Cinta Tergila-gila
“Sayang, peluk aku. Andai kau boneka, akan kubeli buat menemani tidurku, mendekapku.”
Beberapa bait pesan pendek kembali tampil di layar selular. Terkirim hampir dari 10 kali dengan kalimat sama.
Seperti hari-hari sebelumnya, gambar hati dihiasi bunga mewarnai layar. Dengan kalimat-kalimat yang membuat merinding. Hampir pasti terkirim lebih dari lima kali. Atau minimal terkirim bagai jadwal minum obat. Pagi-siang-malam, berulang setiap hari.
“Kangen… Kangen… Kangen… Jangan tinggalkan aku cayank. Malam tadi aku menangis untukmu. Kangen….”
“Aku mencintaimu, benar! Sungguh-sungguh takut kehilangan dirimu.”
Tak hanya kalimat cinta penuh rayu, umpatan kesalpun rajin terkirim. Terlebih saat beberapa pesan pendek tak tertanggapi, dianggap angin lalu. Tak bosan mengirimi luapan emosi penuh kesal, dengan maksud tak tahu arti.
“Kenapa mail tak dibalas? Dasar tukang bohong! Pendidik tak mendidik! Dasar pembohong…Tukang tahu pembohong.”
“Hey kamu, dasar yah! Gerobakmu ditaruh di mana? Dasar penjual gehu!”
Hingga pada titik tertentu, beberapa pesan pendek yang kerap terkirim sudah tak bisa dibiarkan. Risih rasanya membaca layar selular dengan kalimat dengan ungkapan sama. Serasa diawasi penguntil. Harus ada penyelesaian.
***
“Baik, kita bicara dengan perasaan wanita. Karena memang kita wanita. Jangan kirimi lagi kata cinta tergila-gila.” Ujarku pernah satu kali, diantara sepoian angin senja, sambil menatapnya tajam.
“Kenapa cayankku? Kenapa kamu marah? Aku sahabatmu yang ingin mencintai, apa tidak boleh?!” Ujarnya dengan wajah sendu, tak kalah menatapku.
“Sahabat? Cinta? Aku tak ingin digilai cinta. Jika ingin mencinta, jangan tergila-gila. Cintai aku tulus sebagai sahabat dengan kewajaran.”
Wajah sendu mulai tersedu, lalu terseguk mengalirkan butiran bening. “Aku mencintaimu semata-mata karena-Nya. Apa salah mengirimi kata-kata cinta tanda perhatian?!”
Permbicaraan terasa lambat. Aku tetap pada keyakinan. Tak perlu ada kiriman pesan dengan kalimat cinta tergila-gila. Ungkapkan sebatas kewajaran. Karena kita memang sesama wanita. Bukan berusaha saling mencintai apalagi memiliki seperti layaknya lawan jenis. Jika ingin mencinta, cintai aku karenaNya, bukan cinta tak punya mata. Cinta buta.
Dan wanita yang sore itu berwajah sendu, pun tetap pada keyakinan. Apa salahnya mengungkapkan cinta tergila-gila? Sebagai pembuktian cinta seorang sahabat. Bersahabat tak hanya saling mencintai tapi perlu saling memiliki. Mencintai sahabat dengan penuh adalah salah satu refleksi mencintai karenaNya.
Pyuuiiihhh…! Makin dekat dengannya, semakin tak pernah tahu kemarah arah pembicaraan. Semakin banyak pembahasan arti sahabat semakin banyak pula penekanan arti cinta tanpa mendua. Pusing… Penat… Lelah. Lebih baik perlahan menjauh. Mencoba memahami memang kita tak memiliki satu pandangan tentang arti persahabatan.
Sahabat dengan cinta. Tergila-gila cinta? Cinta tergila-gila? Perhatian dalam bentuk penuh Cinta?
Terima kasih, karena sangat beruntung mendapatkan cinta dari seorang sahabat. Tapi jika dicintai dengan penuh tergila-gila? Maaf, tak perlu berlebihan dalam mencinta. Karena memang aku tak perlu cinta yang menggila, sahabat.


August 6th, 2008 at 8:46 am
huk huk huk, terenyuh hatiku membaca postingan ini. tahu kah kamu liz, sal yang mengirim sms itu. jadi benci deh ahh…. huk..huk… patah hatiku.
———-&———
hmmm, luar biasa mengaduk-aduk perasaan tulisan ini. penuh sentuhan emosi. kalau saja mencoba menulis naskah sinetron, dijamin laku deh.
hanya saja, tak tahu pembuka, penutup, pengantar. tahu-tahu langsung klimaks. sempat bingung juga sich. untung paragraf penutupnya cukup mewakili segala tanya. sip, mantab.
August 6th, 2008 at 5:53 pm
Wah bener juga tuh komentar Sal, sapa tau kalau dijadikan naskah, bisa lebih tertata..?
Lumayan lho.. kalau terkenal seperti Punjabi mungkin?
August 6th, 2008 at 6:59 pm
Thank`s buat Sal
Pantesan sms penuh terus… pelakunya ada di sini toh…
Patah hati nggak apa-apa, asal jangan patah gigi *jaka sembung*
qiqiqiqi
Thank`s Sunlita…
Terkenal seperti Punjabi? Aihh… Nggak mau ah…
Mendingan bikin buku best seller ajah
Ngalahin PH nya Punjabi… cieehh… eng..ing…eng…
keren…
Salam hangat
http://aishliz.multiply.com
August 13th, 2008 at 5:54 pm
Dear Lizsa,
sebenarnya ngebaca tulisan ini saya agak terbawa, ke mana penulis ini mau melarikan ceritanya. Karena setiap baca, saya pasti akan mikir cepat, endingnya ke mana ya. Kalau saya loncat ke akhir dan nggak sesuai prediksi, berarti penulis berhasil membuat pembaca untuk membaca.
Meskipun bahasanya masih ‘berantakan’ karena lentur gaul enggak, formal juga enggak, tapi Lizsa dengan enteng seperti ngobrak-abrik orang yang tengah gila cinta. Biasanya sih, akan muncul banyak perhatian, tapi caci maki…. ups, kayaknya ide dan eksperimen yang baru tuh…
Kinoysan