Archive for the ‘Aisyah’


Published March 23rd, 2008

Be my Light

Ini adalah hari dan tanggal yang sama sejak setahun kepergian Rara. Tak banyak yang berubah dari diri Rangga. Kecuali semakin khusuk dalam beribadah, rasanya malu untuk kembali lagi seperti dulu, mengenang masa kejahiliahannya bersama Rara. Kalo boleh jujur bolehkah rangga memilih, tentu dia akan memilih hidup bersama dengan Rara. Melepaskan segenap keegoisan yang dulu selalu bersemayam dijiwa mudanya.

            Sambil mengahabiskan kacang kulit yang dibeli dari rumah Mbok Yem, Rangga dan Delta ashik bercerita masa lalu yang menurutnya terasa sangat indah. Meski dia juga mengakui selepas kepergian Rara Segalanya terasa sulit. Waktu terus berputar dan tak mungkin bagi Rangga kembali mengharapkan Rara. Akhwat itu terlalu sibuk untuk sosok Rangga. Dia benar-benar tipikal akhwat yang tidak punya waktu untuk memikirkan pendamping hidup, setidaknya setahun yang lalu.

            “ Lihat dunk fotonya Rara , ka.”  Kata Delta merengek.

            “ nanti kamu cemburu..!” goda Rangga.

            “ Nggak lah, pokoknya kalo nggak diberitahu malah makin cemburu dech”

            Akhirnya diberikannya satu foto ukuran kecil yang ditaruh di dalam buku harian oleh rangga, sambil menatap kearah Delta. Yang sempet manyun dibuatnya, kog bisa foto Rara masih tergolek manis disana? Ach suuzonkah bila  berburuk sangka Rangga masih mengaharapkan Rara? Bisik hati Delta tak mau kalah.

            “ hihi katanya tidak cembokur tapi kog matanya berkabut”

            “ huh, geer siapa juga yang cemburu.” Sambil dibawa lari foto Rara diceburin kedalam kolam ikan mas didepan rumah.

            “ Biar jadi ikan duyung dech, atau minimal biar dimakan ikan” sungut Delta sambil lalu.

 

            Seperti biasa setelah kepergian Rangga, Delta tidak memiliki kesibukan yang berarti, sebagai istri muda yang belum memiliki momongan tentu tak banyak yang harus dikerjakan apalagi Rangga tipikal suami yang serba membantu, sejak bangun subuh semua pekerjaan rumah dilakukan bersama alhasil ketika Rangga berangkat kerja Deltapun akan berangkat tidur.

            Ach tapi gak boleh tidur, kedua pipi sudah mulai tembem. Pasti akan tambah diledek sama ibu mertua kalo gitu, gak mau, gak boleh-gak boleh. Hems . sambil berfikir secepat kilat, mau apa yach pagi ini? masak ajach ach…tapi baru saja selesai sarapan bersama Rangga. Gak lucu kalo nanti malah kepengen makan lagi. Atau lebih baik ngobrak-abrik barangnya Rangga, mumpung dia lagi kerja. It’s great idea

            Akhirnya dibukanya satu persatu buku yang dianggapnya menyimpan kenangan masa lalunya Rangga. Bagaimanapun membacanya sendiri tentu lebih leluasa daripada harus mendengarkan ceritanya yang bikin berapi-api menahan cemburu. Akhirnya album demi album foto dibongkar, diteliti apa saja yang menarik menurut Delta. Ops beberapa foto Rara masih ada disana, yach terang saja mereka satu kampus yang selalu bersama dalam satu organisasi juga. Meski menahan rasa merengut akhirnya didiamkan saja foto-foto itu.

            Yang penting rangga sekarang suamiku dan kehidupan kita jauh dari sosok Rara. Titik bisik hati Delta memberi semangat. Tapi Rara lebih cantik, rara sangat manis, rara juga pintar tutur katanya lembut orangnya sopan.tambah makin down saja dech kalo ingat Rara.

            Lalu email Ranggapun masuk dalam sasaran penjelajahanya, layaknya sang detektif tak ingin kehilangan sedikitpun berita terkini.kiranya sahabatnya Rangga di Masaran mengetahui apa saja mengenai Rangga. Dibukanya juga email buat…..ops siapa lagi Ranti? Lalu Novianti? Mendadak kepala Delta memberat, huh begini memiliki seorang suami yang narsis dan disukai banyak akhwat.

            “ yang penting sekarang Rangga khan dah jadi suamimu tho, Nduk?”

            Dengan masih sedikit merengut tetap saja aduan pertama ibu mertua , dengan sedikit terisak . beruntung Delta memiliki seorang ibu merta yang sangat perhatian juga sangat mengerti keadaanya, atau karena Ibu tidak memiliki anak perempuan sehingga dia begitu bahagia dengan kedatangan Delta di rumah itu.

            Tiba-tiba mata Delta tertuju pada kertas surat yang akan diposkan Rangga , ops belum di lem atau sengaja mau disuruh mbaca dulu nich? Dengan semangat 45 akhirnya terbuka juga amplop suratnya sekligus tanpa ambil kaca mata masih terbaca dengan jelas

Hems sebuah pesan singkat buat sahabatnya diseberang sana

 

aku terlalu bodoh, sahabatku.
mengejar mentari yang terbenam
tak kusangka didepanku terbentang samudera luas
aku terpaku tak bergerak
tak kuasa menatap mentari dengan perlahannya
ditelan samudera biru

namun kepergiaannya membuatku tersadar
saat aku berbalik dengan sisa-sisa kehidupanku
disambut gelap malam, membuat persendianku keram
ketakutan hadir lewat kelamnya yang menusuk

dalam sinar temaram
disaat jendela dunia dalam jiwaku menyeruak
ada seberkas cahaya
cahaya itu membawa ketakjuban

 

 

Subhanallah ternyata ..dengan senyum wajah ceria dipeluknya ibu mertua tersayang yang masih kebingungan dengan perunahan tiba-tiba wajah Delta.

            “ Lho Ndok, bukannya kamu tadi nangis?”

            “ He he” akhirnya dengan senyum lebar akhirnya keluar juga ucapan “ buk kepasar belanja yuuk ^_^ ,kita masak buat makan malamnya Ka Rangga”

            “ Lho pasarnya khan bukannya kam 10, sekarang baru jam 8 Delta”

            “ Oo “ maluu dech..iya…dua jam lagi yach buk…;)