dekat di mata (lebih) dekat di milis
Sekarang ini eranya teknologi canggih. Telepon genggam bukan lagi barang mewah. Bukan hanya sekedar menelepon atau mengirim pesan singkat. Mendengarkan musik dan mengirim emailpun bisa dilakukan. Orang menenteng-nenteng laptop bukan lagi pemandangan langka. Kalaupun laptop masih dianggap terlalu merepotkan, ada perangkat lainnya seperti PDA atau Blackberry.
Jalinan hubungan antar individu mengalami perubahan. Tak hanya di dunia nyata, menjalin pertemanan bisa dilakukan di dunia maya. Milis-milispun bermunculan. Ada milis yang dibentuk berdasarkan kesamaan hobi, profesi, tempat tinggal dan banyak lagi lainnya.
Sektor perumahan tempat saya tinggal juga punya milis. Isinya bermacam-macam. Mulai dari rencana pengalihan pengangkutan sampah dari pihak swasta ke pihak pemda, penawaran pembantu, isu seputar kenaikan iuran keamanan dan kebersihan sampai berita kelahiran dan dukacita.
Saya sedang berada di minimarket ketika secara tidak sengaja mendengar percakapan antara dua orang bapak dari balik rak.
“Eh, gimana kelinci loe?” tanya salah seorang dari mereka.
“Udah gue sebarin di milis tapi sampai sekarang belum ada yang nemuin kelinci gue tuh!”
Ingatan saya langsung melayang ke berita kehilangan yang saya baca di milis.
Telah hilang seekor kelinci warna putih belang coklat umur 3 bulan sudah bisa berlari-lari, kondisi sehat wal afiat. Hilang pada hari jum’at malam keluar kandang dengan sempurna, mohon apabila menemukan kelinci tersebut dapat memberi info ke kami di no. tlp….
Penasaran saya mengintip siapa yang sedang berbicara. Saya kenal dengan salah seorang dari mereka berdua. Berarti bapak yang ada di dekatnya adalah… Oalaahh… rupanya bapak inilah yang kehilangan kelincinya. Maklumlah, tinggal di pinggiran Jakarta, pagi-pagi sudah meninggalkan rumah, menembus kemacetan untuk bisa tiba di kantor. Tiba di rumah setelah matahari terbenam. Ketika ada acara kumpul-kumpul kadang terhalang kesibukan lain. Alhasil, wajah-wajah tetangga apalagi yang beda RT ataupun warga baru tak terekam dengan baik. Sampai sekarangpun ada beberapa yang namanya akrab di milis tapi wajahnya tak akrab di ingatan. Bisa jadi ketika bertemu tak sengaja entah dimana, kami tak bertegur sapa. Padahal di milis bisa sampai cela-celaan.
Mungkin kalau suatu saat nanti saya bertemu atau berdiri bersebelahan dengan Sal, Lia, Citra atau rekan SMO lainnya, tak akan ada tegur sapa. Yang ada hanya berdiam diri dan saling membuang muka. Siapa lu? Padahal kalau sedang mengomentari tulisan di blog belajarmenulis kaya’nya gak gitu deh..


August 13th, 2008 at 4:08 pm
kaya kita ya ta,,,,kl chat ampe berbusa dech,,,tp pas ketemuan sama2 jual mahal n jaga jarak,,,:D tp gw ngerti kok alasannya knp…hihihihi..
tulisannya keren,,,seperti biasa, loe bisa banget ngangkat tema yang simple jadi luar biasa,,,,
August 13th, 2008 at 5:59 pm
Dear Lita,
ada hal unik yang menarik dalam tulisan ini. Kisah-kisah simpel, tapi banyak bertebaran di sekeliling dan bisa dikemas jadi hal yang menarik, yang membuat pembaca berpikir, membenarkan, dan menyetujui tulisan kita. Kembangkan potensi anda untuk tulis hal2 seperti ini.
Kinoysan
August 15th, 2008 at 11:14 am
penutupnya itu loh, nyentil banget. “…Tiba di rumah setelah matahari terbenam. Ketika ada acara kumpul-kumpul kadang terhalang kesibukan lain. Alhasil, wajah-wajah tetangga apalagi yang beda RT ataupun ….” ini sih, 90 % penduduk bumi saat ini. yang masih mengaku manusia, tentunya.
hebat, gaya bertutur makin assoy. specialist “renungan” lebih cocok buat tulisan-tulisan lita.
tapi, klo ketemu sal dijamin langsung cair. dijamin deh.
August 18th, 2008 at 10:08 pm
Tulisannya cantik dan meniarik lh, mbak Lita. Betul kata Sal, bukan Lita namanya kalau tidak bisa membuat tulisan dari hal yang biasa menjadi menarik dan menyentuh.
December 5th, 2008 at 10:31 am
assalamu’alaikum Wr. Wb
Bagaimana cara menulis milis, apa langkah-langkah yang harus dilakukan saat menulis