Catatan Kecil dari “AKU BISA NULIS CERPEN #1, JONI ARIADINATA (1)”
Termotivasi oleh tulisan dan materi Bang Jonru untuk membaca, membaca, membaca, menulis, menulis, menulis, bila ingin menjadi penulis saya berupaya untuk meningkatkan minat baca saya kepada karya-karya sastra atau topik apa saja yang belakangan ini mulai menurun, tidak seperti dulu lagi aku bisa baca Dedes Arok-nya Pramoedya Ananta Toer yang tebal itu mulai habis Isyak sampai menjelang fajar. Ah..memang gila kedengarannya. Atau tetralogi pulau buru khususnya Bumi Manusia yang telah aku nikmati lebih dari lima kali. Karya-karya Pram benar-benar Addicted bagi saya.
Dalam melaksanakan motivasi tersebut memang diperlukan sarana-sarana termasuk buku-buku baru yang akan aku baca sedangkan buku-buku yang aku punya yang kebanyakan novel, cerpen, puisi itu sudah hampir semua aku baca bahkan ada yang berkali-kali bila itu buku favorit aku. Jadi pinginnya memiliki buku baru yang sudah ada dalam Whist List dibenak dan coretan dikertas kecil yang aku simpan di dompet.
Beberapa Buku yang sudah ”kuincar” beberapa waktu lamanya adalah tentang kepenulisan dengan tujuan agar aku tidak GAPTEK (Gagap Teori Kepengarangan/Kepenulisan) diantaranya adalah Mengarang Itu Gampang, Areswondo Atmowiloto, Menulis Dengan Emosi (lupa nama pengarangnya), dan Aku Bisa Nulis Cerpen, Joni Ariadinata. Judul-judul itu merupakan referensi dari Indarwati Harsono yang aku baca di MP beliau (http://lembarkertas.multiply.com) yang kelihatannya menarik bagiku.
Setelah ada kesempatan membeli buku yang telah lama kuincar di sebuah Toko Buku dikawasan Jalan Darmo, Surabaya aku pun dengan antusias langsung masuk ke Section Sastra, pasti deh ada disana buku-buku yang kumaksud itu, pikirku. Tanpa mencarinya langsung kutanyakan pada pegawai Toko Buku tersebut yang berada didepan komputer. Dengan mudah petugas tersebut menunjukkan ketersediaan buku-bukunya sekaligus mengambilkannya untukku, termasuk buku kumpulan puisi Untuk Bunda dan Dunia, dan Nadya: Kisah Dari Negeri Yang Menggigil karya Abdurahman Faiz, putra pertamanya Helvy Tiana Rosa, seorang sastrawan. Buku kumpulan puisi itu akan aku hadiahkan kepada baby boy semata wayangku yang beberapa waktu lalu telah aku janjikan untuk aku belikan buku puisi. Namun sayang buku tentang kepenulisan tersebut yang tersedia hanya karya Joni Ariadinata, terdiri dari dua Jilid, itupun letaknya tidak di section sastra.
Membaca karya Joni Ariadinata ini saya jadi teringat profil beliau yang merupakan seorang penyair dan pelukis yang tinggal di Jogjakarta. Namun sebelum menjadi penyair beliau pernah menjadi abang becak seperti yang diabadikan oleh Joko Pinurbo dibawah ini:
sampai di kuburan aku berseru bangun dong pak,
tapi tuan penumpang diam saja,
malah makin pulas tidurnya.
aku tak tahu apakah bunga yang kubawa
akan kutaburkan di atas makam nenek moyangku
atau di atas jenazah bang becak yang kesepian itu.
(Penumpang Terakhir, Joko Pinurbo, Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibarang Sarung, GPU, 2002)
Sajak diatas merupakan penggalan puisi karya Joko Pinurbo dalam Celana Pacar Kecilku di bawah Kibaran Sarung. Bercerita tentang Joni Ariadinata yang sebelumnya pernah menjadi penarik becak sebelum menjadi seorang penyair terkenal sekarang ini. Tentu cerita tersebut memberikan semangat tersendiri bagi aku untuk lebih bergiat berupaya untuk belajar menulis dan mungkin bagi orang lain juga. Menurut aku cerita tersebut dapat menginspirasi dan memberikan semangat untuk lebih giat belajar dalam dunia kepenulisan. Perjuangan hidup mulai dari bawah sampai dengan menjadi penyair terkemuka di tanah air. Menghiasi ranah sastra Indonesia dengan karya-karyanya yang bermanfaat bagi umat.
Dalam karya Joni Ariadinata Jilid #1 tersebut menyajikan beberapa hal mulai bedah karya dari para penulis pemula sampai dengan pemberian wawasan, imajinasi, sikap penulis, tema, Latar (setting), Tokoh, Visi dan Gaya kepenulisan. Sesuai dengan materi yang diberikan oleh Bang Jonru tentang karakter tokoh, aku tertarik dengan pendapat Joni Ariadinata tentang tokoh dalam fiksi (Novel atau Cerpen).Tokoh dalam fiksi (novel atau cerpen) memegang peranan kunci, hal ini berbeda dengan puisi. Joni dalam bukunya tersebut mengklasifikasikan tokoh dalam fiksi (novel atau cerpen) menjadi dua yaitu: (1) Tokoh Abstrak, (2) Tokoh Kongkret.
Tokoh abstrak dalam fiksi novel atau cerpen dapat berupa waktu, keinginan, atau konsep-konsep pemikiran. Joni memberian referensi ”Lempengan-Lempengan Cahaya dari Danarto” yang memiliki tokoh abstrak tentang turunnya Ayat-Ayat Al-Quran surat tertentu sebagai karakter tokoh abstrak yang disajikan dengan baik, dapat dijadikan sebagai contoh bagi para pemula. Sedangkan tokoh kongkret dapat berupa: manusia, binatang, benda-benda mati seperti: batu, kayu, matahari dan lain-lain. Contoh dari tokoh kongkret misalnya ”Percintaan Dengan Pohon karya Danarto” atau Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma yang menyajikan ragam karakter tokoh yang bersifat bengal, jahil, jahat, dermawan, baik, iseng dan sebagainya.
Pengungkapan karakter tokoh yang kuat itu sendiri dapat disampaikan dengan berbagai macam cara seperti misalnya: penggunaan dialog, pemaparan tingkah laku dalam merespon dialog, penunjukan karakter lewat omongan orang lain, serta percakapan batin langsung tokoh-tokohnya.
Bila kawan-kawan di belajar menulis sudah pernah menikmati karya-karya yang direferensikan oleh Joni Ariadinata tersebut diatas mungkin bila tidak keberatan bisa dishare di forum ini.
Bagaimana menurut Anda?

