Published March 10th, 2008
SUATU MALAM BERSAMA IBUKU
Segera aku merebahkan tubuhkku di dipan bambu bertikar, dan melingkarkan tubuhku dalam sarung bekas kakakku, membelakangi ibuku. Ibuku mengulurkan tangannya menjangkau diriku untuk mendekapku dalam pelukannya, tetapi aku segera meraih tangannya kembali lalu melepaskan dariku. “kenapa ?” tanya ibuku datar seperti malam-malam lalu, hari-hari lalu yang sudah-sudah. “Tidak !” jawabku tanpa harus menoleh ke arahnya, Sinar temaram lampu sentir turut pula menyembunyikan wajah galau yang kini aku rasakan, rasa galau yang aku rasakan terhadap ibuku nanti, kelak ketika kehidupan ini berakhir. Ibuku yang sudah melahirkanku, memeliharaku dan membesarkanku dan setiap malam memelukku untuk mengantarkanku menjelang pagi. Ibu yang tiap malam selalu membukakan pintu, sesudah aku menghibur diri dengan menonton tivi beramai-ramai dengan anak-anak kampungku di kampung seberang kali sampai film habis hingga larut malam. Nanti di hari terakhir kehidupannya nanti, akan masuk neraka. (more…)

