Archive for the ‘Anggie’


Published May 24th, 2008

Ragu

Kulihat pantulan bayanganku di cermin. Seorang gadis dengan rambut panjang berbandana merah muda balas menatapku. Wajah dua puluh satu tahunnya yang muda dan segar sesaat mengukir kerut di kening. Sapuan tipis – tipis bedak dan olesan tak-kentara lipstik merah hati tak mampu menutupi pucat wajahnya. Aku mencoba untuk tersenyum, meredam gelombang kekhawatiran yang dari semalam sudah kurasakan. Cermin tidak bisa berbohong. Senyum yang kembali terpantul darinya menyisakan bias kegelisahan yang masih kurasa pagi ini. (more…)

Published April 8th, 2008

Laju Kapal Kecilku

 

Hujan gerimis. Namun tak seperti biasanya, matahari masih bersinar mengalahkan mendung yang samar bergelayut di antara awan. Di balik jendela ruang tamu, kulihat teman-teman sekampungku bermain hujan dengan riang. Tawa mereka sesekali terdengar di antara derap kaki mereka saat saling berkejaran di lapangan persis depan rumahku. Hmm… ingin rasanya aku seperti mereka; menikmati dinginnya hujan sebelum akhirnya mendapatkan secangkir teh hangat di rumah. Ibu selalu melarangku bermain di saat hujan. Kondisi tubuhku yang mudah sakit semakin memperkuat larangan ibu. Seberapa pun seringnya aku merajuk, ibu selalu teguh dengan keputusannya. Hari-hari di bulan Agustus selalu menyiksaku. Aku jarang bermain karena hujan nyaris datang setiap hari. Di saat seperti itu, biasanya aku hanya diam di rumah sambil memandang ke luar. Tiba-tiba kulihat teman-teman yang tadinya berkejaran di bawah hujan berjongkok, seperti mengelilingi sesuatu. Lamunanku tadi membuatku tidak sadar dengan apa yang terjadi di sekelilingku, bahkan aku tak sadar gerimis telah berhenti. (more…)

Published April 8th, 2008

Saat Untuk Mengerti

 

Yadi melambaikan tangannya kepadaku sesaat sebelum dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Aku membalas lambaian tangannya kemudian mulai menutup pintu pagar rumahku. Suara raungan motornya yang memekakkan telinga belum juga hilang ketika tiba-tiba Mbak Andien sudah berdiri di sampingku dengan pandangan menuduh. (more…)

Published April 8th, 2008

SEMINGGU TANPA PUTRI

Dea mengayuh sepedanya perlahan. Sesekali angin mempermainkan poninya sehingga ia mesti menyibaknya agar tidak menghalangi pandangan matanya. Udara pagi ini sangat cerah, tapi wajah Dea terlihat kuyu; tidak seperti hari-hari sebelumnya. Masih terngiang di telinganya ucapan Tante Rina tadi pagi, “Putri nggak bisa berangkat hari ini De…Kemarin sepulang sekolah tiba-tiba badannya panas sekali. Malemnya langsung Tante bawa ke rumah sakit, ternyata dia kena Demam Berdarah…Sekarang dia dirawat di….” Dea mencatat nama rumah sakit dan ruangan tempat Putri dirawat. Dea menutup gagang telepon dengan setengah terisak. (more…)

Published April 8th, 2008

Mimpi-mimpi Vina

 

Malam sudah larut ketika aku masih mendengar suara orang sedang mengetik. Sekilas kulihat kamar adikku; masih menyala. Akhir-akhir ini Vina memang sering sekali mengetik sampai larut malam. Pernah suatu kali aku masuk ke kamarnya dan melihat apa yang sedang dia ketik. Begitu mengetahui kedatanganku, Vina langsung menutupi layar komputer dengan kedua tangannya. Dia langsung merajuk menyuruhku keluar dengan muka tersipu. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Kalau tugas sekolah, tidak mungkin dia sebegitu tidak inginnya tulisan itu dibaca olehku. Mungkin dia sedang menulis diary seperti yang juga sering kulakukan. Ya, mungkin saja. Hhmm.. aku jadi penasaran. Sebenarnya aku bisa saja diam-diam membuka file komputer Vina untuk melihat apa yang sedang dia tulis. Tapi aku tidak ingin melakukan itu. Aku tahu benar sifat adikku itu. Nanti dia juga pasti akan cerita sendiri padaku. (more…)