Episode duka
“Ampuunn Mas… Ampuunn…” rintihnya. Berikutnya kudengar teriakan kesakitan dan bunyi benturan.
Suara perempuan dari balik tembok pemisah rumah tertangkap jelas di telingaku. Membuat hatiku basah oleh gerimis iba. Kulirik jam dinding. Jam sepuluh malam. Seharusnya aku sudah bisa membaringkan raga yang lelah ini. Menikmati keheningan dan kesunyian, berdialog dengan diri sendiri sampai akhirnya mataku tak lagi bisa menolak undangan kantuk. Untuk kesekian kalinya aku dipaksa oleh keadaan mendengarkan satu babak drama kehidupan.Suara-suara yang mendirikan bulu romaku itu sudah beberapa kali menghiasi malam-malam yang kulalui. Tepatnya sejak pasangan muda dengan satu orang anak laki-laki menempati rumah di sebelah yang ditinggal penghuni sebelumnya yang tak ingin memperpanjang masa kontrak.
Herannya walaupun malamnya baru saja mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, tak tampak raut sedih atau tertekan di wajah Mbak Nur, begitu biasa tetangga sebelahku itu disapa. Paginya ia masih mengantarkan suaminya hingga masuk ke dalam mobil. Tidak lupa mencium tangannya dan mengiringi dengan lambaian tangan hingga mobil yang dikendarai suaminya menghilang di tikungan jalan.
Duhai.. terbuat dari apakah hati wanita itu? Hingga masih bisa menyunggingkan senyum di bibirnya yang kadang tampak memar dan bengkak. Tak terbayangkan sakit yang di deritanya ketika bagian-bagian tubuhnya menerima perlakuan kasar dari seorang laki-laki yang tubuhnya jauh lebih besar dan tenaganya lebih kuat.
Mungkin mereka dulu menikah bukan atas nama cinta. Mungkin pula yang bicara adalah pertimbangan logika. Namun tidakkah kebersamaan yang terjalin seiring perjalanan kereta waktu melahirkan rasa kasih dan sayang di antara mereka?


July 9th, 2008 at 2:22 am
Hanya satu kalimat yang menurut saya mengganjal: “Tepatnya sejak pasangan muda dengan satu orang anak laki-laki menempati rumah di sebelah yang ditinggal penghuni sebelumnya yang tak ingin memperpanjang masa kontrak.”
he he he, apa hubungannya nih sama yang dulu mengontrak di sana? saya pikir ada dibawa-bawa juga, ternyata tidak.
July 9th, 2008 at 9:10 am
Iya juga ya… hehehe.. maksudnya sih cuma mau menjelaskan bahwa rumah di sebelah itu ditempati penghuni baru. Gitu aja. Anyway, tahnks buat komentar dan kritiknya
August 6th, 2008 at 9:13 pm
Belum selesaikah cerita ini? Berbeda rumah, apakah cukup untuk dengar semua adegan dan teriakan penderitaan si perempuan? Masalahnya, anda nggak ngejelasin rumahnya seperti apa, kondisinya seperti apa.
Rumah saya berdekatan kiri kanan sama tetangga, tapi lost nggak ada denger orang marah2 atau teriak, karena semua terdinding dengan pagar2 tembok menjulang tinggi.
Dan rasanya aneh tokoh yang baik di sini sebagai tokoh utama cuman pasif, tahu ada perempuan teraniaya tapi nggak bangkit untuk ngebantu.
Pertanyaan saya bukan lagi perempuan itu terbuat dari apa, tapi hati tokoh utama yang mau anda jadikan sosok yang dicintai pembaca ini di mana? Nggak jelas karakternya.