Concrete Life
Masih teringat dikepala, bagaimana bapak saya mengajarkan untuk menjadi manusia yang bisa dipegang omongannya. Bagaimana beliau mengajarkan dan mendidik menjadi true gentleman, dimana beliau selalu berkata, “laki-laki yang dipegang hanya kata-katanya”. Dari prinsip sederhana inilah saya menjalankan bahtera kehidupan sebagai seorang sarjana sipil kecil di dunia masyarakat konstruksi di Indonesia.
Sebelumnya, saya adalah seorang anak bungsu dari enam bersaudara laki-laki semua dan punya cita-cita sebagai tentara TNI Angkatan Darat.Hanya karena saya senang dengan aksi dan senjatanya. Bukan karena saya cinta kekerasan, saya cuma suka dengan ide untuk membela bangsa dan negara sampai akhir hayat. Melalang buana diseluruh daerah sudah saya lakukan, karena kewajiban ikut Bapak saya dalam bertugas. Pontianak, Bali, Jayapura, Ujung Pandang, Sorong, Jakarta dan lain lain, merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam hidup sekali. Berkesempatan melihat indahnya Indonesia, dalam lukisan anak kecil yang didominasi warna hijau, biru, merah, kuning, ada dan dapat dilihat langsung mata ini.


November 7th, 2008 at 1:46 pm
setahu sal, namanya teringat itu ya dikepala. kalau di dengkul, wah, bahaya itu. he..he.he.. lam kenal chrisma, becanda.
koq tanggung amat nulis, lanjutannya mana?
ayo dong, terusin lagi. jangan bikin kecewa sal. mana postingan lainnya?
November 12th, 2008 at 12:51 pm
Dear Chrisma,
ini belum kelar ya… hidup nyatanya yang mana nih? Apa pindah2nya itukah…?
November 13th, 2008 at 6:32 pm
blm congcrate life..
msi sdikt dri skian bnyak crita..
ayo brbgi crta..
ak stju yg papa kamu blng “lelaki itu yg dipegang kata-katanya”
December 1st, 2008 at 4:15 pm
Huahahaha.. Sampe kaget, dari tulisan Sal yang scroll-nya gak abis-abis, giliran pindah, lho, langsung ke bagian komentar.
Gakpapa kok, tetap kutunggu postinganmu..
Tapi ide ‘concrete life’ itu sendiri sudah cukup unik kok!