BERKAT MEMEGANG AMANAT
Wei Ming Zhi bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah seorang anak perempuan berumur 13 tahun yang baru lulus Sekolah Dasar. Karena pendidikannya dianggap paling tinggi di desanya, maka Ming Zhi diminta untuk menjadi guru pengganti di Sekolah Dasar Xue Ying di sebuah Desa di pinggiran kota Nanjing, Republik Rakyat China. Selama menggantikan Guru Gao –guru di sekolah itu yang pulang kampung untuk menegok ibunya yang sakit- Ming Zhi akan menerima upah sebesar 60 Yuan yang akan dibayarkan setelah Guru Gao kembali. Sekolah Dasar Xue Ying sangatlah tidak layak disebut sebuah sekolah. Bangunan yang “masih layak” untuk dihuni hanyalah satu kelas dan murid yang tersisa hanya tinggal 29 orang saja. Selama mengajar, Ming Zhi tinggal di sebuah ruangan yang berada di samping kelas bersama beberapa anak yang berasal dari desa lain yang jauh letaknya dari sekolah.
Sebelum pergi, Guru Gao berpesan tiga hal pada Ming Zhi. Pertama, jangan sia-siakan kapur yang sudah disediakan. Karena ketidakmampuan sekolah, untuk menulispun kapur tulisnya dijatah. Selama tigapuluh hari, Ming Zhi diberi kapur sebanyak 15 batang. Kedua, jangan biarkan anak-anak bermain di luar sebelum jam pelajaran berakhir. Sebagai tanda bahwa jam pelajaran berakhir, Guru Gao memberi petunjuk berupa sebuah paku yang ditancapkan di dinding. Jika sinar matahari telah melewati paku itu, maka pelajaran berakhir. Ketiga, jangan sampai murid yang bersekolah jumlahnya berkurang. Karena keadaan ekonomi yang buruk, banyak murid yang putus sekolah dan memutuskan bekerja membantu orangtuanya. Jika Ming Zhi bisa mempertahankan ke-29 murid yang tersisa itu, ia dijanjikan akan diberi tambahan upah sebesar 20 Yuan.
Layaknya anak-anak, murid-murid Ming Zhi juga nakal dan sering berbuat usil. Ming Zhi sampai harus bercucuran keringat untuk mengejar anak-anak yang keluar kelas selama pelajaran berlangsung. Untuk mengatasi nakalnya anak-anak itu, Ming Zhi banyak memberi pelajaran menyalin di papan tulis dan mengunci pintu kelas dari luar. Ia sendiri selesai menulis di papan tulis, langsung berjaga-jaga di luar kelas.
Suatu saat, ada seorang anak yang terkenal nakal bernama Zhang Huike dengan sengaja menumpahkan kotak berisi kapur ke lantai. Akibatnya kapur-kapur itu patah dan hancur. Mengingat pesan Guru Gao untuk selalu menghemat kapur, Ming Zhi jadi kebingungan, sebab kapur yang ada sekarang jumlahnya tidak mencukupi lagi. Saking hematnya, Ming Zhi kadang harus menggunakan ujung kukunya untuk memegang kapur yang sudah pendek agar masih bisa dipakai untuk menulis.
Suatu pagi, saat Ming Zhi mengabsen muridnya, ia tidak menemukan Zhang Huike di dalam kelasnya. Mei Ying, muridnya yang lain, mengatakan kalau Huike pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Ia disuruh orang tuanya bekerja di kota untuk membantu membayar hutang keluarganya yang miskin. Ming Zhi teringat pesan Guru Gao agar tidak membiarkan jumlah murid di sekolah itu berkurang lagi. Didorong oleh janjinya pada Guru Gao, maka Ming Zhi memutuskan untuk menyusul Huike ke kota. Rencananya itu didukung sepenuhnya oleh murid-muridnya yang lain.Namun pergi ke kota bukanlah perkara mudah. Ming Zhi perlu uang untuk membeli tiket bis ke kota seharga 16 Yuan. Tadinya, ia meminta bantuan murid-muridnya untuk menyumbangkan uangnya masing-masing 5 sen untuk membeli tiket tersebut, tapi niat itu diurungkannya karena ia tahu, anak-anak itu sendiri tidak pernah diberi uang karena keluarga mereka miskin. Akhirnya didapatlah suatu cara, yaitu dengan bekerja memindahkan batu bata dari tempat pembuatan batu bata ke tempat penjemurannya.
Dibantu oleh murid-muridnya yang rata-rata umurnya 9-11 tahun itu, Ming Zhi melakukan perkiraan jumlah batu bata yang harus mereka pindahkan untuk mendapatkan upah 16 Yuan. Akhirnya didapatlah angka 2000 buah batu bata yang harus mereka pindahkan jika ingin mendapatkan 16 Yuan.
Dengan bergotong royong, di tengah terik matahari, guru dan ke-28 muridnya itu memindahkan batu bata, tanpa sepengetahuan si pemilik batu bata. Mereka pikir dengan memindahkan batu bata itu, walaupun tanpa sepengetahuan si pemiliknya, mereka akan mendapatkan upah. Namun ketika si pemilik pabrik itu mengetahuinya dan melihat beberapa ratus batu batanya rusak, maka si pemilik pabrik itu marah dan tentu saja, tidak mau membayar hasil jerih payah anak-anak itu.
Namun setelah dijelaskan oleh Ming Zhi kalau mereka melakukan hal ini demi teman mereka Huike, si pemilik pabrik jadi terharu dan memberikan upah sebesar 10 Yuan. Uang sebesar itu masih belum cukup untuk membeli tiket bis. Akhirnya Ming Zhi dibantu oleh murid-muridnya, menjadi penumpang gelap di bis, tapi ketahuan oleh kondekturnya dan diturunkan di tengah jalan.Ming Zhi memutuskan untuk tetap pergi ke kota bagaimanapun caranya. Iapun berjalan sekuatnya sampai akhirnya ia bertemu orang yang memberinya tumpangan ke kota.
Ming Zhi tidak menyangka kalau kota itu begitu besar. Dengan polosnya, ia bertanya kepada setiap orang, apakah mereka tahu dimana muridnya, ZhangHuike, berada. Atas saran orang yang ditemuinya, ia membeli kertas dan tinta untuk dibuat selebaran yang kemudian diberikan pada tiap orang yang ditemuinya.
Uangnya makin berkurang, namun Huike belum juga ditemukan. Ming Zhi bahkan harus bermalam dipinggir jalan. Ia tidak putus asa. Keesokan harinya ia bertanya kepada orang-orang yang ditemuinya bagaimana caranya bisa menemukan orang yang hilang. Seseorang memberitahu Ming Zhi untuk pergi ke sebuah stasiun TV yang bisa menayangkan berita orang hilang. Ming Zhi akhirnya pergi ke stasiun TV itu. Untuk masuk halamannya saja ia harus berhadapan dengan berbagai birokrasi yang untuk ukuran anak seusianya tidaklah terpikirkan. Ia tidak mempunyai secarik kertaspun yang dapat dijadikan pegangan.Kartu pengenalpun ia tidak punya. Ia tidak bisa masuki ke halaman gedung stasiun TV yang dijaga oleh dua orang tentara itu.
Dari seorang pengunjung, Ming Zhi disarankan untuk langsung bertemu dengan Manajer Stasiun TV tersebut. Tapi bagaimana caranya?Masuk ke halamannya saja tidak bisa. Ming Zhi tidak hilang akal. Ia menanyai setiap orang berkaca mata dan gemuk –yang digambarkan sebagai ciri-ciri manajer Stasiun TV- yang datang dan keluar dari gedung itu. Hingga malam menjelang, Ming Zhi tidak juga menemukannya. Kembali ia harus melewati malamnya di pinggir jalan. Keesokan harinya, Ming Zhi kembali ke stasiun TV itu. Tindak-tanduk Ming Zhi menarik perhatian orang yang selama ini yang dicari-carinya, yaitu Manajer TV. Kebetulan, kemarin si Manajer rapat seharian.
Setelah mendapatkan penjelasan dari bagian resepsionis, si Manajer marah kepada si resepsionis karena tidak mengizinkan Ming Zhi masuk dan menemuinya. Saat menemui si Manajer, Ming Zhi menceritakan hal-ikhwal kepergiannya ke kota. Manajer Televisi itu terharu dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk menampilkan Wei Ming Zhi sebagai bintang tamu pada acara “Warna Warni Kehidupan” yang merupakan acara prime time di stasiun TV itu.
Acara itu merupakan acara favorit banyak orang, karena di sana dibahas berbagai sisi kehidupan masyarakat. Sehubungan kehadiran Ming Zhi, sore itu tema yang diangkat khusus mengenai masalah sekolah di desa. Pada saat siaran langsung dimulai, diiringi derai airmata Ming Zhi meminta agar jika Huike menontonnya segera kembali bersamanya ke desa. Siaran berdurasi tigapuluh menit itu diulang-ulang sebanyak 3 kali.
Sementara itu, di sebuah rumah makan, Zhang Huike menangis sesugukan saat melihat wajah gurunya muncul di televisi. Saat tiba di kota, bocah berumur 10 tahun itu tidak tahu harus kemana. Ia mengemis untuk bisa makan, sampai akhirnya ia diterima bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah rumah makan. Acara “Warna Warni Kehidupan” mendapatkan perhatian yang begitu besar dari pemirsa, sehingga banyak yang tergerak hatinya untuk membantu Ming Zhi dan sekolahnya.
Sumbangan berupa buku dan alat-alat tulis serta alat-alat bangunan untuk Sekolah Dasar Xue Ying mengalir setelah acara itu ditayangkan. Wei Ming Zhi kembali ke desanya bersama Huike diiringi oleh mobil-mobil yang berisi bantuan untuk sekolahnya. Ming Zhi membawa kembali Huike sesuai dengan janjinya pada Guru Gao untuk tidak membiarkan jumlah muridnya berkurang. Ia menjadi pahlawan bagi Sekolah Xue Ying, pahlawan bagi dunia pendidikan.*
*Kisah nyata ini telah diangkat ke layar lebar dengan judul Yi Ge Dou Bu Neng Shao atau Not One Less oleh Sutradara Zhang Yimou yang terkenal dengan karya monumentalnya Hero (yang diperankan Jet Li dan Tony Leung). Untuk lebih menghidupakan film ini, Zhang Yimou sengaja tidak memasang artis-artis terkenal tapi menggunakan tokoh-tokoh aslinya untuk memerankan diri mereka masing-masing.

