DIA hadirkan lagi “seseorang yang istimewa” kepada kami
Masih ingatkah kejadian menghebohkan beberapa tahun lalu?. Ketika seorang bapak menggendong anak perempuannya yang sudah meninggal di dalam KRL tujuan Bogor?. Karena si Bapak yang seorang pemulung itu tak mampu membayar uang sewa mobil ambulance, maka beliau memilih untuk membawa anaknya dengan cara digendong.
Banyak pihak yang menyayangkan pihak rumah sakit yang tidak mau menolong si Bapak. Banyak pula yang lalu bersimpati kepada Bapak pemulung dan keluarganya, bahkan akhirnya ada orang yang mau memberi rumah dan pekerjaan kepada pemulung itu. Syukurlah kalau happy ending.
Mungkin kejadian itu kini sudah banyak dilupakan orang. Namun ternyata di luar sana, masih banyak sekali orang-orang miskin yang bernasib sama seperti bapak pemulung itu. Seringkali kutemui pemulung yang memang sehari-hari dia hidup dalam gerobaknya yang lusuh. Sambil mengasuh anak-anaknya yang masih kecil, mereka bekerja ke sana - kemari mencari barang-barang bekas. Seperti yang kulihat tadi malam, tepat di depan ITC Depok.
Kemarin sore aku pulang kantor naik KRL jam 17.18 dari Tanah Abang. Seharusnya aku turun di stasiun Citayam, tapi karena jalur KRL bojong gede mengalami gangguan karena terendam banjir, KRL berhenti lama sekali di stasiun Depok Baru.
Karena waktu magrib sudah hampir habis maka aku memutuskan untuk turun di Stasiun Depok Baru saja untuk sholat magrib terlebih dahulu sekalian nunggu suamiku janjian ketemu di sana. Setelah sholat Magrib sekalian nunggu waktu Isya untuk sholat Isya berjamaah di masjid ITC. Aku dan suamiku pulang, sebelumnya mampir di ITC dulu untuk beli jilbab.
Di Depan ITC Depok, kami menunggu angkot 05 . Hujan deras yang mengguyur kota Depok sudah mulai reda, tingal rintik-rintiknya saja. Tak sengaja mataku memperhatikan seorang pemulung dengan gerobaknya yang sedang berdiri di situ. Di dalam gerobak itu ada seorang anak perempuan yang kurang lebih berumur 4 tahun. 1/4 bagian gerobak itu untuk tempat duduk anaknya sementara bagian lain berisi barang-barang rongsokan seperti kaleng-kaleng, kertas-kertas, bungkus minuman bekas dan lain-lain. Dengan plastik yang dijadikan tutup kepala pelindung hujan, anak perempuan itu terduduk agak terkantuk-kantuk di dalam gerobak. Sang Bapak seperti sedang resah menanti sesuatu. “Yah… coba lihat ke sebelah kananmu..” kataku setengah berbisik pada suamiku. Suamiku menoleh dan langsung ‘ngeh’ dengan maksudku.
Dia berjalan ke arah bapak pemulung itu. Perlahan dia ajak ngobrol si Bapak sebentar, dan dia ulurkan uang ala kadarnya untuk sang pemulung. Bapak pemulung tampak ragu sejenak, lalu suamiku kembali mengulurkan uang itu kepadanya. Pak pemulung menerimanya sambil mengucap terimakasih. Melihat itu, anak perempuan yag tadi terduduk lemas di gerobak, sontak berdiri dengan riangnya. Dia ambil uang yang ada di tangan bapaknya, sambil loncat-loncat gembira.
Ada sesuatu yang berdesir di hatiku, ada setitik air yang keluar dari mataku. Mungkin sudah seharian anak perempuan itu belum makan, dan di bersorak gembira ketika sang bapak mendapatkan uang yang bisa mereka belikan makanan.
Sayang angkot 05 keburu datang, sehingga kami tak bisa banyak ngobrol lagi. Sepanjang perjalanan di angkot masih terlihat jelas di mataku ekspresi gadis kecil itu ketika menerima uang itu. Ketika hatiku masih tersiram gerimis karena kejadian itu. Terdengar suara suamiku perlahan “Bun, aku nggak bisa membayangkan kalau suatu hari kita jatuh miskin, trus kita tak punya apa-apa seperti bapak pemulung itu. Kesana kemari kita hanya membawa gerobak bersama anak-anak kita, kena panas, kena hujan , gimana ya Bun? ” Katanya berandai-andai.
“Bisa saja sih yah, nasib manusia kan hanya Allah yang tahu, makanya yah, mumpung sekarang kita masih mampu, maka sering-seringlah kita memberi kepada yang kurang mampu..” jawabku.
“Iya..insya Allah..” jawab suamiku.
“Insya Allah apa yang kita tanam, itu pulalah yang akan kita tuai di kemudian hari yah..” lanjutku. “Jadi misalnya, suatu hari nanti kita kesulitan, kalau kita terbiasa meringankan kesulitan orang lain, Insya Allah kita pun nanti akan Allah mudahkan..”
Obrolan sepasang suami istri ini terhenti ketika angkot sudah melewati stasiun depok lama. Saking asyiknya ngobrol sampai kami terlupa kalau harus berhenti di stasiun depok lama, untuk mengambil motor yang kami titipkan di sana.
Sambil menunggu suami di tempat penitipan motor, dalam hati aku bersyukur, kembali Allah hadirkan orang-orang istimewa seperti bapak pemulung tadi ke hadapan kami. Karenanya, kami bisa lebih banyak bersyukur, karenanya kami bisa membersihkan hati dengan gerimis yang membasahi hati ini, karenanya pula kami bisa kembali mengasah kepekaan hati yang kadangkala terasa kaku membeku. Terimakasih Allah…


August 23rd, 2007 at 3:35 pm
tipikal tulisannya mbak sya… selalu membuat pembaca merasa tersentuh dan mensyukuri hidup yang diberikan Allah SWT. Bravoo mbak…
eh pertanyaan saya kemarin ada komentarnya gak mbak?
August 23rd, 2007 at 4:08 pm
oh iya kikie, pertanyaannya sampe lupa, abis byk banget yg posting di blog ini ya sekarang,jadi postinganku yg sbelum2nya gak kubuka lagi…
yg cari bahan itu ya? aku dulu searching2 dan kebetulan abis baca salah satu artikel di koran yg ngebahas ttg konosuke matshisuta itu..jadi ya kutambah2in itu sbg bahan tulisan..
August 24th, 2007 at 1:13 am
tulisannya buat saya menangis Sya,