Dua pintu
Apa perbedaan antara Rumah Sakit International dengan Rumah Sakit ‘Biasa’ tanpa ada embel-embel internasional? Mungkin yang paling mudah dilihat adalah bangunannya. Yang pertama lebih mentereng dan lebih mewah.
Memasuki Rumah Sakit Internasional rasanya seperti memasuki mall atau hotel. Di lobby utama ada petugas yang siap membantu membukakan pintu setiap mobil yang berhenti. Pintu lobby pun dilengkapi dengan sensor yang menyebabkan pintu bergerak membuka dengan sendirinya.
Melewati pintu lobby biasanya akan dijumpai beberapa gerai. Mulai dari roti-roti dan kue, buah-buahan, mainan, majalah sampai salon! Sungguh menggelitik rasa ingin tahu saya. Siapa gerangan yang berkunjung ke salon itu?
Semuanya tampak teratur. Bersih. Nyaman. Petunjuk mudah di jumpai. Petugas siap memberikan informasi dengan sigap. Tanpa nada judes. Tanpa wajah merengut. Namun semua itu ternyata masih belum cukup mencegah saya mengalami kejadian seperti ‘Kabayan Saba Kota’.
Hari itu saya bermaksud menjenguk tetangga yang di rawat inap. Setelah bertanya di bagian informasi, petugasnya dengan ramah memberitahukan bahwa tetangga saya itu di rawat di lantai empat. Walaupun katanya menggunakan tangga lebih sehat, saya memilih menggunakan lift.
Begitu masuk ke dalam lift dan bermaksud memencet tombol angka empat… Lohh… kok tidak ada angka empat? Yang ada hanya tombol bertuliskan basement, lobby, angka dua dan angka tiga. Sialnya di dalam lift itu tidak ada orang lain. Bingung bercampur heran akhirnya saya memutuskan menekan angka tiga.
Ketika pintu lift membuka di lantai tiga saya melangkah keluar. Celingak-celinguk. Sepi. Hening. Tak ada orang yang bisa saya tanya. Akhirnya saya memutuskan kembali ke lobby.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu lift di hadapan saya terbuka. Tampak di dalamnya seorang yang mengenakan jas dokter berusia setengah baya tersenyum ramah. Mungkin melihat ekspresi kebingungan di wajah saya dia menyapa,
“Mau ke lantai berapa mbak?”
“ke lantai empat,” jawab saya.
Sigap ia membalikkan badan, bergerak ke arah belakang dan.. menekan angka empat yang ada disana!
Oalahhh.. Lift itu ternyata mempunyai dua pintu. Pintu lift di dekat tempat saya berdiri saat itu akan membuka di lantai basement, lobby, lantai satu sampai lantai tiga. Sedangkan pintu lift di seberangnya akan membuka di lantai empat sampai lantai enam.
Untunglah yang ada di dalam lift itu dan melihat muka saya yang memerah karena malu adalah seorang dokter. Coba kalau Salwangga. Bisa-bisa saya diledek habis-habisan.


July 4th, 2008 at 12:47 am
Wuakakakakakakakakakakakakakakakakakakakakak!! Aduh, maap, kok saya malah ngakak.. he he he, abisnya lucu sih.. gak kebayang juga gimana kalo Salwangga yang ada di sana.. pasti usil deh..
Ngomong-ngomong, RS di mana tuh ya?
July 4th, 2008 at 9:41 am
ah, belum tentu juga. sal ini sebenarnya baik hati dan tidak sombong. suka menolong.
terkadang usil ataupun iseng, itu terjadi kalau pas keseleo urat jahilnya doang koq.
tapi, mungkin nih ya. kalau saat itu saya jadi office boy dan ketemu lita lagi kebingunan gitu paling cuma bilang :
“loh mbak, di loby tadi ada topeng monyet gak jadi show. gara-gara ada yang lepas satu. kabur, gak mau mentas lagi karena belum dikasih pisang. embak koq malah disini?”
(ups, ngumpet ah. tar kena tampol tas lagi)
July 4th, 2008 at 10:11 am
TKP dirahasiakan demi alasan solidaritas. Maksudnya supaya jangan hanya saya sendiri yang mengalami kejadian seperti itu
Thanks buat komentarnya.
July 4th, 2008 at 1:18 pm
@Sal: masalahnya keselo muluu sih Sal! Ha ha ha, ke tukang urut dooong..
@Lita: Hahahahahahaha, harus berhati-hati kalau naik lift nih sekarang..
July 7th, 2008 at 8:10 pm
ha…ha mba lucu, sy sampe cekikan sendiri termsk baca comen2 nya salam kenal, sy Ranny SMO 3, sampai hr ini blm bs nulis jg, maklum pemula bgt
July 19th, 2008 at 6:34 pm
Mbak Lita, aku nyesel deh barubaca sekarang. Seminggu yll, aku kesebuah rumah sakit mau jenguk keponakan yang sakit. Kaminaik dari lantai 1 yang liftnya punya dua pintu. Waktu pintu terbuka, aku langsung saja ke belakang (kebiasaan naik bus, selalu disuruh kondektur kebelakang yang kosong). DIbelakang itu juga ada pencetan lantai, aku pencet-pencet, kok gak nyala-nyala lampunya. Pencet-pencet lagi, akhirnya aku bilang sama suami, “lampunya mati kali nih, kok gak nyala”. Suami bilang, “Yang ini nyala. Klo itu memang gak bisa, karena dilantai 4 gak ada pintunya kearah belakang”. Wah, aku kaget buaanget, (maluuu deh). Padahal aku dah sering kesana, tapi kenapa masih kamseu (kampungan gitu deh…). Untung saat itu cuma kami berdua saja didalm lift dan pula suamiku gak tukang usil, jadi aku gak malu-malu amat.
Salam
Lia
August 6th, 2008 at 9:15 pm
Hehehehe:)