Archive for the ‘Tati’


Published August 30th, 2007

Babo Singkong

Anak dibimbing kemenakan dipangku, demikian bunyi pepatah Minang.  Kewajiban seorang paman untuk membantu,  mendidik dan menjaga kemenakannya merupakan tradisi Minang sejak dulu hingga sekarang.  Ayahku sejak kecil sudah yatim, ia pergi merantau ke Jakarta dan diasuh oleh  mamaknya.  Ayah bertemu dan menikah dengan ibuku orang Betawi juga di Jakarta. (more…)

Published August 23rd, 2007

Serbahuta

Merbau;kota kecil yang terletak di kabupaten Labuhan Batu Sumatra Utara  .  Di kota yang pantas disebut desa inilah Mala dan Gulmat mulai mengenyam pendidikan SD di pagi hari hingga siang dan sore harinya sekolah Arab (sebutan sekolah Madrasah).

Merbau dilewati oleh sungai Asahan yang besar dan dalam. Di sungai ini  banyak terdapat  ikan baung besar, ikan kaloi besar dan ikan pahitan yang banyak durinya.  Mala dan Gulmat  suka memancing ke sungai kalau sekolah Arab libur hari Jumat sore. Mereka  memancing dengan pancing buatan sendiri dari  ranting pohon  bambu   dan umpannya cacing tanah.

Membuat pancing dan memasang umpan dipelajari dari bang Musyiran seorang pekerja  di kilang padi milik Pak Abduh: ayah mereka. Bang Musyiran mengajari memilih batang bambu yang cocok untuk  mancing, ia juga mengajari Mala agar jangan takut dengan cacing.

Kilang padi  terletak diluar kota Merbau,  di jalan menuju kota Simpang Empat dan arah ke Brusel tempat  produksi minyak kelapa sawit dan kebun sawit.  Di sekeliling kilang banyak pohon durian, sirsak, kelapa, ubi, papaya, tebu, kangkung  dan pohon cengkeh Zanzibar.

Suatu hari disaat usia Mala  9 tahun dan Gulmat adiknya 8 tahun,  mereka  hendak pergi memancing ke sungai yang terletak di belakang kilang padi,  sebelum pergi keduanya diingatkan oleh orang tuanya;  jangan main sampai jauh-jauh. Bang Musyiran dan teman-temannya juga memperingatkan agar mereka jangan pergi jauh dari daerah  kilang. Tentu saja kedua anak tersebut  mengiyakan semua perintah mereka, supaya diijinkan mancing berdua saja tanpa harus ditemani bang Musyiran.

Sesampainya  di sungai, langsung mereka  memilih tempat memancing di bawah pohon rindang yang menjorok ke tepi sungai, dari bawah pohon itu Mala dan Gulmat  memancing.  Lama menunggu pancingan belum ada ikan yangkut,  padahal mereka berdua sudah berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun, sunyi senyap dan hanya terdengar riak saluran air sungai di sore hari itu.

Bosan menunggu pancingan dan  tidak dapat seekorpun, akhirnya Mala dan Gulmat sepakat  memutuskan pergi keluar daerah kilang. Mereka  pulang ke rumah meletakkan alat pancing, rumah  terletak di sebelah kilang. Dengan jalan mengendap-endap  kedua anak kecil itu  pergi ke jalan besar, kami berjalan menuju hutan ke arah Simpang Empat.

Rumah Mbah Siti tetangga Pak Abduh  sudah dilewati, rumah Wak Uteh juga dilewati,  tibalah mereka  di hutan rimbun yang banyak ditumbuhi oleh pohon karet, dan pohon-pohon besar lainnya, diatas pohon besar itu ada banyak lilitan rotan,  pohon durian hanya ada 2 pohon besar, selainnya pohon pakis kecil yang bisa dimakan dan pakis hutan serta jenis pohon yang tidak  kenal  namanya.

Tiba-tiba Gulmat melihat di dalam hutan tersebut ada pohon rukam yang ranum buahnya, di sebelahnya juga ada pohon buah  langsat dan kaget juga Mala  menemukan ada pohon buah manggis.

“ Ayo kita ambil buah rukam yang hitam-hitam itu” kata Gulmat, “ inikan pohon di hutan mana ada yang punya, nanti kita makan di jalan jadi ayah dan mamak tidak tahu kita masuk ke hutan”.  Mala agak takut masuk jalan terus menuju ke pohon rukam yang rindang besar dan tinggi,  karena adik laki-lakinya sudah maju duluan ia terpaksa mengikuti dari belakang.

“ Hey, hei kalian mau apa kemari?” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita mengejutkan  dari arah  depan dekat pohon rimbun besar sekali ,  jaraknya hanya beberapa meter dari pohon rukam.  Gulmat  menjawab dengan tenang” Kak, kami kemari cuma mau ambek sikit buah rukam itu nyoh,  kami capek mancing tadi tak dapat ikan, rukamnya banyak dan kami mau ambek sikit buat makan di jalan pulang ke rumah”.

Mala  hanya mendengar percakapan adiknya dengan suara wanita yang tak tampak batang hidungnya,   memang ia tidak melihat tubuh wanita yang berbicara itu. 

“ Kalau begitu kalian mau ikut aku?” kata suara wanita itu selanjutnya.

“ Aah kakak sudah sore kali ini sudah mau maghrib pula, nanti kami dicari ayah, lain kalilah kami ikut kakak ya” balas Gulmat atas ajakan wanita itu.

Tiba-tiba Mala menarik tangan adiknya dan berujar “ ayo kita  cepat  pulang”,   berdua membalik badan dan balik arah keluar dari hutan tersebut dan keduanya berlari sekencang-kencangnya. Mereka  lari menuju jalan aspal. 

Terengah-engah akhirnya mereka  sampai kembali di jalan aspal,  berhenti sebentar lalu  lari lagi pulang menuju arah rumah. 

Di depan kilang  padi  sudah nampak Pak Abduh  berdiri menunggu anak-anak itu , ada juga bang  Musyiran, Bu Abduh  dan adik mereka  yang masih kecil.  “ Dari mana saja kalian berdua,  mamak mencari kalian supaya makan durian dan pulut (ketan)” kata Pak Abduh  nampak bingung.

“ Ayah, kami tadi masuk ke hutan Serbahuta,   disana kami masuk ke dalam-dalam,  kami tengok ada banyak pohon buah-buahan;  ada rukam, langsat dan manggis” kata Mala  pada ayahnya .  “ lalu ada suara perempuan yang nanya kami mau apa disana, dan dia juga mengajak kami ikut dia yah” lanjutnya memberi laporan pada semuanya. 

“ Tapi, karena ingat cerita Wak Uteh dulu,  jadi kutarik tangan  adek supaya lari pulang cepat keluar hutan” kata Mala lagi.

“ MasyaAllah !  jadi kalian jumpa sama orang bunian di Serbahuta itu” kata Bu Abduh dengan mata terbelalak. “ Untung saja kalian enggak ditangkapnya dan dibawa  masuk ke dunianya, kalau kalian mau ikut … entah apa jadinya”.

Wak Uteh tetangga mereka pernah cerita pada keduanya,  di hutan Serbahuta banyak berdiam orang bunian,  suara-suara orang bunian sering terdengar, seperti ada suara anak menangis, suara orang menumbuk padi dan suara-suara lainnya. Wak Uteh menerangkan kalau jumpa wanita yang bibirnya rata  tidak ada garis belahan dibawah hidung,  maka jangan dekat-dekat, wanita itu  orang bunian penghuni  Serbahuta.


Megara, 23 Agustus 2007

Published August 22nd, 2007

Undangan

Selasa sore ini hari  masih terang saat musim panas,  saya tidur siang sejak jam 3 sore bersama kedua anak balita kami.  Tiba-tiba ada dering telepon   nyaring membangunkan saya,  terdengar Aisyah anak perempuan satu-satunya yang berusia 9 tahun berbicara dengan si penelepon.  Masih ada rasa kantuk menyerang,  saya ingat belum menunaikan solat asar dan turun dari pembaringan menuju lantai bawah.

“Aisyah siapa yang telepon sayang?”  tanya saya, ” oh tadi yang telepon Baba ( panggilan ayah bahasa Yunani) bilang kita semua diundang Thia Aspasia kerumahnya makan malam, jadi  harus siap-siap jam 7.30 pm kita berangkat kata Baba” demikian Aisyah memberi laporan lengkap hasil pembicaraan di telepon dengan suami saya yang sedang bekerja memasang stiker untuk mobil sebagai pekerjaan  keduanya untuk menambah penghasilan.

Suami saya memang bukan sarjana, ia hanya seorang teknisi tamatan sekolah teknik dan bekerja di kilang minyak.  Kami berkenalan melalui internet saat ia bekerja di Doha-Qatar,  disanalah ia mengenal Islam secara keseluruhan dan ia banyak bertanya tentang agama pada teman-teman kerjanya di Doha.  Suami terkesan saat melihat  orang Arab sangat kuat bekerja di kilang minyak walaupun puasa di bulan ramadhan.

Beralih soal undangan Thia (tante bahasa Yunani) Aspasia kakak  mertua perempuan saya,   maka bersegera saya jagakan Dullah dan Hadi dari tidur siangnya agar bisa solat Asar bersama.  

Jam 6.30 pm suami pulang membawa 2 pak telur dan  buah anggur,  belum sempat saya bertanya, suami sudah memberi penjelasan lebih dahulu ” ini telur dan buah anggur dari Pak Riga,  stiker yang saya tempel di truknya kecil hanya keterangan kapasitas angkutan -   truk angkutan telurnya akan dikenakan denda 600 euro jika ketangkap polisi tanpa stiker,   hari ini saya dibayar dengan telur dan buah anggur” tampak wajah suami lelah setelah seharian bekerja di kilang dan langsung bekerja design,  memotong dan memasang stiker.

Megara kota tempat kami tinggal memang kota kecil yang terkenal dengan produksi telur dan hasil pertaniannya,  rumah yang kami bangun diatas tanah pertanian sepi sekali,  rumah dikelilingi oleh pohon zaitun dan rumah tetangga jaraknya berjauhan.  Pernah teman asal Indonesia yang bertempat tinggal di Athena heran dan bertanya ” kok bisa sih Tati betah tinggal disini, sepi dan mirip hutan?” saya hanya senyum menjawabnya sebab teman dari KBRI tersebut tahu bahwa saya berasal dari Jakarta kota ramai dan hiruk pikuk.

Melihat buah anggur yang ranum segera saya cuci dan cicipi dan hmm memang rasanya manis sekali apalagi tanpa biji, telur yang berjumlah 60 buah seketika membuat hati riang sebab besok saya bisa membuat bolu kukus memakai bahan telur.

Sebelum berangkat anak-anak sudah rapi berpakaian, Aisyah memilih memakai baju warna pink kesukaannya,  Abdullah yang usianya 40 bulan dan  biasa dipanggil Dullah memakai baju kaos warna biru muda serta bawahan celana 3/4 warna krem,  sedangkan si bungsu Hadi memakai baju kaos biru dan celana biru.

Jam 7.30 pm  kami sudah tiba di rumah peninggalan suami thia Aspasia yang jaraknya hanya 2 km dari rumah kami.   Ditengah jalan  kami sempatkan membeli buah tangan berupa biskuit buatan penduduk setempat pemilik toko roti.  Kami disambut dari belakang beranda rumah dengan senyuman oleh thia dan anak laki-lakinya Bill yang baru datang dari US untuk liburan musim panas di Megara.  Thia Aspasia memang menetap di US dan datang ke Megara hanya sekedar berekreasi  dan melihat kondisi rumah mereka di Megara.

Thia Aspasia memakai pakaian serba hitam-hitam sesuai adat istiadat orang Yunani yang ditinggal mati oleh suaminya,  ia berusia 72 tahun namun masih nampak sehat dan kuat.  Thia Aspasia anak nomor dua dari 6 bersaudara,  4 laki-laki dan 2 orang perempuan.  Perawakannya sedang,  berambut pendek warna pirang,  agak gemuk dan tampak gelambir di lehernya,  matanya berwarna coklat  masih menampakkan kesedihan sejak suaminya meninggal akibat penyakit diabetes.

 Bill nama aslinya Vassilis,  badannya tinggi kira-kira 190 cm,  rambutnya lurus hitam legam,  berkumis model petenis Andre Agassi,  kurus sebab ia suka jalan kaki,  ia tidak merokok.

Hidangan  telah menanti diletakkan diatas meja plastik dengan taplak meja krem kembang-kembang.  Kami makan  diberanda belakang rumah.  Menu yang disajikan   berupa roti,  sayur buncis dan kentang, salad tomat dicampur ketimun dan bawang,  keju feta ( keju dari susu kambing),  dan ikan bakar membuat saya nafsu makan.  Minuman ringan ada orange jus tetapi kami semua memilih meminum air putih dingin. 

Hanya duduk sekitar 40 menit kami langsung pulang sebab waktu mahgrib segera tiba,  yaitu jam 8.13 pm.  Ya thia dan Bill mengerti ketika kami pamit pulang cepat-cepat. Sebelum pulang anak-anak dikasih hadiah permen oleh thia Aspasia.

Megara, 21 Agustus 2007 

   

Published August 19th, 2007

Membacalah apa saja

Sejak menetap di Yunani sulit mendapatkan buku bacaan yang bisa dibaca, baik itu buku berbahasa Inggris apalagi buku berbahasa Indonesia yang tidak mungkin didapatkan di negeri asal suami ini. Buku berbahasa Inggris harus dipesan dulu ke toko buku dan toko buku inipun adanya di Athena yang berjarak 40 km dari Megara; lokasi tempat kami tinggal. (more…)