Bohong? Bolehkah..
Bohong? Boleh gak sih… Ya jelas gak boleh lah, dosa tau!!..
Tadi siang, kebetulan saya bersama beberapa ibu di komplek menjadi panitia lomba tujuhbelasan. Seperti lomba pada umumnya, selalu ada anak yang kalah dan menang. Salah satunya adalah anak teman saya, sebut saja namanya Ikhsan.
Ikhsan ini kebetulan ikut lomba membawa kelereng dengan sendok. Pesertanya menjacapai dua puluh orang, maka diadakanlah beberapa babak penyisihan. Pada babak pertama ini, Ikhsan keluar menjadi juara satu, dan terpilih untuk mengikuti pertandingan selanjutnya di babak final. Sayangnya pada babak final, Ikhsan kalah.
Tapi namanya juga anak-anak, dia taunya kemaren sempat menang, dan dalam benaknya itu berarti dapat hadiah. Namun kenyataan tidak berkata demikian… dan Ikhsan pun menangis, meraung-raung, mengambil pengeras suara milik panitia, dan mengumumkan bahwa dirinya juara… Ibunya panik, stres, malu, bingung, semua bercampur menjadi satu. Dari pada semakin tak karuan, dengan bijak sang ibu mengambil keputusan untuk membuat “hadiah khusus” yang dititipkan pada panitia untuk anaknya.
****
Ramli sahabat saya baru saja menikah dengan Maesarah istrinya yang cantik. Namun namanya juga manusia, tak luput dari kekurangan. Demikian juga Maesarah yang cantik, dia masih kesulitan untuk memasak yang enak. Tapi Maesarah tak pantang menyerah, dia terus belajar memasak demi menyenangkan hati Ramli. Dan itu sama artinya Ramli harus sering-sering makan masalan hasil percobaan Maesarah, yang rasanya kurang enak di lidah.
Tapi saat Maesarah bertanya, dengan wajah yang antusias dan mata indahnya yang berbinar-binar. Ramli tak tega menjawab bahwa makanan itu kurang enak.. sambil tersenyum Ramli selalu bilang ’sangat suka masakan buatan istrinya’. Membuat hati Maesarah gembira, namun mulas di perut Ramli.
****
Saya rasa… hampir sebagian besar orang tau, bahwa yang namanya berbohong itu dosa… jadi sebaiknya ya tidak dilakukan. Tapi saya sendiri (sebagai orang yang mengaku tau dan sadar) bahwa berbohong itu dosa, kadang secara sadar ataupun tidak sadar masih saja melakukan itu… bahkan ironisnya tak jarang dengan kedok ‘DEMI KEBAIKAN’. Benarkah?? (kie)

