CERPEN : BERANTEM (1)
Pernah berantem sama pasangan? Entah itu masih dalam status teman, teman dekat, teman tapi mesra, pacar, apalagi suami… yang namanya beda pendapat, rasanya sangat wajar terjadi. Kata Ibu saya sih “Yah namanya saja dua orang yang berbeda, latar belakang keluarga beda, jalan pikiran beda… jadi yo wajar toh Nduk kalau sekali-sekali bertengkar…“
Dan Alhamdulillah aku punya partner bertengkar yang seimbang, Bayu suamiku. “Aneh deh, berantem kok malah Alhamdulillah si?”. Lho tapi memang bagus
kan kita masih punya teman beda pendapat. Kalau selama ini kita tidak punya teman berantem untuk mendiskusikan pendapat kita yang berbeda, Waspadalah!! Karena itu bisa menjadi pertanda bahwa tidak ada orang yang peduli dengan apa yang kita pikirkan dan lakukan, atau kemungkinan paling buruk kita memang tidak punya teman. Ih seram gak sih??
Seperti kebanyakan pasangan, beberapa kali kami juga bertengkar. Mulai dari hal yang sepele seperti : lebih enak lewat jalan mana supaya cepat sampai ke pasar, atau yang agak serius : kenapa telfon dan sms dari saya nggak dibalas-balas, sampai yang cukup serius : cemburu karena suami masih akrab dengan mantan pacar. Tapi sekali lagi Ibu benar, semakin sering kita komunikasikan pendapat kita yang berbeda dengan pasangan, maka kita akan semakin kenal dengan pasangan.
Jadi jangan pernah berfikir kalau berantem dengan pasangan tidak ada manfaatnya sama sekali. Wah salah besar… Karena justru di saat terjadi beda pendapat ini, kita jadi makin tau sifat-sifat asli pasangan. Waktu kuliah dulu aku punya teman yang pacarnya kelihatan saba…arrr sekali, eh tapi sekalinya marah, si pacar yang sabar ini tidak segan-segan main tangan… “PLAK..PLAK..” dan itu dilakukan di depan orang banyak. Lain lagi ceritanya dengan sepupuku dengan pacar super romantisnya, tiap “ngapel” gak lupa bawa bunga, belum lagi hadiah-hadiah lain seperti puisi, coklat dan boneka wah pokoknya benar-benar pacar impian. Tapi saat dia cemburu karena melihat sepupuku itu diantar pulang oleh teman kuliahnya, laki-laki super romantis ini langsung marah-marah dan mengeluarkan kata-kata “jahat” yang benar-benar susah dimaafkan seorang wanita. Yah pokoknya kalimat yang jahat banget dan gak pantas gitulah. Karena itu semua aku mengambil kesimpulan, bahwa dari cara seseorang marah, kita bisa lebih mengenal bagaimana kepribadian dia sebenarnya.
Dengan alasan untuk makin saling mengenal itu, maka sudah tidak terhitung berapa kali kami bertengkar dalam empat tahun masa pacaran ditambah tiga tahun usia pernikahan ini. Kalau dulu aku suka pusing kenapa Bayu jadi lebih pendiam saat kami mulai beda pendapat, sekarang aku jadi lebih mengerti bahwa itulah saat dimana ia butuh ruang lebih banyak untuk memikirkan pendapatnya yang berbeda. Katanya sih “Biar gak ada kata yang disesali karena sudah terlanjur diucapkan dengan emosi” (inilah salah satu alasan kenapa aku langsung menerima lamaran untuk menjadi istrinya waktu itu).
Namun sikapnya itu justru berbeda 180 derajat dengan aku, yang justru akan bicara tanpa henti saat tidak setuju dengan sesuatu yang dilakukan ataupun dipikirkannya. Kalau di awal-awal dulu dia akan sibuk memotong kalimat panjangku hanya untuk menyampaikan argumentasinya (dan tentu saja itu semakin membuatku makin marah dan emosi) kini dia akan diam mendengarkan dan baru bicara setelah aku mulai merajuk, kenapa dia diam saja (cara ini terbukti lebih efektif membuat kami tidak berantem lama-lama).
Tapi mengalami sendiri dan menyaksikan orang lain berantem dengan pasangannya, adalah dua hal yang sangat berbeda. Walaupun bagiku beda pendapat dengan pasangan adalah hal yang wajar, namun saat Nisa bercerita pertengkarannya dengan Dani suaminya, aku menjadi orang yang paling panik sedunia. (bersambung)


August 21st, 2007 at 12:29 pm
Halah kesindir niy, kalo marah, diem artinya masih bisa ditahan. Marahnya ga ketahan kalau ga nangis, ruangan jadi kapal pecah :)pecahan kaca betebaran. Dulu itu sih…sekarang ga jauh beda