Cerpen: Suatu pagi di sudut Orchard Road (1)
WOOOIII!!!BANGKE, BANGUN!!!!!” terdengar ‘raungan’ Ai, kakakku. Tapi rasanya, otakku tak mau diajak kerjasama untuk mematuhi kata-katanya. Aku masih terbaring. Mataku berat sekali untuk membuka.
“LAAAAA!!!!! Bangun dong, gue udah mau jalan nih!”, Ai kembali memberi komando, kali ini dengan memberikan guncangan hebat di tubuhku.
Dooh… , nih mpok gue nggak bisa liat orang seneng napa ya? keluhku.Guncangan setara gempa 6 skala richter itulah yang akhirnya berhasil memaksa otakku untuk mematuhi perintah Ai. Otakku memerintahkan mataku untuk membuka, ia juga meminta dengan sangat agar bagian tubuhku yang lain membuat gerakan yang menunjukkan kalau aku masih hidup. Well, aku memang ngetop di rumah dengan julukan si putri tidur sejati. Ai lain lagi. Ia sampai sekarang kalau sedang kesal, pasti memanggilku dengan kata ‘bangke’, sebab, kata dia, kalau sudah tidur, aku sudah mirip bangkai alias nggak bangun-bangun. Biar ada badai topan sekalipun, sleeping must go on.
Mataku mulai membuka. Buram. Aku mengucek mataku sambil tanganku merayap ke atas meja di sampingku, mencari kacamataku. Tapi tidak ketemu, mungkin aku menaruhnya di tempat lain.
“ La, please deh! Elo itu gak di Jakarta, nggak di sini, penyakit lo nggak sembuh juga ya! Salah satu tujuan gue ngajak ke Singapura, gue mau tau kalau di sini elo masih bisa ngebangke apa nggak. Huuh.. gak taunya.. ya, ampun…”
Oh, please Ai. Jangan ngerusak pagi gue dengan omelan. Kalau dikasih omelet boleh deh asal jangan omelan, batinku.
“ Udah, elo kalo mau berangkat, jalan aja. Gih, elo entar telat lagi. I’m fine kok. Ada lagi yang mau diomongin?” tanyaku, masih dalam usahaku untuk mengumpulkan ‘nyawa’ku.
Ai duduk di sampingku sementara aku masih berbaring. Sesaat wangi parfumnya, berlomba masuk ke dalam hidungku. Aroma musk, baru kali ini rasanya Ai memakainya. Hhmm… brand apalagi yang dia pakai kali ini?pikirku. Ai memang kolektor parfum. Rasanya sudah hampir semua ternama pernah ia pakai.
“Hatchiiiiii!!!!!!”
Wangi itu berhasil membuatku bersin! Tapi, Wow! Berkat bersin itu, rasanya seluruh nyawaku telah berkumpul seketika.
“ Gilaa….kayak mau manggung aja lo.. wangi banget!” ujarku memberi komentarsambil mengelap hidungku yang mendadak berair.
Ai mengeluarkan sesuatu dari kantung blazernya.
“La…. denger ya? Ini voucher sarapannya gue taruh di atas meja. Inget, kalo elo mau sarapan ke resto di ground, elo harus bawa voucher ini,”pesan Ai sambil memperlihatkan secarik kertas glossy berukuran sekitar 4x 6 cm berwarna biru muda, tepat di antara kedua mataku
“ Itu apaan Ai?” tanyaku meledek, pura-pura tidak mengerti. Aku paling suka meledek kakak kesayanganku itu
“ VOUCHER!!! Nyimak nggak sih dari tadi gue ngomong? Pokoknya bawa benda ini kalo elo mau makan. Kasih sama resepsionis yang ada di depan pintu masuk. Awas kalo ilang! Nggak bisa makan, ngerti?” tegas Ai dengan setengah membentak.
Aku hanya manggut-manggut mengiyakan sambil nyengir kuda. Senang rasanya sudah bikin Ai marah pagi-pagi.
“Jangan iya-iya tapi nggak ngerti. Gue nggak tenang nih ninggalin elo,” lanjut Ai sambil membelai rambut pendekku. Duh, kenapa nih anak? tanyaku dalam hati. Jarang-jarang dia melakukan adegan belai-membelai seperti ini.
Ehm.. aku jadi tersentuh. Aku bangun dan duduk di sampingnya. Ia cantik sekali pagi ini. Ia memakai blazer warna merah maroon yang dipadu dengan celana panjang warna senada. Di lehernya tergantung kalung dari batu alam. Aku kenal sekali kalung itu. Aku yang membelinya saat pergi ke
Yogyakarta. Ai cocok sekali memakai kalung itu. Aku senang ketika akhirnya dia memutuskan mau memakai kalung itu.
Dulu, dia jarang memakai kalung itu. Memang sih, mungkin untuk ukuran Ai, kalung ini tidak masuk hitungannya, norak, itulah hal yang pernah diutarakannya pada Mama dan tanpa sengaja aku mencuri dengar. Hal itulah yang kemudian memicu ‘perang dunia ketiga’ antara aku dan Ai. Yeah.. kejadian tiga tahun lalu sampai akhirnya kami mengadakan gencatan senjata.

