Dodooooll!!!
Aku bersama dua rekan kantor ditugaskan menyertai direktur kami ke Yogyakarta dalam rangka menghadiri acara Forum Komunikasi Ketransmigrasian yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi tersebut. Acara dua hari tersebut diadakan di Hotel Novotel, sehingga kami pun menginap di hotel tersebut. Ini kali kedua aku ke Jogja. Kunjungan pertama dulu sangat singkat sehingga aku tidak bisa puas mengeksplorasi sudut-sudut kota budaya itu. Makanya, ketika seminggu sebelumnya aku diberitahu mendapat tugas itu, aku bertekad untuk benar-benar menikmati perjalananku kali ini.
Namun, keberuntungan sepertinya belum berpihak padaku. Dua hari menjelang berangkat, aku terkena flu. Karena tiket sudah dipesan, aku nekat juga pergi walaupun dokter mengatakan, tekanan udara dalam kabin pesawat saat kami mengangkasa dapat membuat indera pendengaranku terganggu untuk beberapa waktu.
Benar saja kan. Perjalanan 51 menit dari langit sore Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Adi Sucipto, Yogya, menjadi perjalanan yang paling tidak nyaman untukku. Hidungku terasa kering, kepala berdenyut-denyut dan yang paling menyakitkan adalah rasa sakit di telinga seperti kata Pak Dokter. Menutupnya dengan tangan hanya sedikit membantu. Ingin mengenakan earphone mp3 player, ada di dalam tas di bagasi atas, yang sudah pasti akan bikin repot orang lain karena aku duduk di samping jendela. Permen yang diberikan pramugari juga tidak cukup membantu menghilangkan kekakuan yang menjalar ke rahangku.
Ketika akhirnya mendarat, syukur Alhamdulillah tak terkira kuucapkan dalam hati. Satu yang jadi masalah selain pusing yang memberati kepala, saat turun dari pesawat, telingaku seperti tersumbat lebah yang berdengung keras memberontak minta dikeluarkan. Mampet. Aku tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang direktur dan rekan-rekanku tanyakan atau katakan. Suara mereka seperti berjarak belasan meter, meskipun mereka berdiri sedepa dariku. Dan yang bikin kesal mereka malah menertawakan dan mencoba mensiasati komunikasi yang agak tulalit dengan berbahasa isyarat yang juga tidak kumengerti.
Aku cuma bisa bertanya “apaan, sih?!” untuk menanggapinya, yang ternyata lebih menyerupai teriakan sebab aku seperti kehilangan kontrol volume suara.
Setiba di hotel, kami hanya memiliki waktu dua jam untuk beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum acara malam dimulai. Segera saja aku mandi dan menyemprotkan air hangat ke kepala dengan harapan suhu panas akan menghilangkan dengungan di telinga dan pusing yang kuderita. Tapi, siksaan itu ternyata berkurang hanya sedikit saja.
Kegiatan malam itu dimulai dengan santapan ala prasmanan yang menunya adalah makanan tradisional. Ada gudeg, sayur lodeh, selat solo, pecel, soup timlo, dan lainnya yang aku tidak cicipi karena selera makanku anjlok ke titik terendah. Aku hanya makan sedikit nasi merah (yang jarang kutemui di Jakarta) dan gudeg, sebagai syarat untuk minum obat. Setelah makan malam, selanjutnya adalah acara rekaman dialog interaktif mengenai ketransmigrasian oleh TVRI Yogyakarta. Direktur kami bersama Bupati Kutai Timur (Provinsi Kalimantan Timur), dan seorang profesor ahli kependudukan dari UGM menjadi pembicara.
Diskusi yang sebenarnya seru, sama sekali tidak bersarang di otakku. Pengaturan posisi duduk oleh panitia yang menempatkan aku tepat di bawah AC membuatku kepalaku terasa semakin berat. Ketika akhirnya tak tahan, aku diam-diam menyelinap ke belakang dan duduk di sebuah kursi kosong dekat meja kopi. Deretan makanan kecil yang disediakan sebenarnya menggoda. Namun, malam itu aku tak mempan digoda apapun. Yang aku dambakan adalah suara MC mengumumkan usainya acara, hingga aku bisa segera kembali ke kamar, merebahkan diri dan memejamkan mataku yang penat.
Seorang rekan menghiburku dan meyakinkanku bahwa dengungan di telingaku akan hilang jika tubuhku sudah beradaptasi dengan tekanan udara yang normal lagi.
“Tidur aja. Kalau kita tidur tubuh kita kan rileks, pas bangun besok pagi juga hilang dengungannya.” Begitu teorinya. Aku sungguh berharap dalam hati, teorinya benar.
Malam itu aku pun tidur dan tidak mempedulikan night tour rekan-rekanku. Namun, esok pagi yang kurasakan bukanlah hal yang sama dengan harapanku. Kedua telinga ini masih berdengung.
Aku pun menyerah dan memilih pasrah dengan kondisiku. Saat sarapan bersama di restauran hotel, aku memilih menghabiskan bubur ayam tanpa berkata apapun. Agar sopan, aku pasang wajah serius pura-pura mendengarkan pembicaraan orang-orang di sekitarku. Sungguh, aku ingin sesegera mungkin meninggalkan meja yang mulai tak nyaman karena beberapa dari kami menjadikan rokok sebagai dessert.
Untunglah, save by the bell, ponselku bernyanyi. Aku jadi punya alasan meninggalkan meja untuk menerima telfon demi kesopanan.
“Hallo?!” Sapaku sambil berjalan menuju lobby hotel. yang dikelilingi kaca tembus pandang ke taman dalam dan kolam renang.
“Pagi non!” Mas Didik, ahli IT yang perusahaannya pernah menjadi rekanan kantorku, balas menyapa.
“Pagi juga. Tumben nih pagi-pagi telfon.” Aku menekan-nekan telingaku bermaksud mengurangi dengungan di dalamnya.
“Iya nih, aku baru bangun, terus inget kamu, ya udah aku telfon.”
“Walah, isteri sendiri ga diinget, kok isteri orang diingetin terus!”
Kami tertawa.
Aku menjatuhkan tubuhku di sofa lobby yang menghadap taman.
“Aku mau tanya tentang proposal yang kamu ceritain kemarin, sudah dikirim ke emailku belum?” tanya Mas Didik.
Aku sadar, wajar Mas Didik menelefonku pagi begini. Dua hari yang lalu aku memang menelefonnya membicarakan kemungkinan kerjasama perusahaannya dengan temanku yang akan membuka cafe buku.
“Ehm, aku mesti tanya temanku dulu. Kemarin sih di bilang mau langsung kirim ke email Mas. Memangnya belum ada?”
“Aku juga belum ngecek sih. Semalam pulang langsung tidur. Capek banget abisnya.”
“Memang abis ngapain? Mengingat-ingat isteri-isteri orang terus sih,” ledekku.
“Enak aja, emangnya aku suami apaan!” serunya, tidak terima. “Aku baru pulang dari Palembang semalam, tahu!”
“Oh ya? Kok ngga bilang?! Berapa hari di sana?” Aku sebal baru mendengarnya sekarang.
“Seminggu. Ada tender sistem informasi. Perusahaanku ikutan.”
Mendengarnya aku jadi meradang. Berarti saat aku telefon dua hari yang lalu dia masih di Palembang dong!
“Begitu ya, waktu aku telfon kemarin ngga bilang kalo lagi di Palembang! Takut dimintain oleh-oleh ya!” protesku.
“Iya!” Dia tertawa terbahak.
Aku menggeram. Kesal. Orang ini kan sebenarnya sangat tahu kesukaanku akan mpek-mpek.
“Dasar pelit!” makiku tak serius.
“Biarin aja! Abis ngga kamu, ngga temanku yang lain, kalau tahu aku ke luar kota pasti otaknya penuh dengan daftar apa aja yang harus kubawa buat oleh-oleh. Males banget kan, bikin berat bagasi aja. Makanya ngga aku kasih tahu”
Aku mendengus.
“Udahlah jangan ngambek. Ntar kalau sempat mampir ke kantor kamu, aku beliin mpek-mpek Pak Raden yang di Pasar Minggu aja, Ok?” tawarnya menghibur kecewaku.
Mendengar ucapannya aku tertawa. Berarti dia ngga tahu kalau aku ngga di Jakarta. Kilat pun kalah kecepatannya dengan ide jahil yang mendadak muncul di benakku.
Setelah membicarakan lagi sedikit rencana proposal temanku, dia pun akhirnya menyampaikan kalimat penutup.“Ya sudah, Rin… Nanti aku cek emailku dulu. Abis itu kita bahas lagi, Ok?”
“Ya!… Tapi..,” Aku berusaha menggantung percakapan kami. “Tapi kan kalau aku tahu kemarin itu Mas Didik di Palembang, aku kan telfonnya ngga lama-lama. Kan sayang pulsaku untuk interlokal,” Sambungku.
“Halah, gayamu, Nak!” celanya. “Kamu kan waktu itu telfon dari nomor kantor! Memang sejak kapan kantor kamu jadi wartel yang nagih bayaran kalau pegawainya pakai telfon?!”
Kami tertawa panjang.
“Ya udah, nanti kamu aku kabari ya,” kata Mas Didik menutup babak tawa kami.
“Iya. The last one nih!” seruku. “Tahu ngga, aku kan sebenarnya sekarang lagi di Jogja.”
Kalimat terakhirku sebenarnya sangat lembut dan nyaris berbisik. Tapi dampaknya lumayan dahsyat. Buktinya serapah keluar juga dari mulut laki-laki itu.
“Dodooool!… Ludes deh pulsa gue!!!”
Tawaku pecah lebih keras. Tak peduli aku dengan orang-orang di sekitar yang menatapku. Yang penting bagiku adalah rasa puas membalas “dendam” pada Mas Didik.
Tepat dengan redanya tawaku, kulihat rekanku yang menyuruhku tidur semalam, datang menghampiriku.
“Gimana? Masih sakit?”
Sakit?
Aku mendekap telingaku seperti tersadar dari mimpi. Dengungan yang menggangguku telah hilang!
“Ngga tuh! Udah normal!” Aku berseru senang.
“Nah, bener kan saya bilang! Kalau dibawa tidur, pasti hilang!” Rekanku tampak bangga dengan resepnya.
Tinggal aku yang tersenyum sendiri. Tidak tahu apakah teorinya memang benar atau serapah dodol Mas Didik tadi yang menyembuhkanku. Yang jelas, aku bersyukur pendengaranku normal kembali. Dan rasanya, semua suara yang mampir ke telingaku terdengar lebih jernih kini.
——

