Published May 24th, 2008
Ragu
Kulihat pantulan bayanganku di cermin. Seorang gadis dengan rambut panjang berbandana merah muda balas menatapku. Wajah dua puluh satu tahunnya yang muda dan segar sesaat mengukir kerut di kening. Sapuan tipis – tipis bedak dan olesan tak-kentara lipstik merah hati tak mampu menutupi pucat wajahnya. Aku mencoba untuk tersenyum, meredam gelombang kekhawatiran yang dari semalam sudah kurasakan. Cermin tidak bisa berbohong. Senyum yang kembali terpantul darinya menyisakan bias kegelisahan yang masih kurasa pagi ini. (more…)

