Don’t judge a doctor by the story
Deg-deg-an! Itu yang saya rasakan ketika pagi itu saya mengunjungi dokter kandungan untuk pap smear. Dokter ‘langganan’ saya sebelumnya adalah seorang wanita. Karena satu dan lain hal saya terpaksa ‘berpindah dokter’. Acara ‘pindahan’ ini yang membuat saya dag dig dug tidak karuan.“Memangnya kenapa kalau dokter kandungannya laki-laki?” tanya teman saya. “Gue sih lebih suka dengan dokter laki-laki. Lebih sabar, lebih bisa bersimpati dan menunjukkan empatinya. Belum lagi ada bonusnya.”
“Bonus apa?” tanya saya heran.
“Lahhh.. kalau dokternya ganteng apa bukan bonus namanya?” Saya hanya bisa cengar-cengir mendengar jawabannya.
Masalahnya dua orang teman dekat saya mempunyai pengalaman yang bertolak belakang yang mereka alami dengan dokter yang akan saya datangi ini. Teman saya yang satu mempunyai pengalaman ‘tidak enak’. Begitu ‘tidak enaknya’ hingga menyebabkan trauma. Sampai-sampai ia mewanti-wanti saya untuk tidak memilih dokter itu.
“Pokoknya jangan ke dokter itu deh..” begitu pesannya. “Gak enak, gak beres, udah gitu belagu lagi!”
Sementara teman dekat saya yang satu lagi justru mempunyai pengalaman mengesankan. Pujian meluncur dari mulutnya ketika menceritakan dokter itu. Dia itu sabar banget. Bisa berempati. Tau bagaimana caranya menenangkan pasien. Bla.. bla.. bla.. Bisa dikatakan bahwa bagi teman saya, he is the best of all.
“Udah deh, loe ke dokter itu aja,” begitu pesannya.
Jadilah saya yang bingung menentukan pilihan. Sebenarnya ada dokter lain tapi terhadap dokter lain ini justru saya yang merasa ‘tidak sreg’. Akhirnya setelah menimbang-nimbang saya memutuskan mengikuti saran teman saya yang kedua.
Ternyata… Saat masuk ke dalam kamar periksa, saya bertatapan dengan seorang dokter yang tersenyum ramah. Usianya sudah tak lagi muda. Mungkin sekitar limapuluh tahun. Melihat raut wajah saya yang tegang, ia tidak bertanya maksud kedatangan saya. Dia malah mengajak saya mengobrol. Ia memperkenalkan dirinya diselingi dengan canda tawa. Pertanyaan mengenai maksud kedatangan saya diselipkan diantara topik obrolan. Setelah dilihatnya ketegangan di wajah saya sudah mengendur, barulah dia mengajak saya ke ruang pemeriksaan. Ketika dilihatnya wajah saya kembali tegang, canda dan obrolan-obrolan ringan terlontar dari mulutnya. Lengkap dengan bujukan-bujukan.
Setelah selesai, dokter itu tidak langsung menyudahi sesi pemeriksaan. Dia mempersilahkan saya bertanya hal-hal yang ingin saya tanyakan. Bukan hanya yang berkaitan dengan pap smear tetapi juga diluar itu. Dengan sistematis dia menjawab pertanyaan saya.
Ternyata dia tidak menyeramkan seperti cerita teman saya yang pertama. Yahhh… dokter juga kan manusia. Tidak luput dari kesalahan. Pernah melakukan kesalahan bukan berarti selamanya salah kan?


August 15th, 2008 at 4:45 pm
hmmm, selamat. anda telah mendatangi dokter yang tepat. dokter itu, ternyata sal banget ya…..
sabar, penyantun, humoris, pandai menyelami hati pasien, tahu kapan harus bicara serius, dan terpenting lagi nih, telaten.
cara kerja otak memang begitu, selalu menomorsatukan apa yang dibilang “katanya”.
kesan pertama, cukup 3 detik dan akan mebekas selamanya di otak. butuh pembuktian khusus untuk menghancurkan kesan pertama ini. sal sendiri pernah di goblog-goblog-in orang gara-gara mau jahitin celana, ukurannya celana (contoh) tertinggal. trus, sal ga mau diukur langsung. buntutnya, si tukang jahit geleng kepala.
“ngapain loe datang kemari, klo harus ngandelin contoh celana yang udah jadi” ups, kacau memang. hal ini terjadi gara-gara sal pernah diukur langsung sama penjahit yang lain sebelum ini, setelah jadi celana. eh, kedodoran. belum tentu seluruh tukang jahit salah ukur kan?
sip, muantabbbbb (b-nya lima tuch)
lagi-lagi, bukan lita namanya klo tulisannya tidak nyangkut di relung pemikiran.
August 20th, 2008 at 1:37 pm
Dear Lita,
saya senang dengan tulisan ini. Simpel penyampaiannya dan bukan lagi seperti orang yang membaca, tapi mendengar langsung dari penuturnya. Cerita2 seperti inilah yang sebenarnya sangat ditunggu2 pembaca. Gaya tuturnya dan juga isinya.
August 20th, 2008 at 5:19 pm
Thanks atas komentar dan masukannya. Mudah-mudahan saya bisa lebih baik lagi.