Cerpen : Suatu pagi di sudut Orchard Road (2)
Ai, lima tahun lebih tua dariku. Ia kakak perempuanku satu-satunya sedangkan aku adalah adik satu-satunya. Jadi, kami tidak mempunyai pilihan untuk tidak menerima satu sama lain karena kami memang tidak punya saudara kandung lain. Ai adalah kakak sekaligus panutanku dan idolaku. Di mataku, Ai adalah cewek top, selain cantik, ia juga mempunyai karir yang bagus di sebuah perusahaan multinasional. Karena urusan pekerjaannya, Ai sering melanglang buana ke luar negeri. Dan kali ini dalam rangka mengikuti sebuah seminar
di Singapura, ia mengajak aku. Selain jago untuk urusan kerjaan kantor, Ai adalah koki yang hebat dan yang bikin aku tambah iri, pacarnya Ai, Mas Ferdi, orangnya keren dan baik.
Pokoknya biar kadang Ai nyebelin, bikin kesel, cerewet bin bawel, aku bangga mempunyai kakak seperti dia. Dan yang paling aku suka dari Ai adalah, dia tidak pernah mengharuskan aku memanggilnya dengan panggilan yang menyatakan kalau dia lebih tua dari dia. Dia lebih suka dipanggil namanya saja.
“Ai.. gue udah gede, bisa deh jaga diri. Udah jalan sana, ntar elo telat. Seminarnya mulai jam setengah sembilan ‘kan?” kataku sambil memegang tangannya yang mengelus rambutku. Sempat kulirik jam tangan Guess yang melingkar di tangan Ai. Jarumnya sudah menunjukkan jam delapan kurang seperempat.
“ Bener gak pa’pa?”tanya Ai
“ Bener..Sana gih.. hus..hus…pergi!” jawabku sambil mendorongnya keluar dari tempat tidur.
“ Ya, udah.. gue pergi ya. Jangan lupa voucher-nya!” ujar Ai mengingatkanku lagi sambil tangannya menunjuk ke atas meja di samping tempat tidurku
“ Siap, bu!” jawabku sambil memberi hormat bak seorang tentara.
Ai tersenyum padaku sambil mengambil tas laptop dan tas tangannya dari atas kursi. Lalu ia berjalan ke arah pintu dan sebentar kemudian dia sudah menghilang di balik pintu.
Kepergiannya hanya meninggalkan jejak wangi aroma musk-nya di kamarku. Ai sudah pergi.
Duh.. kenapa rasa kantuk mendadak kembali melandaku. Wah, gawat nih! Aku meloncat dari atas tempat tidur dan membuka mataku lebar-lebar. Tapi…
——————————————————————————————————
Kkkkriuuuukkkkkkkkkk……….Terdengar suara yang tak asing lagi bagiku, yaitu suara dari dalam perutku. Duh.. beneran kelaparan nih,batinku. Cacing dalam perutku benar-benar sedang berdisko a go-go, nih.
Sementara usahaku menemukan voucher sarapan pagiku belum juga menampakkan hasil.
Saat bersiap untuk turun sarapan ke restaurant tadi, aku tidak menemukan voucher itu di atas meja. “Mati gue!” ucapku seraya menepuk dahiku
Mataku dengan seksama menelusuri semua benda yang ada di kamar. Kusibakkan tirai jendela, entah bagaimana caranya, mungkin saja benda itu hinggap di sana. UUUfff…. Silau, Man! Aku spontan memicingkan mata saat sinar berwarna putih menyilaukan itu masuk ke dalam kamarku. Wow.. sudah jam berapa sih, kok mataharinya sudah kinclong banget. Kulirik jam yang melingkar di tangan kiriku udah menunjukkan pukul 07.30. Loh.. kok baru jam setengah delapan? Bukankah tadi saat Ai berangkat sudah jam delapan kurang seperempat?Aneh aku ngebatin sendiri. Oh, mungkin aku dari kemarin belum menyesuaikan jam tanganku dengan waktu Singapura.
Jakarta dan Singapura berbeda waktu satu jam.
“Tambah satu jam,jadi jam setengah sembilan” ucapku pada diri sendiri sambil memutar jarum jam tanganku. Yah, sekarang sudah cocok.
Aku kembali meneruskan pencarianku di area dekat jendela. Duh.. nggak ada juga, keluhku saat pencarianku di area dekat jendela tak memberikan hasil. Kini mataku tertuju pada meja yang konon menurut Ai, ia menaruh voucher-nya di sana. Sebenarnya, aku sudah empat kali memeriksa meja itu, di atas, di bawah, di samping kiri, kanan, tapi voucher itu tak tampak. Belum puas rasanya, jadi aku sekali lagi mengecek area di sekitar meja kayu berwarna coklat itu. Dan jawabannyapun tak berubah, hasilnya nihil.
Apa tadi voucher-nya tertiup angin ya? Tapi mana ada angin kencang masuk ke kamar hotel?
Cari makan di luar aja kali ya? batinku. Yah, kali aja di luar ada yang jualan makanan yang bisa buat ganjel perut. Kalau harus makan di hotel tanpa voucher itu sih rugi bandar, harganya
kan mahal banget.
Saat keadaan genting bin kritis itu tiba-tiba bel pintu kamarku berbunyi.
Aha, mungkin itu kakakku!pikirku. Mungkin dia kelupaan bawa barang. Aku bisa meminta Ai untuk memintakan voucher lagi. Tapi kenapa memencet bel?Bukankah dia juga punya kunci kamar? Ah masa bodoh, dia males aja kali buka pintu memakai kunci. Dengan setengah berlari, kugapai gagang pintu kamarku.MMMhhhffffmm…..Gila memang wangi parfum yang dipakain Ai, belum masuk ke kamar saja, wangi musk itu sudah lebih dahulu sampai ke dalam ruangan.
Saat kubuka pintu kamarku, seulas senyum menyambutku.
“Good Morning! Any Laundry Ma’am?” tanya wanita setengah baya yang kini berdiri di hadapanku dengan ramah. Senyum tak lepas dari wajahnya
Aku ternganga. Ia bukan Ai.
Tapi entah kenapa meski tahu harapanku untuk bisa makan pagi pertama di restoran hotel ini lenyap, tapi melihat senyum wanita setengah baya itu, rasa kesalku sedikit hilang.
“ No.. no.. no laundy for today. Thank you,” jawabku terbata-bata. Sungguh kunjungan yang tak terduga.
Masih dengan senyumnya ia pamit kepadaku.
“ Ok, thank you. Ok, If you need something, I’ll be around” ujarnya sambil berlalu dari hadapanku
Kupandangi terus Ibu tadi sampai akhirnya ia menghilang dari hadapanku. Ibu yang cantik, pujiku. Aku yakin saat mudanya, ibu tadi pasti cantik. Aku masih bisa melihat jejak kecantikkan masa muda di wajahnya. Walaupun kerutan sudah tampak di sana-sini, kulit wajahnya masih putih mulus, tidak tampak totol-totol coklat seperti yang kebanyakan aku lihat pada wanita seumur ibu itu. Tepat di bawah mata kirinya terdapat sebuah tahi lalat.Rambut panjangnya digelung ke belakang. Meski uban bertebaran di kepalanya, namun entah mengapa, itu justru menambah keanggunan ibu tadi.Ia layaknya seperti seorang tuan rumah yang siap melayani tamunya.
Yang tak kalah menariknya adalah matanya. Sepasang mata sipit terindah yang pernah aku lihat. Tanpa riasan yang tebal, hanya terlihat olehku olesan bedak dan lipstik tipis di bibirnya. Kutebak usianya antara 55-60 tahunan. Ia masih terlihat sehat dan segar.
Kututup kembali pintu kamarku. Aku tertawa sambil kembali menghirup aroma musk yang ditinggalkan ibu itu. Ah, Ai, parfummu kadang pasaran juga ya. Buktinya ibu tadi juga memakai parfum yang sama. Aku kembali bersiap-siap untuk pergi ke luar. Saat aku akan benar-benar berangkat, bel pintu kamarku berbunyi lagi. “AI.. AI!!” Aku berteriak ke arah pintu. Mungkin kali ini Ai yang datang. Tapi tidak ada respon. Buru-buru aku membuka pintu. Seorang wanita setengah baya, seusia ibu yang tadi menyambangi kamarku kini berdiri di hadapanku. “Good Morning! Any Laundry Ma’am?”tanya dengan ramah.
Wah, hebat sekali, lima menit yang lalu aku sudah dikunjungi room service, sekarang ada lagi.
“ No, thanks Ma’am. Just now, your friend already asked the same thing,” jawabku
“ A Friend? Already here?”tanyanya dengan logat Singapura yang kental. Wajahnya memandangku penuh keheranan.

