Published March 19th, 2008
Selamat Tinggal, Priti!
“Hhh…”
Hari ini desahannya cukup panjang. Walaupun Sharon sudah mulai terbiasa dengan desahan yang selalu mengawali tiap rutinitasnya, mau tak mau ia harus mengakui bahwa desahannya kali ini adalah yang paling berat. Apalagi kalo bukan itu alasannya. Hari pertama kali sekolah setelah dua minggu yang panjang mendekam di rumah karena liburan.
Aku harus siap. Anggap saja mereka seperti sebuah kerikil di sudut pandanganmu yang tak terjangkau mata. Ya, kerikil yang tak pernah minta diperhatikan, juga tak pernah memperhatikan. Aku harus bisa menjalani hari ini.Pasti.
“Tenang, aku pasti di sampingmu..” Sharon tersentak melihat sebuah sosok anak perempuan berbaju hijau kini tengah berdiri di depannya dengan senyum manis.
“Kamu… aduh, aku sampai kaget.” Kata Sharon melayangkan tinju candanya yang kemudian tembus melewati bahu anak itu.
“Kamu kan tahu, aku pasti selalu menjagamu, jangan biarkan anak-anak lain memperolokmu. Yakinlah pada dirimu sendiri. Ingat, hanya aku yang mengerti kamu.”
Hanya aku yang mengrti kamu. Kata-kata itu begitu menyanjung Sharon, yang sepersekian detik kemudian meraih kacamata botol susu sapinya dengan mantap dan berdiri lebih tegak.
“Iya, aku harus yakin, Priti…” begitu gadis bergaun hijau itu dipanggil. “Kamu janji kan nggak bakal tinggalin aku?”
“Priti mengangguk penuh keyakinan. “Aku tercipta untukmu Sharon…” (more…)

