Cerpen : Suatu pagi di sudut Orchard Road (4- Tamat)
Apakah benar Ai yang telah membangunkan Lala pagi itu? Siapa pula sesungguhnya petugas laundry si wanita setengah baya bertahilalat di bawah mata? Simak kelanjutan kisahnya…
Nama wanita setengah baya itu Qing Mei, dia lebih suka dipanggil auntie atau bibi . Dia sudah bekerja sebagai penyapu jalan selama 8 tahun. Darinya aku memperoleh informasi kalau banyak instansi baik milik pemerintah maupun swasta yang ada di Singapura itu yang bersedia memperkerjakan para manula.
“ Kami merasa dihargai meski kami sudah tua. Lagipula, orang-orang seperti aku ini sudah tidak ada yang mengurus, kalau bukan kami sendiri. Anak-anakku sudah menikah dan tinggal bersama keluarga mereka masing-masing. Suamiku sudah meninggal. Walaupun anak-anak suka menjenguk, tapi aku tetap ingin punya kegiatan sendiri untuk mengisi masa tua,”ujarnya
Ooh.. begitu ya. Pantas saja, hotel tempatku menginap itu juga masih mempekerjakan manula. Bukan untuk kerja yang berat memang, tapi setidaknya, selain menambah penghasilan juga mengisi hari tua mereka. Mungkin menurut mereka itu lebih baik daripada harus tinggal diam di panti jompo.
“Sedih juga kalau harus tinggal sendirian. Seperti temanku Ai Lin. Dia juga dulu bekerja sebagai penyapu jalan bersamaku. Sampai akhirnya, anak perempuan satu-satunya menikah dengan pria Taiwan. Namun setelah menikah, anak perempuannya itu tidak pernah menghubunginya,” Qing Mei berkisah.
Ia diam sejenak sambil mereguk air mineral yang dibawanya.
“ Ia berusaha ke sana- kemari untuk mencari tahu keberadaan anaknya. Ada seorang teman kami yang bekerja di hotel yang melihat anak perempuan Ai Lin menginap di hotel tempatnya bekerja. Serta merta ia bergegas pergi ke hotel itu. Namun sayang, di jalan Ai Lin mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia meninggal tanpa sempat bertemu anaknya,”
“ Ooh.. sungguh malang nasib ibu itu,” kataku sambil memandang ke arah Auntie Qing Mei yang matanya berkaca-kaca. Kuberikan tissu yang ada di saku celanaku padanya.
“ Setelah kematian Ai Lin, konon kabarnya ada yang pernah melihatnya di hotel tempat anaknya menginap, hotel di ujung Orchard Road ini. Aku tidak tahu apakah ia masih mencari anaknya walaupun Ai Lin sudah meninggal. Yang pasti, menurut orang yang pernah merasa bertemu dengannya, Ai Lin datang dalam wujud petugas Laundry di hotel itu. Ia kerap mendatangi tamu-tamu yang baru datang, terutama yang menginap di kamar 211,” lanjut Auntie Qing Mei sambil menyeka air matanya
“ Pe..pe..tugas Laundry?” tanyaku dengan suara yang nyaris tak terdengar. Mendadak tenggorokanku terasa kering, padahal barusan saja aku menyedot susu yang kubeli di Supermarket.
“ Ya. Awalnya, teman-temanku yang bekerja di hotel itu tidak percaya akan cerita itu. Sampai kemudian, mereka sering mendapatkan tamu yang merasa sudah didatangi oleh petugas laundry sebelum mereka datang. Ciri-ciri yang disebutkan para tamu itu persis seperti ciri-ciri phisik Ai Lin antara lain ada tahi lalat di bawah mata kirinya. Oh, ya Ai Lin itu selalu memakai parfum yang dipernah diberikan oleh anaknya. Baunya khas sekali, apa ya namanya.. aroma Musk kata temanku,”
Ya.. Tuhan! Tiba-tiba bulu kudukku meremang. Aku diam tak bergerak. Otakku berusaha mencerna cerita Auntie Qing Mei tadi, lalu kuhubungkan dengan kejadian-kejadian yang telah kualami pagi tadi. Diam-diam kuambil kunci kamarku dari dalam kantung celanaku. Nomor 211. Oh, tidak!!!!!! Jangan-jangan yang kutemui pagi tadi adalah………
“ Miss..Miss.. Hello?”
Aku tersadar saat Auntie Qing Mei memegang tanganku
“ Are You Ok?” tanyanya dengan wajah khawatir
Aku hanya bisa mengangguk saja. Aku harus kembali ke hotel. Hatiku tak tenang.
“ I have to go Auntie, Thanks for the cookies” kataku diiringi tatapan khawatir dari Auntie Qing Mei.
“ Miss.. Are you, OK?” terdengar Auntie Qing Mei bertanya lagi. Aku balikkan tubuhku sambil berusaha tersenyum padanya. Aku hanya mengacungkan jempolku padanya, tanda Ok.
Aku kembali menuju hotel dengan setengah berlari. Kurogoh saku celanaku dimana aku biasa menyimpan ponselku. Ouh.. tidak ada, pasti ketinggalan di hotel. Ingin rasanya aku memberitahu Ai tentang cerita ini.
Aku makin mempercepat lariku saat aku mencium kembali wangi aroma Musk masuk ke dalam hidungku.
Tidak!!!!!!! Ia tidak boleh mengikutiku. Aku berlari dengan penuh ketakutan tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan lagi.
Sampai di depan hotel, kulihat Ai berdiri di depan pintu masuk dengan beberapa petugas hotel. Badanku lemas, mandi keringat dan dadaku turun naik, nafasku tak beraturan. Rasanya kakiku sudah tak kuat lagi berjalan.
Kulihat Ai berlari menghampiriku diikuti beberapa petugas hotel.
Ai tidak memakai blazer merah maroon seperti yang kulihat pagi tadi. Juga tidak ada kalung batu alam tergantung di lehernya. Ia memakai blazer dan celana panjang hitam.
“ La.. dari mana lo? HAH? Gue nyari kelimpungan ke sana-sini. Pergi gak bilang-bilang!Handphone juga nggak dibawa!” cecar Ai dengan berapi-api. Wajahnya merah membara, ia nampak marah sekali.
“ Gue.. gue….” aku berusaha mengatur nafasku untuk menjelaskan. Tapi apa Ai nanti percaya? Aku jadi ragu
“ Udah hampir jam setengah sembilan nih. Gue bisa telat. Kalau mau pergi bilang-bilang dong. Gue sampe minta bantuan petugas hotel nyari elo!”lanjut Ai sambil berkacak pinggang.
“ Hah? Baru setengah sembilan? Bukannya elo udah jalan dari tadi?”tanyaku
“Ya ampun !!! Liat jam elo dong!Gue baru mau jalan. Tadi pagi ada insiden kecil. Gue ngerasa tadi ada yang ngetok kamar, terus gue keluar. Di luar, gue ngerasa ada yang nuntun gue ke sebuah ruangan. Taunya gue udah ada di Janitor Room. Gue mau balik ke kamar lupa nggak bawa kunci. Jadi gue turun dulu ke resepsionis minta kunci lagi. Pas gue balik, elo udah nggak ada…”
Kepalaku rasanya pusing sekali. Tak kuingat lagi apa kata-kata Ai selanjutnya. Yang terbayang hanya wajah wanita setengah baya bertahi lalat di bawah mata yang mencari anaknya. Yang kutahu kemudian. dunia di sekelilingku mendadak menjadi gelap..gelap sekali.


September 17th, 2007 at 1:15 am
Gomen nasai…Maaf kalo rada horor dan panjang ceritanya…
Met puasa untuk semua.