Berbisik dan berteriak
Ada yang tahu nggak apa maksudnya Mary Leonhardt ini, yang dia tuliskan dalam bukunya ‘99 Cara menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis’ bahwa : “ Penulis yang baik juga dapat berbisik dan berteriak, ….” Gimana caranya ya…?
July 21st, 2008 by Berlia Saridanti in Umum |
Ada yang tahu nggak apa maksudnya Mary Leonhardt ini, yang dia tuliskan dalam bukunya ‘99 Cara menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis’ bahwa : “ Penulis yang baik juga dapat berbisik dan berteriak, ….” Gimana caranya ya…?
Praktek menulis adalah kiat paling jitu untuk menjadi PENULIS HEBAT. Jadi jangan ragu-ragu untuk menulis di blog ini, walau hanya tulisan yang paling sederhana sekalipun. (Jonru)
Kinoysan. Penulis yang telah menerbitkan banyak buku best seller ini akan mengomentari tulisan-tulisan Anda di Blog BelajarMenulis.com.
Blog Belajar Menulis © 2007 All Rights Reserved. Using WordPress Engine
Sponsored by: Printers, Projectors and Web Hosting Services
Entries (RSS) and Comments (RSS).
iBlogr 2.2 made by Nurudin Jauhari
July 22nd, 2008 at 2:29 pm
Maaf, saya belum membaca buku itu. Sekedar berbagi, anak adalah peniru. Menurut teman saya yang psikolog, fase menjadi ‘peniru habis-habisan’ terjadi sekitar masa kelas 2-4 SD. Anak perempuan akan meniru ibunya sementara anak laki-laki akan meniru ayahnya. Mulai dari pakaian, ucapan, sampai hal-hal yang sering dilakukan. Jadi kalau Mbak Berlia ingin anak Mbak bergairah menulis ya rajin-rajinlah menulis. Jangan lupa tunjukkan pada si anak kalau tulisan itu sudah di muat di media cetak atau di muat di blog dan di komentari banyak orang.
July 22nd, 2008 at 2:52 pm
Terima kasih responnya, Lita. Anda betul sekali,tetapi yang jadi pertanyaan saya adalah bagaimana brbisik dan berteriak itu dituangkan dalam tulisan sehingga benar-benar serasa sedemikian oleh pembaca. But thanks anyway.
Salam,
Lia.
July 22nd, 2008 at 3:42 pm
buku apaan tuch ya, boleh juga jadi bahan bacaan.
berbisik, asumsi saya adalah “bahasa hati”. bagaimana si anak, tanpa disuruh tetapi bisa diam-diam meresapi apa yang diinginkan ortunya. sebagai contoh, bila saya selalu makan dengan tangan kanan. ketika si anak melihat saya, tanpa saya suruhpun ia mengikuti. kalau setiap saat saya menulis, dan si anak tahu. ia pun terangsang untuk menulis.
berteriak, asumsi saya adalah menasehati langsung dengan mulut. didengar oleh telinga si anak. contoh, banyak. bisa dianalisa sesuai kondisi masing-masing.
itu, hanya pendapat pribadi. saya baru dengar tentang buku itu.
just sharing,
anak saya pertama, 10 tahun. tidak doyan menulis sama sekali. tulisannya kacau, tauge tumpah pun masih lebih rapi. padahal, ia cewek. hobbynya menghafal kitab suci (alqur’an). saya biarkan saja, sampai saat ini juz 30,29 telah ia lahab. memasuki juz 28.
“kalau memang ia suka menulis, tentu ketemu saat usianya nanti cukup. saat daya nalarnya memadai” batin saya. saat ini (kanak-kanak) biarkan ia bebas sesuka hati, asal tidak melenceng jalur.
July 27th, 2008 at 4:01 pm
Kalau boleh jujur, tulisan tangan saya itu berantakan banget lho Sal!
Syukurlah sudah ada komputer sekarang ini, kalau tidak, wah wah wah..
Baiklah, kalau boleh saya ingin sedikit menanggapi pertanyaan Berlia. Jika berbisik dan berteriak dianalogikan dengan penulis, maka menurut saya penulis tersebut dapat menyampaikan sesuatu dengan ‘halus’ dan juga dapat ‘menohok’.
Caranya adalah demikian, ketika seorang penulis ingin memberikan sesuatu pemahaman dengan cara yang ‘halus’ maka bahasa harus disesuaikan. Alur tulisannya juga santai, tenang, seolah-olah menarik simpati pembaca. Hingga pada akhirnya pembaca paham apa yang ingin disampaikan dan pemahaman itu akan berlangsung sangat lama, karena pembaca tersentuh.
Sedangkan ketika sang penulis ingin menyampaikan sesuatu yang menohok, tentunya bahasa yang digunakan harus menggebu-gebu, menyampaikan sesuatu yang mengejutkan pembaca namun tetap realistis dan berdasarkan logika. Hingga pada akhirnya pembaca paham apa yang ingin disampaikan dan pemahaman itu juga akan berlangsung sangat lama, karena pembaca merasa mendapat sesuatu yang baru secara tiba-tiba.
Saya kira, inilah yang disebut dalam mood tulisan. Kalau tidak salah, pernah juga dibahas dalam salah satu conference belum lama ini.
July 28th, 2008 at 9:32 pm
Terima kasih Mbak Citra, it makes sense, lho. Tapi dalam penerapannya buat saya sukar. Apa ya kira-kira sebabnya. Apa kurangnya perbendaharaan kata-kata ya… But thaks, anyway.
August 6th, 2008 at 8:58 pm
Saya gak baca buku ini, tapi coba penulis pertanyaan ini baca lagi, atau kalo memungkinkan contact penulisnya, atau penerjemahnya.