… Bisa!
INDONESIA BISA! Itu adalah slogan yang di luncurkan pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Namun tulisan ini bukan hendak memaparkan bagaimana caranya agar Indonesia bisa bangkit dari keterpurukannya . Ini tentang Mentari (bukan nama sebenarnya) dan adiknya. Dua orang balita kurang gizi yang tanggung jawab perbaikan gizinya diserahkan oleh Puskesmas kepada Rukun Warga tempat saya tinggal. Mereka berasal dari pemukiman penduduk yang letaknya berdekatan dengan kompleks perumahan.
Beritapun disebar. Ada banyak tangan terulur. Namun timbul pula kekhawatiran akan terjadi penyimpangan pemanfaatan bila bantuan yang terkumpul diserahkan sekaligus. Akhirnya diputuskan bahwa bantuan akan diberikan setiap hari Senin. Yang dijadikan ‘posko’ adalah rumah kader Posyandu. Semua yang terkumpul akan didata lebih dulu sebagai bahan laporan ke Puskesmas. Ternyata bukan hanya bahan makanan, ada juga yang memberikan kasur kecil, bantal, selimut, perlengkapan mandi dan baju bekas layak pakai.
Tanpa terasa sudah dua bulan berlalu. Suatu sore, diantar ayahnya, Mentari dan adiknya datang ke kompleks kami. Mereka berdua tampak ‘lebih berisi’, lincah dan ceria. Senang sekali rasanya melihat hal kecil yang kami lakukan membuahkan hasil. Sedikit yang kami sisihkan ternyata bisa berarti banyak bagi Mentari dan adiknya.
Setelah enam bulan berlalu, kami tidak tahu apakah Mentari masih akan menjadi ‘tanggung jawab’ kami atau tidak. Mungkin pula ada ‘Mentari’ lain yang akan kami urus. Yang jelas kami sudah buktikan bahwa Bersama Kami Bisa! Dan itu bukan hanya slogan semata.


June 12th, 2008 at 4:45 pm
sudah selayaknya, para manusia penduduk bumi harus menebar empati. bukan hanya simpati tiada aksi.
bagus, saya cukup terhanyut membaca tulisan ini.
sip, nulis terus ya. tulisannya makin lancar.
terus semangat!
sebuah puisi untuk rekan penulis di SMO :
rembulan memang terang bersinar
bintang-bintang pun iri kalah bersinar
tapi,
rembulan mendadak tersipu
ketika menyadari siswa SMO makin sering menulis
bahkan awan bergerak
berhenti mendadak
demi membaca tulisan para manusia kian semarak
salam hangat,
salwangga
June 12th, 2008 at 7:39 pm
Sebuah tulisan yang menarik, dan saya sangat setuju dengan Sal.
Dilanjutkan puisinya boleh? (wah, sebentar lagi Pak Jonru mungkin tergerak untuk membuka kelas puisi ya?) ^^
***
pagi datang memilin embun
rebas-rebas menitikkan dawai
tapi,
suara segera membisu
ketika serat pikir ditorehkan seru
bahkan pelangi nampak
memberi semangat
demi karya dan perdebatan yang kian laju
June 12th, 2008 at 10:02 pm
Terima Kasih atas komentarnya
Malam tak lagi senyap
Hembusan angin terdengar bertalu-talu
Aksara yang terangkai tak akan lenyap
walau putaran waktu terus berlalu
June 13th, 2008 at 9:22 am
ha..ha…ha..ha…
buah kecapi
buah kedongdong
klo ndak pengin cepet mati
jangan bengong
sepijarnya lampu, suatu saat kan redup
di malam gelap, sianak menangis
jangan lupa motto “karena saya mau hidup”
“maka saya menulis”
ke pasar baru beli sepatu
jangan lupa beli rambutan
nulis jangan cuma satu
sehari sepuluh, pasti makin cekatan
June 13th, 2008 at 11:15 am
Lama-lama jadi buku antalogi puisi nih kayaknya kalo diterusin… hahahahaha.. kolaborasi sudah bertiga, ada yang mau ikutan juga?
June 14th, 2008 at 12:48 am
Indonesia bisa
kita pun tegar,
jika engkau menderita
tetaplah bersabar
hal tersebut untuk Mentari, tapi jangan lupa untuk….
setelah kuat dan bangkit
maka berlarilah sejauh mungkin,
fokuskan semua pkiran yang rumit
dan raihlah denga rasa yakin
mboh ngomong apa aku ini…
kebiasaan nulis puisi ngaco di flickr
June 16th, 2008 at 10:39 am
wiji kecik,
isi sawo.
rambut brintik,
kaya gendruwo.
pitik walik saba kebon,
kenya manis klambine jambon.
panganan cilik arane klepon,
arep urip, ja kakean kelon.