Archive for the ‘Siswa Angkatan II’


Published August 25th, 2008

Kerangka Karangan

Fungsi kerangka adalah sebagai gambaran membentuk tubuh secara utuh. Pun dengan menulis. Hal kecil ini kadang terlewat oleh kita. Kerangka bisa membantu kita untuk fokus. Kerangka bisa kita tuliskan namun ada pula yang masih tertinggal di otak. Kita tinggal pilih mau yang mana.

Beberapa hari yang lalu aku mencoba menerapkan ilmu ini pada anak usia 8 tahun. Aku ajak mereka melihat sebuah gambar seperti di bawah ini:

Lantas aku ajak mereka memberi nama tokoh ketiga beinatang tersebut. Kita sepakat namanya Mr. Brown, Si Tupa dan Si Tupi.
Apa yang mereka lakukan?
Jawaban mereka:
Bermain di pantai
Mr. Brown mendayung perahu (maaf…masih banyak lainnya).
Anak-anakpun mengembangkannya dalam sebuah karangan. Hasilnya:

Anak-anak saja bisa, bagaimana dengan yang dewasa?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.


.
.
.
.
.
.
.
.
.

Published August 21st, 2008

Jangan Remehkan Perkara Kecil

Aja sira agepage nandangi pakaryan gedhe utawa ngarep-arep tekane pakaryan gedhe, amarga pakaryan gedhe iku arang tekane. Kang kerep sira sandung iku pakaryan kang cilik-cilik.

Sira aja ngremehake marang pakaryan kang cilik-cilik iku, amarga yen sira durung kulina nandangi pakaryan kang gampang, kepriye anggone sira bakal nandangi pakaryan kang angel.

Mulane samubarang kang tinemu ing tanganira, lakonana kalawan temen-temen ing ati suci. Atasna awit karsaning gusti, amarga ora ana pakaryan ing donya iki kang ora atas karsaning Pangeran, nadyan kang katone remeh pisan ( serat Sasangka Jati )

(more…)

Published June 16th, 2008

Teguran di Peron

Belajar itu tidak pernah memandang usia, waktu dan tempat kan?? Apalagi jika belajar tentang kehidupan. Rasanya tidak ada aturan baku yang mengikat. Siapapun bisa menjadi guru. Teman, rekan kerja, sahabat, anak, istri, suami, bahkan orang-orang yang tidak kita kenal bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

(more…)

Published May 24th, 2008

Ragu

Kulihat pantulan bayanganku di cermin. Seorang gadis dengan rambut panjang berbandana merah muda balas menatapku. Wajah dua puluh satu tahunnya yang muda dan segar sesaat mengukir kerut di kening. Sapuan tipis – tipis bedak dan olesan tak-kentara lipstik merah hati tak mampu menutupi pucat wajahnya. Aku mencoba untuk tersenyum, meredam gelombang kekhawatiran yang dari semalam sudah kurasakan. Cermin tidak bisa berbohong. Senyum yang kembali terpantul darinya menyisakan bias kegelisahan yang masih kurasa pagi ini. (more…)

Published April 8th, 2008

Laju Kapal Kecilku

 

Hujan gerimis. Namun tak seperti biasanya, matahari masih bersinar mengalahkan mendung yang samar bergelayut di antara awan. Di balik jendela ruang tamu, kulihat teman-teman sekampungku bermain hujan dengan riang. Tawa mereka sesekali terdengar di antara derap kaki mereka saat saling berkejaran di lapangan persis depan rumahku. Hmm… ingin rasanya aku seperti mereka; menikmati dinginnya hujan sebelum akhirnya mendapatkan secangkir teh hangat di rumah. Ibu selalu melarangku bermain di saat hujan. Kondisi tubuhku yang mudah sakit semakin memperkuat larangan ibu. Seberapa pun seringnya aku merajuk, ibu selalu teguh dengan keputusannya. Hari-hari di bulan Agustus selalu menyiksaku. Aku jarang bermain karena hujan nyaris datang setiap hari. Di saat seperti itu, biasanya aku hanya diam di rumah sambil memandang ke luar. Tiba-tiba kulihat teman-teman yang tadinya berkejaran di bawah hujan berjongkok, seperti mengelilingi sesuatu. Lamunanku tadi membuatku tidak sadar dengan apa yang terjadi di sekelilingku, bahkan aku tak sadar gerimis telah berhenti. (more…)

Published April 8th, 2008

Saat Untuk Mengerti

 

Yadi melambaikan tangannya kepadaku sesaat sebelum dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Aku membalas lambaian tangannya kemudian mulai menutup pintu pagar rumahku. Suara raungan motornya yang memekakkan telinga belum juga hilang ketika tiba-tiba Mbak Andien sudah berdiri di sampingku dengan pandangan menuduh. (more…)

Published April 8th, 2008

SEMINGGU TANPA PUTRI

Dea mengayuh sepedanya perlahan. Sesekali angin mempermainkan poninya sehingga ia mesti menyibaknya agar tidak menghalangi pandangan matanya. Udara pagi ini sangat cerah, tapi wajah Dea terlihat kuyu; tidak seperti hari-hari sebelumnya. Masih terngiang di telinganya ucapan Tante Rina tadi pagi, “Putri nggak bisa berangkat hari ini De…Kemarin sepulang sekolah tiba-tiba badannya panas sekali. Malemnya langsung Tante bawa ke rumah sakit, ternyata dia kena Demam Berdarah…Sekarang dia dirawat di….” Dea mencatat nama rumah sakit dan ruangan tempat Putri dirawat. Dea menutup gagang telepon dengan setengah terisak. (more…)

Published April 8th, 2008

Mimpi-mimpi Vina

 

Malam sudah larut ketika aku masih mendengar suara orang sedang mengetik. Sekilas kulihat kamar adikku; masih menyala. Akhir-akhir ini Vina memang sering sekali mengetik sampai larut malam. Pernah suatu kali aku masuk ke kamarnya dan melihat apa yang sedang dia ketik. Begitu mengetahui kedatanganku, Vina langsung menutupi layar komputer dengan kedua tangannya. Dia langsung merajuk menyuruhku keluar dengan muka tersipu. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Kalau tugas sekolah, tidak mungkin dia sebegitu tidak inginnya tulisan itu dibaca olehku. Mungkin dia sedang menulis diary seperti yang juga sering kulakukan. Ya, mungkin saja. Hhmm.. aku jadi penasaran. Sebenarnya aku bisa saja diam-diam membuka file komputer Vina untuk melihat apa yang sedang dia tulis. Tapi aku tidak ingin melakukan itu. Aku tahu benar sifat adikku itu. Nanti dia juga pasti akan cerita sendiri padaku. (more…)

Published March 30th, 2008

Antara Jalan Berlubang dan Korupsi

Baru baru ini diberitakan oleh berbagai surat kabar di Jakarta bahwa banyak ruas jalan ibu kota mengalami banyak kerusakan. Hujan yang mengguyur sepanjang musim penghujan telah menggerus aspal jalan dan lambat laut membuat lubang-lubang besar. Saking besarnya lubang tersebut maka banyak ruas jalan di Jakarta menjadi kubangan besar yang menganga. Banyaknya jalan berlubang bak kubangan ini telah menelan banyak korban. Pengemudi sepeda motor bersama istrinya diberitakan kecelakaan dan meninggal dunia, ketika mencoba menghindar lubang jalan dan naas ada kendaraan lain dari belakang yang tidak mengira sepeda motor tersebut akan berbelok tiba-tiba sehingga tabrakan yang merenggut jiwa pengendara sepeda motor bersama istinya tersebut tidak dapat dihindari.

(more…)

Published March 23rd, 2008

Be my Light

Ini adalah hari dan tanggal yang sama sejak setahun kepergian Rara. Tak banyak yang berubah dari diri Rangga. Kecuali semakin khusuk dalam beribadah, rasanya malu untuk kembali lagi seperti dulu, mengenang masa kejahiliahannya bersama Rara. Kalo boleh jujur bolehkah rangga memilih, tentu dia akan memilih hidup bersama dengan Rara. Melepaskan segenap keegoisan yang dulu selalu bersemayam dijiwa mudanya.

            Sambil mengahabiskan kacang kulit yang dibeli dari rumah Mbok Yem, Rangga dan Delta ashik bercerita masa lalu yang menurutnya terasa sangat indah. Meski dia juga mengakui selepas kepergian Rara Segalanya terasa sulit. Waktu terus berputar dan tak mungkin bagi Rangga kembali mengharapkan Rara. Akhwat itu terlalu sibuk untuk sosok Rangga. Dia benar-benar tipikal akhwat yang tidak punya waktu untuk memikirkan pendamping hidup, setidaknya setahun yang lalu.

            “ Lihat dunk fotonya Rara , ka.”  Kata Delta merengek.

            “ nanti kamu cemburu..!” goda Rangga.

            “ Nggak lah, pokoknya kalo nggak diberitahu malah makin cemburu dech”

            Akhirnya diberikannya satu foto ukuran kecil yang ditaruh di dalam buku harian oleh rangga, sambil menatap kearah Delta. Yang sempet manyun dibuatnya, kog bisa foto Rara masih tergolek manis disana? Ach suuzonkah bila  berburuk sangka Rangga masih mengaharapkan Rara? Bisik hati Delta tak mau kalah.

            “ hihi katanya tidak cembokur tapi kog matanya berkabut”

            “ huh, geer siapa juga yang cemburu.” Sambil dibawa lari foto Rara diceburin kedalam kolam ikan mas didepan rumah.

            “ Biar jadi ikan duyung dech, atau minimal biar dimakan ikan” sungut Delta sambil lalu.

 

            Seperti biasa setelah kepergian Rangga, Delta tidak memiliki kesibukan yang berarti, sebagai istri muda yang belum memiliki momongan tentu tak banyak yang harus dikerjakan apalagi Rangga tipikal suami yang serba membantu, sejak bangun subuh semua pekerjaan rumah dilakukan bersama alhasil ketika Rangga berangkat kerja Deltapun akan berangkat tidur.

            Ach tapi gak boleh tidur, kedua pipi sudah mulai tembem. Pasti akan tambah diledek sama ibu mertua kalo gitu, gak mau, gak boleh-gak boleh. Hems . sambil berfikir secepat kilat, mau apa yach pagi ini? masak ajach ach…tapi baru saja selesai sarapan bersama Rangga. Gak lucu kalo nanti malah kepengen makan lagi. Atau lebih baik ngobrak-abrik barangnya Rangga, mumpung dia lagi kerja. It’s great idea

            Akhirnya dibukanya satu persatu buku yang dianggapnya menyimpan kenangan masa lalunya Rangga. Bagaimanapun membacanya sendiri tentu lebih leluasa daripada harus mendengarkan ceritanya yang bikin berapi-api menahan cemburu. Akhirnya album demi album foto dibongkar, diteliti apa saja yang menarik menurut Delta. Ops beberapa foto Rara masih ada disana, yach terang saja mereka satu kampus yang selalu bersama dalam satu organisasi juga. Meski menahan rasa merengut akhirnya didiamkan saja foto-foto itu.

            Yang penting rangga sekarang suamiku dan kehidupan kita jauh dari sosok Rara. Titik bisik hati Delta memberi semangat. Tapi Rara lebih cantik, rara sangat manis, rara juga pintar tutur katanya lembut orangnya sopan.tambah makin down saja dech kalo ingat Rara.

            Lalu email Ranggapun masuk dalam sasaran penjelajahanya, layaknya sang detektif tak ingin kehilangan sedikitpun berita terkini.kiranya sahabatnya Rangga di Masaran mengetahui apa saja mengenai Rangga. Dibukanya juga email buat…..ops siapa lagi Ranti? Lalu Novianti? Mendadak kepala Delta memberat, huh begini memiliki seorang suami yang narsis dan disukai banyak akhwat.

            “ yang penting sekarang Rangga khan dah jadi suamimu tho, Nduk?”

            Dengan masih sedikit merengut tetap saja aduan pertama ibu mertua , dengan sedikit terisak . beruntung Delta memiliki seorang ibu merta yang sangat perhatian juga sangat mengerti keadaanya, atau karena Ibu tidak memiliki anak perempuan sehingga dia begitu bahagia dengan kedatangan Delta di rumah itu.

            Tiba-tiba mata Delta tertuju pada kertas surat yang akan diposkan Rangga , ops belum di lem atau sengaja mau disuruh mbaca dulu nich? Dengan semangat 45 akhirnya terbuka juga amplop suratnya sekligus tanpa ambil kaca mata masih terbaca dengan jelas

Hems sebuah pesan singkat buat sahabatnya diseberang sana

 

aku terlalu bodoh, sahabatku.
mengejar mentari yang terbenam
tak kusangka didepanku terbentang samudera luas
aku terpaku tak bergerak
tak kuasa menatap mentari dengan perlahannya
ditelan samudera biru

namun kepergiaannya membuatku tersadar
saat aku berbalik dengan sisa-sisa kehidupanku
disambut gelap malam, membuat persendianku keram
ketakutan hadir lewat kelamnya yang menusuk

dalam sinar temaram
disaat jendela dunia dalam jiwaku menyeruak
ada seberkas cahaya
cahaya itu membawa ketakjuban

 

 

Subhanallah ternyata ..dengan senyum wajah ceria dipeluknya ibu mertua tersayang yang masih kebingungan dengan perunahan tiba-tiba wajah Delta.

            “ Lho Ndok, bukannya kamu tadi nangis?”

            “ He he” akhirnya dengan senyum lebar akhirnya keluar juga ucapan “ buk kepasar belanja yuuk ^_^ ,kita masak buat makan malamnya Ka Rangga”

            “ Lho pasarnya khan bukannya kam 10, sekarang baru jam 8 Delta”

            “ Oo “ maluu dech..iya…dua jam lagi yach buk…;)