Archive for the ‘Siswa Angkatan II’


Published March 23rd, 2008

Be my Light

Ini adalah hari dan tanggal yang sama sejak setahun kepergian Rara. Tak banyak yang berubah dari diri Rangga. Kecuali semakin khusuk dalam beribadah, rasanya malu untuk kembali lagi seperti dulu, mengenang masa kejahiliahannya bersama Rara. Kalo boleh jujur bolehkah rangga memilih, tentu dia akan memilih hidup bersama dengan Rara. Melepaskan segenap keegoisan yang dulu selalu bersemayam dijiwa mudanya.

            Sambil mengahabiskan kacang kulit yang dibeli dari rumah Mbok Yem, Rangga dan Delta ashik bercerita masa lalu yang menurutnya terasa sangat indah. Meski dia juga mengakui selepas kepergian Rara Segalanya terasa sulit. Waktu terus berputar dan tak mungkin bagi Rangga kembali mengharapkan Rara. Akhwat itu terlalu sibuk untuk sosok Rangga. Dia benar-benar tipikal akhwat yang tidak punya waktu untuk memikirkan pendamping hidup, setidaknya setahun yang lalu.

            “ Lihat dunk fotonya Rara , ka.”  Kata Delta merengek.

            “ nanti kamu cemburu..!” goda Rangga.

            “ Nggak lah, pokoknya kalo nggak diberitahu malah makin cemburu dech”

            Akhirnya diberikannya satu foto ukuran kecil yang ditaruh di dalam buku harian oleh rangga, sambil menatap kearah Delta. Yang sempet manyun dibuatnya, kog bisa foto Rara masih tergolek manis disana? Ach suuzonkah bila  berburuk sangka Rangga masih mengaharapkan Rara? Bisik hati Delta tak mau kalah.

            “ hihi katanya tidak cembokur tapi kog matanya berkabut”

            “ huh, geer siapa juga yang cemburu.” Sambil dibawa lari foto Rara diceburin kedalam kolam ikan mas didepan rumah.

            “ Biar jadi ikan duyung dech, atau minimal biar dimakan ikan” sungut Delta sambil lalu.

 

            Seperti biasa setelah kepergian Rangga, Delta tidak memiliki kesibukan yang berarti, sebagai istri muda yang belum memiliki momongan tentu tak banyak yang harus dikerjakan apalagi Rangga tipikal suami yang serba membantu, sejak bangun subuh semua pekerjaan rumah dilakukan bersama alhasil ketika Rangga berangkat kerja Deltapun akan berangkat tidur.

            Ach tapi gak boleh tidur, kedua pipi sudah mulai tembem. Pasti akan tambah diledek sama ibu mertua kalo gitu, gak mau, gak boleh-gak boleh. Hems . sambil berfikir secepat kilat, mau apa yach pagi ini? masak ajach ach…tapi baru saja selesai sarapan bersama Rangga. Gak lucu kalo nanti malah kepengen makan lagi. Atau lebih baik ngobrak-abrik barangnya Rangga, mumpung dia lagi kerja. It’s great idea

            Akhirnya dibukanya satu persatu buku yang dianggapnya menyimpan kenangan masa lalunya Rangga. Bagaimanapun membacanya sendiri tentu lebih leluasa daripada harus mendengarkan ceritanya yang bikin berapi-api menahan cemburu. Akhirnya album demi album foto dibongkar, diteliti apa saja yang menarik menurut Delta. Ops beberapa foto Rara masih ada disana, yach terang saja mereka satu kampus yang selalu bersama dalam satu organisasi juga. Meski menahan rasa merengut akhirnya didiamkan saja foto-foto itu.

            Yang penting rangga sekarang suamiku dan kehidupan kita jauh dari sosok Rara. Titik bisik hati Delta memberi semangat. Tapi Rara lebih cantik, rara sangat manis, rara juga pintar tutur katanya lembut orangnya sopan.tambah makin down saja dech kalo ingat Rara.

            Lalu email Ranggapun masuk dalam sasaran penjelajahanya, layaknya sang detektif tak ingin kehilangan sedikitpun berita terkini.kiranya sahabatnya Rangga di Masaran mengetahui apa saja mengenai Rangga. Dibukanya juga email buat…..ops siapa lagi Ranti? Lalu Novianti? Mendadak kepala Delta memberat, huh begini memiliki seorang suami yang narsis dan disukai banyak akhwat.

            “ yang penting sekarang Rangga khan dah jadi suamimu tho, Nduk?”

            Dengan masih sedikit merengut tetap saja aduan pertama ibu mertua , dengan sedikit terisak . beruntung Delta memiliki seorang ibu merta yang sangat perhatian juga sangat mengerti keadaanya, atau karena Ibu tidak memiliki anak perempuan sehingga dia begitu bahagia dengan kedatangan Delta di rumah itu.

            Tiba-tiba mata Delta tertuju pada kertas surat yang akan diposkan Rangga , ops belum di lem atau sengaja mau disuruh mbaca dulu nich? Dengan semangat 45 akhirnya terbuka juga amplop suratnya sekligus tanpa ambil kaca mata masih terbaca dengan jelas

Hems sebuah pesan singkat buat sahabatnya diseberang sana

 

aku terlalu bodoh, sahabatku.
mengejar mentari yang terbenam
tak kusangka didepanku terbentang samudera luas
aku terpaku tak bergerak
tak kuasa menatap mentari dengan perlahannya
ditelan samudera biru

namun kepergiaannya membuatku tersadar
saat aku berbalik dengan sisa-sisa kehidupanku
disambut gelap malam, membuat persendianku keram
ketakutan hadir lewat kelamnya yang menusuk

dalam sinar temaram
disaat jendela dunia dalam jiwaku menyeruak
ada seberkas cahaya
cahaya itu membawa ketakjuban

 

 

Subhanallah ternyata ..dengan senyum wajah ceria dipeluknya ibu mertua tersayang yang masih kebingungan dengan perunahan tiba-tiba wajah Delta.

            “ Lho Ndok, bukannya kamu tadi nangis?”

            “ He he” akhirnya dengan senyum lebar akhirnya keluar juga ucapan “ buk kepasar belanja yuuk ^_^ ,kita masak buat makan malamnya Ka Rangga”

            “ Lho pasarnya khan bukannya kam 10, sekarang baru jam 8 Delta”

            “ Oo “ maluu dech..iya…dua jam lagi yach buk…;)

Published March 21st, 2008

resensi- Rule of Law Feeding Frenzy2

feedingfrenzy2.jpgFeeding Frenzy® 2: Shipwreck Showdown
© Copyright 2006 PopCap Games, Inc.
Presented by GameHouse, Inc.

Permainan yang dipublikasikan oleh Game House ini sangat digemari oleh anak-anak. Jika anak-anak melihat permainan ini mereka pasti mudah mengenalinya. Siapapun dapat memainkannya tanpa batasan umur. Peraturannya sederhana yakni ikan yang lebih besar memakan ikan yang lebih kecil. Jangan sampai ikan yang kita jalankan termakan oleh ikan yang lebih besar. Setelah ikan yang kita jalankan makan beberapa ikan kecil maka status ikan akan naik berkembang menjadi lebih besar. Bertambahnya ukuran tubuh ikan yang kita jalankan dapat memakan ikan lain yang ukurannya lebih besar dari ikan yang kita makan sebelumnya.

Permainan predator habitat sungai ini mengingatkan kita pada kehidupan manusia. Seolah begitulah gambaran manusia saat ini. Siapa yang lebih besar maka dia dapat memakan hak hidup manusia yang lebih kecil. Siapa yang memiliki kekuasaan maka dia beroleh hak atas kaum yang lebih kecil termasuk hak hidupnya. Mereka yang kaya dapat menjadi lebih kaya. Mereka yang miskin  akan terus tertindas dalam kemiskinannya. Tetapi hal ini tidak dapat kita telan mentah-mentah. Perlu kita telisik lebih lanjut. Apakah orang-orang kaya tersebut menjadi lebih kaya karena usahanya ataukah karena merampas hak-hak orang miskin. Apakah mereka orang-orang miskin tetap menjadi misikin karena hak mereka dirampas orang-orang kaya ataukah karena kemalasan mereka?

Semoga permainan ini sekadar permainan. Semoga aturan dalam permainan tidak berlaku dalam kehidupan manusia. Jika memang kenyataan membenarkan bahwa permainan ini ada dalam kehidupan manusia, kiranya PopCap Games akan memunculkan tokoh ikan remora. Biar kecil asal bersama-sama berjuang maka ikan besar pun akan habis dibabatnya.

Published March 20th, 2008

cerpen- Patung itu…

Patung Ganesha dari batu berumur 5000 tahun dari masa kerajaan Majapahit yang laku 28 Juta rupiah itu kini dikabarkan telah raib dari pemiliknya. Muncul seribu pertanyaan dan jawaban akan berita tersebut. Polisi dikerahkan untuk mencari benda paling berharga yang memecahkan rekor dunia peninggalan kuno termahal itu. Namun tiada yang menyangka bila benda tersebut kini berada di hadapanku. Sebuah patung mungil dengan tinggi 15 sentimeter dengan bentuk kepala gajah dan badan manusia. Orang-orang menyebutnya patung ganesha. Salah satu dewa ilmu pengetahuan dalam kepercayaan umat Hindhu. Patung itu dipahat dengan ketelitian luar biasa karena tiada cacat sedikitpun di tiap lekukannya. Lama kupandang patung tersebut sekedar mencari bagian yang membuat harga patung ini mahal. Aku tak tahu kapan dan berapa lama patung ini berada dalam kamarku. Aku hanya tahu bahwa sekarang patung yang dibeli Mr. John Smith dengan harga 28 juta rupiah yang dikabarkan hilang itu kini ada di hadapanku. Apakah aku yang telah mengambil patung itu dari tangan Mr.John Smith? Oh…mengapa aku tidak menyadari bahwa aku ternyata seorang pencuri, tapi…kapan aku melakukannya?. Tidak seharusnya patung ini berada di rumahku atau di rumah orang-orang kaya manapun. Patung sebagai peninggalan sejarah ini layaknya berada di museum. Jika patung ini menjadi koleksi orang-orang tertentu saja, anak-anak pasti tidak akan pernah mengenal keberadaan sejarah mereka. Segera aku berlari keluar untuk menyerahkan patung ini kepada polisi. Apapun yang terjadi aku harus berani menyerahkannya.

bingung….belum ada lanjutannya

Published March 20th, 2008

AIR MATA AMANDA

Belakangan ini Amanda lebih banyak berkurung diri dalam kamar belajarnya, sepertinya dia sudah lupa akan kebiasaan hari-hari yang selalu dilaluinya dengan riang.  Teman-teman sepermainan Amanda banyak yang  kecewa tidak menemukan sosok ceria ini bersama dalam keseharian mereka.  Ayah dan ibu Amanda sangat mengkhawatirkan keberadaannya, betapa dirinya telah mengurung diri selama hampir seminggu tanpa putus.  Tanaman bunga kesayangan Amanda sudah nampak mengering tanahnya.  Kebiasaan Amanda tiap sore hari selalu tidak lupa menyapa bunga-bunga tersebut dan menyiraminya dengan air cinta.  Meja makan juga kehilangan keriangan dan kehangatan cintanya.  Amanda tidak peduli betapa dirinya juga tidak mematut diri  atau sekedar menyapukan ulasan bedak pada pipinya yang ranum.  Duh Amanda, apa yang terjadi denganmu. 

Dari semua yang sangat berharap pintu kamar belajar Amanda terbuka adalah Mirna, sang adik tercinta.  Setiap saat matanya selalu tak lepas dari daun pintu yang rapat tertutup.  Beberapa kali tangannya tak tahan untuk mengetuk pintu kamar tersebut.  Mirna yang baru duduk di bangku taman kanak-kanak merupakan adik bungsu kesayangan Amanda.  Setiap kali Mirna memprotes kepada ibunya terhadap kenapa kak Amanda tidak boleh diganggu.  Semua penjelasan yang diberikan Ibunda tak pernah menjawab keingintahuan gadis jelita ini. 

Di dalam kamar belajar, Amanda nampak serius di depan sketsa gambar proyek penelitiannya yang akan diujikan pada hari sabtu pagi besok hari.  Amanda hanya seorang diri ditemani beberapa kemasan soft drink kosong di meja belajar.  Gambar dengan goresan-goresan sangat kuat menunjukkan karakter Amanda seorang gadis yang kuat kepribadiannya dan sangat pantang untuk menyerah, hasil didikan ayahanda tercinta penyandang bintang di bahunya. Beberapa kali Amanda melangkah mundur beberapa langkah dan melihat hasil kerja lembur selama hampir seminggu penuh.  Kepalanya mengangguk-angguk tanda kepuasan atas maha karya di akhir tugasnya sebagai mahasiswa arsitektur taman.  Tetapi beberapa kali juga Amanda menggeleng tak puas atas beberapa sudut sketsa.  Sebenarnya gambar Amanda selalu terbaik di kelasnya.  Jadi jika saja Amanda mau berhenti atas karya pertamanya, yang sudah bisa dipastikan hanya memerlukan waktu penyelesaian beberapa jam tanpa revisi, sudah cukup dan itu sama dengan pekerjaan teman-temannya selama seminggu.  Tetapi karena sikap perfect  Amanda membuat dia mengulang dan mengulang lagi mencari ide yang paling cemerlang untuk sebuah taman masa depan.  Beberapa teman Amanda mempunyai kebiasaan yang selalu menginvestigasi pembantu Amanda menanyakan sampah hasil pekerjaan Amanda untuk diamankan untuk pemulung, mereka mengistilahkan diri mereka sendiri.  Mereka akan menerapkan ATM, Amati Tiru Modifikasi, atau bahkan ATP, Amati Tiru Persis.  Karena bagi sang pemulung teman Amanda bisa menghemat waktu.  Sejauh ini Amanda tidak pernah mempermasalahkan dan meskipun mengetahui tetapi tetap berpura-pura tidak pernah tahu.  Sikap perfect Amanda ternyata membawa korban, dirinya sendiri yang terisolasi dan orang-orang tercinta yang merasa kehilangan. 

Pagi yang cerah di hari Sabtu, secerah suasana hati Amanda yang sudah siap untuk menghadapi gempuran dosen-dosen penguji.  Beberapa kali Amanda hilir mudik di depan sketsa sebelum seulas senyum mengembang tertinggal di kamar yang mirip kantor kelurahan.  Amanda secara mantap segera beranjak menekan gagang pintu dan membuka daun pintu keluar dari sarang pertapaannya.  Pada saat pintu terbuka, segera dijumpai deretan keluarganya dengan senyum mengembang dan dengan sigap Mirna lari ke pelukan Amanda dan minta digendong.  Bagi Mirna menjadi sebuah berkah yang tiada terhingga harganya.  Sesaat kemudian Amanda membujuk Mirna untuk mau lepas dari gendongannya dengan sebuah janji pesta kecil malam minggu bersama kak Dian, kekasih Amanda.  Amanda melakukan kompromi tersebut mengingat sudah sangat mendesak waktunya untuk segera bersiap diri pergi ke kampus. 

Tidak dalam hitungan lebih dari satu jam, Amanda sudah berada di meja makan dengan dandanan mendekati resmi seperti orang kantoran, begitulah namanya juga mau ujian yang dilakukan seumur hidup hanya sekali.  Meja makan sudah mulai agak meriah dengan hadirnya Amanda pada pagi itu.  Mirna, si burung cucak rowo, sudah mengoceh lagi.  Keluarga Amanda menikmati kebersamaan yang membahagiakan pada pagi itu, sekaligus mereka berdo’a bersama sebelum dan sesudah makan untuk keberhasilan Amanda pada saat ujian.  Amanda terharu atas dukungan orang-orang terkasihnya, begitu juga dukungan dari Dian lewat sebaris SMS telah diterimanya pada pagi buta.  Wahai Amanda begitu sempurnanya dunia ini bagimu, begitulah gumam Amanda dalam hati.  Dalam relung hati Amanda memancar cahaya do’a tulus sehingga menyusup desiran-desiran hangat ke seluruh tubuhnya, Terimakasih ya Robbi atas anugerah yang telah Engkau limpahkan kepada keluarga kami dan terutama kepadaku, semoga aku terus bisa mensyukurinya.  Ritual di meja makan sudah usai, dan Amanda bergerak menuju ruang belajarnya untuk bersiap-siap dan membereskan hasil karyanya. 

Desiran angin pagi berhembus dari rongga jendela kamarnya yang terbuka.  Sontak Amanda merasakan sebuah firasat bahwa sesuatu telah terjadi dan sesuatu itu gukan hal yang.  Meski Amanda orang yang sangat rasionalis dan selalu tidak percaya pada firasat, tetapi firasat kali ini muncul justru karena pikirannya yang rasional telah terasah.  Harusnya daun jendela kamarnya tidak terbuka, karena dia merasa belum membukanya.  Tidak satupun orang di rumah yang berani mengganggu komitmen Amanda ketika dia sedang sangat serius.  Jadi seseorang telah masuk ke dalam kamarnya.  Jangan-jangan sudah terjadi sesuatu terhadap hasil karyanya.  Deg, Amanda mulai was-was.  Amanda seharusnya melakukan cek dan recek untuk memastikan semuanya sudah aman dan terkendali.  Sebelum Amanda berada dalam kamar belajarnya, berbagai kecurigaan menyergap di benaknya, jangan-jangan ada sabotase.  Amanda segera menepis pikiran tersebut, karena dia merasa terbawa oleh kebiasaanya melihat film Conan bersama Ayahandanya yang selalu ingin mengasah tajam intuisi militernya.  Tapi Amanda semakin terkesiap ketika menyaksikan alat gambar berceceran di dekat pintu masuk.  Dan kemudian matanya terbelalak demi dilihatnya beberapa coretan atau tepatnya guratan tak beraturan menimpa pada gambarnya.  Seketika itu Amanda merasa kehilangan keseimbangan dan secara perlahan terduduk di sudut ruang dekat jendela.  Tubuhnya kehilangan tulang-tulang penyangga. Semangat hidupnya tiba-tiba lenyap.  Matanya mulai berkaca-kaca.  Airmata itu mulai mengembang dan jatuh dari pelupuk mata.  Ketabahan Amanda sedang diuji.  Hasil karyanya selama satu minggu menjadi tidak berarti dalam hitungan menit.  Amanda merasa melayang tak menentu.  Baginya musibah ini seperti jatuhnya Bom Atom di Hirosima atau Nagasaki yang meluluhlantakkan seisi kota dalam sekejap.  Amanda telah luluh lantak.  Amanda telah kalah dalam berperang.  Amanda tidak tahu harus menyalahkan siapa, karena menyalahkan seseorang tidak akan juga menyelesaikan masalah dan yang jelas tidak akan menghapus garis kenakalan dalam gambarnya.  Amanda tidak tahu harus meratapi apa, karena sebuah ratapan akan tambah menyiksa batinnya dan tidak merubah menjadi lebih baik.   

Namun sekonyong-konyong Mirna datang berlarian dengan alat gambar milik Amanda di tangan mungilnya.  Mirna yang riang menyapa Amanda dan menunjukkan kebolehannya menggambar pada gambar Amanda.  Aduh Mirna, apa yang kamu telah lakukan.  Sebenarnya tangan Amanda sudah mau mencubit habis Mirna atas kenakalannya, tapi diurungkannya dan dialihkan menghapus air matanya.  Mirna yang lucu dan kelucuannya pada pagi itu bagaikan Bom Atom bagi Amanda.  Dengan perlahan semangat Amanda yang mulai menguap dikembalikan lagi dalam jiwanya.  Tidak ada jalan lain untuk mundur.  Tidak cukup waktu untuk membuat gambar baru.  Amanda telah memantapkan diri berangkat ujian dengan karya yang ternoda.  Amanda segera bangkit dan diciumnya Mirna.  Perang sudah dimulai, prajurit harus maju memanggul senjata.  Tidak peduli itu hanya bambu runcing.  Sudah ditekadkan bahwa keluarganya tidak boleh ada yang tahu. 

Jakarta, 5 Maret 2008 Teriring salam buat seseorang yang telah menginspirasi tulisan ini dan buat smua smoga bisa menjadi bahan pelajaran akan sebuah tekad untuk tetap maju dan bahwa  tak ada musibah yang membawa bencana ketika kita bisa memaknainya.  Salam hangat dan sukses selalu.

Published March 19th, 2008

SuperIko

“Apa sih salah gua ampe Iko tuh nggak capek-capek ngebuntutin gua terus?”

“Emang salah Iko juga kalau ternyata dia Cuma punya tinggi 160 cm, kulit sawo matang dab rambut keriting kumel.,” jawab Fabi kesal. Aku terdiam mendapati diriku sudah sangat kejam menilai orang lain

‘Tapi, Fab bukan itu masalahnya gua nggak suka sama Iko tapi gayanya itu lo.,”

“Gayanya?” Tanya Fabi bingung

“Iya, gayanya yang kayak Supermen itu. Lo nggak tahu dia sering nyebut dirinya Si Superiko?”

“Superiko?”Fabi bengong (more…)

Published March 19th, 2008

Selamat Tinggal, Priti!

“Hhh…”

Hari ini desahannya cukup panjang. Walaupun Sharon sudah mulai terbiasa dengan desahan yang selalu mengawali tiap rutinitasnya, mau tak mau ia harus mengakui bahwa desahannya kali ini adalah yang paling berat. Apalagi kalo bukan itu alasannya. Hari pertama kali sekolah setelah dua minggu yang panjang mendekam di rumah karena liburan.

Aku harus siap. Anggap saja mereka seperti sebuah kerikil di sudut pandanganmu yang tak terjangkau mata. Ya, kerikil yang tak pernah minta diperhatikan, juga tak pernah memperhatikan. Aku harus bisa menjalani hari ini.Pasti.

“Tenang, aku pasti di sampingmu..” Sharon tersentak melihat sebuah sosok anak perempuan berbaju hijau kini tengah berdiri di depannya dengan senyum manis.

“Kamu… aduh, aku sampai kaget.” Kata Sharon melayangkan tinju candanya yang kemudian tembus melewati bahu anak itu.

“Kamu kan tahu, aku pasti selalu menjagamu, jangan biarkan anak-anak lain memperolokmu. Yakinlah pada dirimu sendiri. Ingat, hanya aku yang mengerti kamu.”

Hanya aku yang mengrti kamu. Kata-kata itu begitu menyanjung Sharon, yang sepersekian detik kemudian meraih kacamata botol susu sapinya dengan mantap dan berdiri lebih tegak.

“Iya, aku harus yakin, Priti…” begitu gadis bergaun hijau itu dipanggil. “Kamu janji kan nggak bakal tinggalin aku?”

“Priti mengangguk penuh keyakinan. “Aku tercipta untukmu Sharon…” (more…)

Published March 19th, 2008

Galileo

galileoyl11.jpg

Fukuyama Masaharu (39) berperan sebagai dosen jenius salah satu Universitas Terkemuka di jepang, Yukawa Manabu. Yukawa Manabu terkenal sebagai dosen yang banyak digemari oleh mahasiswa wanita, karena selain wajah dan postur tubuh yang ciamik, kepiawaiannya dalam mengajar membuatnya populer di kalangan siapa saja. Kesehariannya diisi dengan berbagai percobaan fisika yang menarik dan begitu mengagumkan. Namun dibalik segala kesempurnaan itu, Yukawa-sensei begitu tidak peduli akan sekeliling, kecuali hal tersebut benar-benar menarik perhatiannya.

Hari-harinya masih berlangsung damai, sampai suatu hari ia bertemu dengan seorang polisi wanita, Utsumi Kaoru, yang diperankan oleh Shibasaki Kou(27). Utsumi adalah seorang polisi berdarah panas yang selalu ingin menegakkan keadilan dan memecahkan kasus dengan penuh semangat namun cenderung ngotot. Suatu hari ia bertemu dengan kasus yang begitu memusingkan, yaitu kasus ketika seorang pemuda yang tergabung dalam kelompok pembuat onar tiba-tiba menemui ajalnya dengan cara kepala terbakar sendiri. Salah satu senior menyarankan untuk menghubungi Yukawa Manabu untuk mengusut kasus ini secara detail, mengingat jasa beliau yang sudah beberapa kali membantu pihak kepolisian.

Satu hal yang menarik dari drama jepang ini adalah kasus-kasus yang selalu terkait dengan ilmu fisika. Setiap kasus selalu dipecahkan secara brilian oleh Yukawa-sensei tanpa memberi kesan membosankan, karena mengingat hampir seluruh episode dikaitkan oleh ilmu alam ini. Salah satu contoh yang sangat menarik adalah ketika sebuah kasus ketika seorang anak mengaku bahwa ruh-nya keluar dari tubuh dan mempu melihat sebuah mobil yang letak-nya terhalang oleh gedung yang notabene menjulang tinggi. Jiwa ilmiah Yukawa-sensei memberontak dan bersikeras memecahkan kasus ini karena sangat tidak mungkin sebuah ruh melayang sendiri dan melihat hal-hal yang tidak mungkin. Contoh lain adalah ketika kasus kepala terbakar sendiri dijelaskan secara detail dan ilmiah, lengkap dengan percobaan yang menguatkan bukti sang pelaku. Penjelasan yang akurat dan percobaan-percobaan yang menarik menjadi salah satu poin positif yang membuat drama ini layak ditonton. Tanpa menimbulkan kesan yang terlalu serius, drama yang melibatkan tiga sutradara handal dan berhasil meraih enam penghargaan sekaligus ini membubuhkan beberapa adegan lucu agar penonton tidak merasa bosan.

Secara keseluruhan drama ini sangat layak ditonton karena di setiap episode menampilkan pesan moral kehidupan yang menggugah hati dan membuat kita ingin terus menonton kelanjutannya.

Published March 18th, 2008

artikel- Mengurai Masalah Feminim-isme Bagi Gender

Abad XVIII adalah abad yang sangat kaya akan aliran-aliran faham yang simpangsiur memenuhi alam fikiran manusia. Faham-faham ini merupakan akibat dari renaissance dan humanisme di Eropa kala itu. Manusia memiliki kesempatan untuk mengumbar apa saja yang ada dalam pemikirannya setelah berabad-abad lamanya terkekang di abad kegelapan. Berbagai penciptaan dan penemuan mulai mendapatkan tempat pengakuan yang lebih dalam struktur kemasyarakatan. Pada tahun 1763 James Watt memulakannya dengan menciptakan mesin uap. Mesin ini merupakan cikal bakal terjadinya revolusi industri di Inggris. Perubahan cara pembuatan barang-barang yang dulu dikerjakan dengan tangan manusia berubah digantikan oleh mesin. Industri besar-besaran timbul. Muncul para pemilik modal dan kaum proletar yang didominasi rakyat jelata. Pemilik modal ini berbasis materi yang dimiliki sedangkan proletar tidak. Kaum Borjuis muncul menguasai kaum buruh. Kapitalisme tumbuh pesat mengalahkan segalanya. Uang bak dewa yang banyak dipuja ketika segala sesuatunya diukur dari materi. Kapitalisme inilah yang beruntut pada kesenjangan sosial antara golongan kaya dengan golongan msikin. Penindasan dan kesewenang-wenangan kaum kapitalis mendorong munculnya kaum sosialis. Rakyat jelata dilupakan terlebih kaum buruh yang bekerja di pabrik. (more…)

Published March 17th, 2008

cerpen- Kupinang Kau Yang Kaya

 

Tasban Koncer tersenyum di kios tempat dia biasa memperbaiki sol sepatu orang-orang. Bagi lelaki dengan usia 40 tahun mungkin saat ini masih sibuk menimang-nimang anak keduanya. Tetapi bagi Tasban Koncer tidak. Belum pernah seorang pun wanita yang mampir hadir dalam hatinya mengajak membina rumahtangga. Predikat bujang lapuk kini mendekati deadline dalam kehidupannya. Ketika seorang teman menawarkan kepadanya wanita yang bisa dikawininya setelah sekian tahun pergi dari tanahnya di Pekanbaru Riau. Hidup mengelana baginya sudah biasa. Terakhir bekerja di Weleri sebagai buruh bangunan memaksanya bertahan hidup di perantauan. Begitu kontraknya habis, kembali Tasban Koncer menjalani hari-harinya sebagai pengembara yang tak tahu harus tidur dimana. Masuk dari satu masjid ke masjid lain. Itu saja karena takmir mengusir agar tidak tidur di dalam masjid. Hingga suatu ketika Tasban Koncer bertemu dengan Iskandar seorang tukang pijat di Semarang. Melalui Iskandarlah Tasban Koncer akhirnya mendaratkan pengembaraannya di kios pijat Iskandar sebagai tukang sol sepatu. Liku kehidupannya itulah yang membuat Tasban Koncer berambisi memiliki sebuah rumah sendiri. Namun semua itu baginya hanyalah mimpi. Bekerja sebagai tukang sol sepatu dengan penghasilan ala kadarnya memupuskan harapannya.

Tasban Koncer tampak gembira menyadari kesengsaraan hidupnya segera berakhir. Seorang teman menawarkannya seorang wanita. Bukan wanita tersebut yang membuat Tasban Koncer sumringah mengingat wajah wanita yang ditawarkan tidaklah rupawan. Iming-iming bahwa Tasban Koncer akan mendapatkan sebuah rumah dengan mengawini wanita tersebut yang melatarbelakangi Tasban Koncer tersenyum terus berhari-hari. Tak mengapa mendapatkan istri tak rupawan asalkan mendapatkan rumah.

(more…)

Published March 15th, 2008

Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebuah Realita Pahit

Transportasi dengan pesawat terbang merupakan salah satu pilihan yang sangat baik untuk melakukan perjalanan jauh, sehingga banyak orang yang menggunakan penerbangan udara untuk melakukan perjalanan antar propinsi atau antar negara yang jaraknya bisa mencapai ribuan kilometer. Mengingat semakin banyaknya pengguna penerbangan udara maka pembangunan suatu bandar udara (bandara) terus meningkat dari waktu ke waktu. (more…)