dalam sebuah lift
Anak laki-laki itu menjerit-jerit ketakutan ketika lift mulai bergerak. Sang ayah yang mendampinginya tampak tidak mempedulikannya Ia hanya meminta maaf pada saya yang kebetulan berada dalam lift yang sama dengan mereka. Kemudian sang ayah menjelaskan bahwa anaknya selalu seperti itu setiap kali berada dalam lift yang bergerak. Walaupun sudah menjalani beberapa sesi terapi tetapi belum nampak perubahan yang berarti.
Saya hanya bisa menatap iba pada si anak. Sebelum keluar dari lift saya menyempatkan memandangnya sekali lagi berusaha membesarkan hatinya dengan menirukan perkataan ayahnya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pintu lift kembali menutup namun saya masih sempat mendengar jeritannya bersamaan dengan lift yang bergerak.
Keesokan harinya kebetulan saya kembali satu lift dengan mereka. Dengan takjub saya mendapati si anak tak lagi menjerit-jerit ketakutan. Hanya saja masih terbaca jelas ekspresi ketakutan pada wajahnya. Kedua tangannyapun memegang lengabn ayahnya erat-erat. Si ayah sempat menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada saya. Ketika lift kembali bergerak, tidak lupa ia mengingatkan si anak untuk tetap membuka mata dan melihat keluar lewat dinding lift yang transparan.
Di hari terakhir sebelum saya kembali ke Jakarta, saya beruntung bisa bertemu mereka kembali. Kali ini si ayah tidak hanya tersenyum pada saya. Dengan bangga ia menceritakan kepada saya perihal kemajuan anaknya. Saya ikut memberikan pujian pada si anak yang sudah bisa tersenyum walaupun kedua tangannya masih berpegangan erat pada besi yang ada di dinding lift.
Selama penerbangan dari Denpasar menuju Jakarta, saya masih teringat peristiwa itu. Sepertinya saya harus meniru tindakan si ayah yang memaksa anaknya menghadapi ketakutannya. Saya harus memaksa diri saya menghadapi ketakutan-ketakutan yang saya rasakan. Mungkin hal-hal yang saya takutkan tidaklah seburuk yang saya kira bila saya berani menghadapinya.


June 4th, 2008 at 3:03 pm
Anak saya punya phobia terhadap semua jenis laba-laba, bahkan laba-laba kecil yang biasa di sekitar debu di pojok-pojok plafon atau belakang lemari. Orang Jawa menyebutnya “sawang”.Itu dialaminya dari kecil sampai mahasiswa. Padahal dia menyukai ular, kala jengking, serta binatang-bintang bernahaya lainnya. Dia juga tergabung dalam klub pawang ular.
Saya mencoba untuk mengingatkannya, bahwa apa yang ditakutkan sangat tidak logis. Masak dengan ular berbisa berani, dengan laba-laba yang ringkih dan mati dengan kita senggol saja takut.
Alhamdulillah, kemarin dia lapor bahwa sudah tidak takut lagi dengan laba-laba. Dia bercerita itu karena ingin saya juga berubah tidak takut lagi dengan ular.
Ular yang dipeliharanya, dan sering dimandikan atau di pegang-pegang katanya tidak berbisa. Saya dimintanya memegangnya atau mengelusnya. Katanya saya harus mengatasi rasa phobia saya. Saya tetap tidak atau belum berani. Bahkan dia akan membelikan saya dvd yang berisi bagaimana mengatasi phobia itu. katanya, tidak ada jalan lain selain bergaul dengan sumber phobia itu dan memakai logika bukan perasaan.
Saya sudah mulai berani melihat kalau dia bercengkarama dengan ularnya. Tidak seperti dahulu, kalau di layar TV ada tayangan tentang ular langsung saya pindah atau saya tutup mata saya. kata anak saya, saya harus berani mempelajari ular agar bisa membedakan mana ular yang berbahaya dan tidak. karena ular juga dibutuhkan untuk keseimbangan ekosistem, jadi tidak asal bunuh.Dan rumah kami memang masih dekat dengan semak yang bayak ular.
Salam kenal
ratih
June 7th, 2008 at 11:30 am
Lho, kok bisa satu lift lagi, memang liftnya itu di mana?
Hm, phobia takut menaiki lift atau takut menaiki pesawat terbang kebanyakan disebabkan oleh kecemasan berlebih (itu yang pernah kutonton di televisi), perlu step-by-step dan pembiasaan diri serta tidak perlu memaksakan diri, relax, dan cobalah semampunya, berulang, tidak hanya satu sesi, kalau memaksakan diri takutnya bisa berakibat fatal.
June 9th, 2008 at 8:10 am
Buat Mba’ Sunlita,
Tiga kali se-lift itu dalam jangka waktu 3 hari dan sehari itu bisa bolak-balik pakai lift.
Liftnya ada di hotel Mba’
Anyway, thank you banget buat masukannya.
Buat Mba’ Ratih,
Sekarang kan lagi musim baju batik dikenakan dengan ikat pinggang kalau Mba’ Ratih pakai baju yang seperti itu tapi ikat pinggangnya dari ular beneran keren loh Mba’
Just Kidding Mba’ jangan diambil ati ya.. Mudah2an sukses dengan ularnya, eh, maksudnya sukses mengatasi phobia terhadap ular.