Cerpen: Suatu pagi di sudut Orchard Road (3)
Lanjutan cerita lalu…
“Yes, she came here at about five minutes ago. Your friend with birthmark here”jawabku sambil menunjukan jari tanganku ke arah bawah mata kiriku untuk menunjukan ciri ibu yang sudah datang ke tempatku.
Ibu di depanku masih berdiri mematung. Matanya melirik ke arah pintu kamarku.
Sebentar kemudian, ia pamit kepadaku
“ Ok, thanks Ma’am,”
Sepertinya ia tidak tahu kalau aku sebelumnya sudah dikunjungi oleh rekan kerjanya. Aku jadi penasaran. Kulongokkan kepalaku ke luar kamarku. Kulihat ada dua sampai tiga orang berseragam putih hijau sedang berada di koridor. Ciri fisik mereka sama yaitu wanita setengah baya. Tapi semuanya masih ada di kamar yang nomornya lebih kecil dariku. Aku melongok ke arah kananku, dimana kamarnya bernomor lebih besar dariku. Sepi dan senyap. Kulihat ibu yang tadi kini sudah ada di kamar sebelahku.
Mengapa pihak hotel tega mempekerjakan orang yang seharusnya sudah tinggal di rumah, beristirahat, mengasuh cucu dan menikmati masa tuanya? pikirku
Krrriiuukkkk…
Ah.. suara itu mengingatkanku kembali pada masalah yang harus segera kuselesaikan. Mencari makanan!
——-
Orchard Road pagi itu masih sepi. Tampak sisa-sisa hujan tadi malam masih membekas di jalanan. Aku berjalan ke luar hotel, berharap bisa menemukan sesuatu yang layak untuk dimakan. Singapura memang beda dengan Jakarta. Kalau di Jakarta, kita bisa dengan mudah mendapatkan tukang jualan kudapan untuk mengisi perut yang keroncongan.
Ada tukang bubur ayam, ketoprak, sampai tukang jual nasi uduk juga tersedia. Tapi di sini, sepanjang bulevard Orchard Road yang sudah kujalani, aku tak melihat tukang jualan makanan.
Ada dua sampai tiga kios yang menjual koran dan majalah. Sementara Mal-Mal yang bertebaran di sepanjang Orchard Road masih tutup. Mereka rata-rata mulai melakukan aktivitasnya di atas jam sepuluh pagi. Tadinya aku berharap bisa menyambangi foodcourt yang ada di Mal. Aku berjalan melintasi tiga sampai empat Mall. Di sebuah sudut tampak sebuah bangun temporer yang digunakan sebagai kantor Singapore Tourism Board. Masih sepi, padahal di situ tertulis Office Our dimulai pada jam setengah sembilan. Dan sekarang, uhh.. sudah hampir jam sembilan. Wah, pada telat kali karyawannya, pikirku.
Harapanku satu-satu adalah Minimarket Seven Eleven yang berada 100 meter di sebelah kiriku. Di sana aku membeli beberapa batang cokelat, roti kismis dan susu coklat. Pokoknya aku nggak boleh kelaparan.
Aku sebenarnya ingin segera menyantap roti dan coklat itu sekarang juga. Tapi, rasanya tidak terbiasa saja, makan sambil jalan. Oh, kenapa tidak makan di bangku-bangku kayu yang ada di pinggir jalan saja. Ouuh.. bodohnya!
Aku segera mendekati sebuah bangku yang berada tak jauh dari tempatku saat ini. Kulihat sudah ada seorang wanita bertopi putih dan berseragam putih orange duduk di sana. Di sampingnya tampak sebuah gerobak berwarna putih dan sebuah sapu lidi bertangkai kayu. Petugas pembersih sampah rupanya.
“Good Morning!”sapanya padaku sambil tersenyum. Wah, ramahnya, aku disapa duluan!
“Good Morning!” balasku sambil duduk di sampingnya.
Seorang wanita setengah baya yang duduk di sampingku. Pagi ini sudah tiga orang wanita setengah baya yang aku temui dan semuanya masih bekerja.
“ Cookies?” si ibu di sampingku menyodorkan bungkusan kue yang ada di tangannya.
Aku pikir tidak sopan jika menolak pemberian orang.
“ Thank you,” kuambil satu buah kue yang bentukknya seperti lapis legit dari bungkusan itu.
Dan tahukah apa yang terjadi kemudian setelah aku mengambil kue itu? Maka dimulailah percakapan antara aku dan ibu itu. Wah, rupanya si Ibu itu doyan ngobrol juga, meski dengan orang yang baru ia kenal. Katanya, dari pandangan pertama, dia tahu mana orang yang bisa dia percaya untuk diajak bicara mana yang tidak. Duh, jadi aku dianggap dipercaya bisa diajak bicara ya. Wah, senangnya!

