Archive for the ‘Eko’


Published October 7th, 2008

Pesan Bang Napi, Untuk Menyambut Mati!

Ca-Ri ( Catatan Ringkas )

Pesan Bang Napi, Untuk Menyambut Mati!

Oleh: E. Wahyudi

Berawal dari sebuah pertanyaan yang diajukan seorang rekan ketika kumpul bareng pada malam takbiran lalu. Adi, rekan saya yang terkenal pendiam ini bertanya ”Kalau harimau mati meninggalkan belang. Lha, kalau manusia mati meninggalkan apa coba?” sederhana sekali pertanyaan ini. Namun luar biasa, jawaban yang terlontar beraneka ragam. Saya menjawab ”Ninggalin kenangan lah…”, Ari menjawab ”Ninggalin kebaikan! Pasti”, sementara Dicky yang duduk di sebelah saya langsung menyahut dengan gaya kocaknya ”Ninggalin utang, kaleee…” candanya renyah membuat kami ger-geran, ngakak dibuatnya.

(more…)

Published September 15th, 2008

Senandung Cinta Banua

Senandung Cinta Banua

Oleh : E. Wahyudi

Tiga tahun sudah aku meninggalkan kota Pangandaran. Pantai, angin, nyiur, sahabat, dan semua yang ada disana telah ku tinggalkan. Tak terkecuali; Emak! Makhluk terindah di muka bumi ini yang paling aku sayangi.

Namun, malam itu. Rasa rinduku kepada semuanya mendadak membuncah. Rindu?!. Ya!. Sungguh!. Aku sangat menginginkan mereka hadir saat itu. Saat aku terbaring lemah dipembaringan. Di sebuah kamar yang disediakan untuk marbot penjaga surau. Sejak ba’da Isya kepalaku terasa pusing, tubuhku menggigil, sedangkan suhu badanku turun – naik tak menentu.

(more…)

Published September 15th, 2008

Aku, Kakek, dan Kunyit

Aku, Kakek, dan Kunyit

Oleh: E. Wahyudi

Cerita ini, aku ketengahkan dari hasil percakapanku dengan kakek. Suatu hari, di teras rumahnya yang sejuk.

”Gimana keadaanmu, Cep?”

”Alhamdulillah sehat, Kek” jawabku.

”Sakit perutmu masih sering kambuh?” kakek menanyakan sakit maag yang kuderita. Sakit yang selama ini paling sering menyiksaku.

”Masih, Kek”

”Kalau begitu, tunggulah”

Tiba – tiba kakek meninggalkan aku diteras sendirian. Ia berjalan menuju ke dapur. Tak lama kemudian, ia kembali dengan segelas cairan berwarna kuning ditangannya.

(more…)

Published September 2nd, 2008

Malaikat Beroda Dua

Pagi itu, untuk pertama kalinya aku tidak setuju kepada mendung yang bergelayut. Hati kecilku miris, merasakan bahwa hujan terlalu cepat akan turun ke bumi ini. Betapa tidak, lima belas menit sudah aku menunggu ojek dipersimpangan jalan. Tak satupun yang melintas. Demikian juga orang – orang yang berkendaraan. Sepi. Mungkin mereka menarik pelajaran dari alam ini, pelajaran tentang kewaspadaan yang berbunyi: ”tak baik bepergian ketika hari sudah mendung”.

(more…)