah Nur Sutan Iskandar. Puluhan cucu dan cicit beliau belum ada yang meneruskan jiwa mengarang karya sastra besarnya seperti; Katak Jadi Lembu, Hulubalang Raja, Abu Nawas, dll. Buku-buku beliau dicetak oleh negeri jiran Malaysia dan Singapura, aku tahu sebab putri bungsu beliau Etek Betty selalu kukunjungi setiap lebaran ketika aku masih berada di Jakarta.
Ayahku kini sudah berusia 86 tahun, aku selalu berdo’a setiap saat diberi kesempatan oleh Allah SWT agar diberi waktu bertemu ayah. Ayah, aku mau pulang dan menunjukkan satu buku hasil tulisanku pada ayah dan semua keluarga kita. Aku akan bilang pada ayah ” aku bisa menulis seperti Babo Singkong,” walau bukuku tidak sama dengan tulisan Babo yang memang mahir menulis.
Megara,30 Agustus 2007
Mamak=paman
Babo=kakek
Etek=Tante


August 30th, 2007 at 7:06 am
Tulisan ini kubuat sebab lagi kangen ayah…
dan kangen tanah air tercinta Indonesia.
September 3rd, 2007 at 4:04 pm
Mbak Tati semoga proyeknya come true dalam waktu dekat dan dapat berlibur bersilaturahim dengan Ayahanda tercinta. Senang ya masih ditungguin orang tua